LAST GOAL!: “Kami Ingin Lebih Eksperimental!”

Usai pemanasan lewat perilisan album “Back In Time Black Edition” yang disertai 10 video musik sebagai identitas baru, Last Goal! pun semakin mantap melangkah ke konsep baru yang lebih fresh sekaligus sedikit eksperimental. Sebuah single baru bertajuk “Apologize” telah mereka letupkan sebagai peringatan, lengkap dengan video musiknya juga. “Apologize” memang terdengar sangat berbeda dibanding materi

MODERNHEADS: “Garage Rock Revival 2000an Seru!”

Didasari niat menggeliatkan kembali musik garage rock revival di Surabaya, Jawa Timur dan Indonesia, sekaligus untuk menancapkan eksistensi di skena, Modernheads meluncurkan single perkenalannya, yang bertajuk “Modern Junk Art”. Modernheads sendiri baru dicetuskan kelahirannya pada awal 2020 lalu. Formasinya diperkuat para musisi kawakan yang telah malang melintang di skena musik lokal di Surabaya. Erwin Darmawan

DEAD VERTICAL : “TV Pembodohan” Adalah Salah Satu Lagu Terkuat di ‘XVII’.”

Menandai tepat setahun usia perilis album “XVII”, trio grindcore modern asal Jakarta ini meluncurkan sebuah video lirik dari salah satu lagunya yang bertajuk “TV Pembodohan”. Ya, sesuai judulnya, karya rekaman satu ini memang ingin menyoroti kebobrokan tayangan di televisi nasional, dimana masih banyak menjajakan kebohongan, setingan berwujud ‘reality show’ serta kepalsuan-kepalsuan lainnya. Pesan utama dari

LIARLIAR: “Kami Terinspirasi Semangat Kelompok Penerbang Roket.”

Lewat perilisan single perdananya, “Masa Muda Sia-Sia”, unit alternative rock asal Bekasi ini secara resmi meletakkan batu pertamanya menuju perilisan album mini (EP) debutnya yang rencananya segera dirilis. Tentang lirik “Masa Muda Sia-Sia” sendiri bercerita tentang pemuda yang banyak menghabiskan masa mudanya hanya untuk kesenangan sesaat. Proses rekaman “Masa Muda Sia-Sia” dimulai Liarliar sejak awal

Album Debut dan “The Best of ROTOR” Dirilis dalam Format Kaset

Untuk kedua kalinya, album rekaman metal fenomenal “Behind the 8th Ball” karya Rotor pada 1992 silam kembali dirilis ulang. Setelah diluncurkan dalam format cakram padat (CD) oleh label Zim Zum Entertainment pada 10 November 2018 lalu, kini giliran label independen RabonSick Records yang mengemasnya kembali. Tapi kali ini hanya dalam format kaset. Selain itu, RabonSick

BROKEN CULTURE: “Kami Menggabungkan Slipknot, Burgerkill dan Beside.”

Enam tahun tanpa karya tidak menghentikan laju unit metal asal Bandung ini. Dengan wajah serta konsep musik yang baru, Broken Culture menancapkan kembali eksistensinya lewat single enerjik bertajuk “Darkness”. Formasi terbarunya, yakni Muhammad Gilang Rizky Taohid (gitar), Willy M. Ilham (bass), Putra Nurfajri (gitar), Eka Ginanjar (dram) dan Doni (vokal) melebur tiga pengaruh kuat dari

MAKE YOUR TIME HOWL: “Grafik Metalcore Itu Lebih Berwarna.”

Satu lagi unit metalcore berusaha menancapkan kehadirannya di skena musik keras Tanah Air. Datang dari Balikpapan, Kalimantan Timur, band ini mengawali gebrakan awalnya lewat single “Konspirasi Fana”, sebuah lagu yang menyoroti ketakutan-ketakutan yang bermunculan akibat Covid-19 selama tujuh bulan terakhir. Sebuah peristiwa yang menggemparkan seluruh umat manusia dan bahkan menimbulkan banyak teori yang menyebut virus

AMEL D: “Inspirasi Musik Saya Datang dari Mimpi.”

Nama solois rock wanita ini, mendadak jadi perhatian luas ketika melepas single bertajuk “I’m Your Rain”. Lagu berlirik Bahasa Inggris tersebut berkibar-kibar di berbagai layanan streaming, lalu diam-diam menerobos hingga ke mancanegara dan menjadi perbincangan banyak media asing. Jika menelusuri info Amel D dan “I’m Your Rain” di mesin pencarian Google, maka akan ditemui deretan

MORE THAN HELLENA: “Bisa Dibilang (Kami) Metalcore dengan Sentuhan Modern”

Dengan konsep yang lebih disederhanakan, dimana kecenderungan progressive metal perlahan digiring ke pola-pola metalcore yang lebih mudah dinikmati, unit cadas asal Bali ini melahirkan single terbaru yang bertajuk “Life Cycle”.   “Bisa dibilang metalcore dengan sentuhan modern. Seperti lagu (band) Northlane di album ‘Mesmer’, Erra serta sentuhan metalcore Wage War, Fit For A King. Sebenarnya

HUMINOID: “Kami Bereksperimen Lebih Jauh dari Sebelumnya!”

Dari kawasan paling utara Pulau Sulawesi, sambutlah talenta cadas yang cukup berbahaya ini. Lewat karya demo bertajuk “All Hell Broke Loose” yang telah mereka tebarkan, Huminoid mencincang kuping pendengarnya dengan rakitan metal yang melebur berbagai gaya, tanpa kekhawatiran sedikit pun untuk melanggar batasan. Intinya, mereka tak ingin terpaku pada gaya tertentu.  Huminoid yang dibentuk di

HUMILIATION: “Tak Ada Salahnya Masukkan Instrumentasi Tabu di Death Metal.”

Lupakan gemuruh distorsi sejenak. Masih dari materi album studio ketiga mereka, “Karnaval Genosida”, unit cadas asal Bandung ini nekat menyuguhkan sesuatu yang sungguh ekstrim. Sebuah video musik dari lagu “Harmoni Tanpa Nyawa” telah mereka rilis, dimana ramuan aransemennya 100 persen lepas dari kebuasan death metal. Dengan pendekatan aransemen yang baru, Humiliation menyuntikkan nuansa swing jazz

Setelah Vakum, GIVE FOR NIGHT Siapkan Album yang Lebih Metalcore

Untuk menjembatani antara album mini (EP) ke materi album penuh pertamanya, unit metalcore asal Surabaya ini pun meluncurkan single “Distraction” sebagai pemanasan, setelah vakum selama setahun. Di single tersebut, Give For Night ingin menonjolkan aura metalcore yang lebih kental dibanding single-single sebelumnya.  Give for Night merekam “Distraction” pada 2018, namun berlangsung hingga Agustus 2019 lantaran

Eksklusif: Sambutlah Trio SUPERLOVE yang Kaya ‘Breakdown’

Bayangkan… jika bait-bait pop di grup 1975 dipadukan dengan patahan-patahan (breakdown) gitar a la Bring Me the Horizon. Seperti apa hasilnya? Bisa jadi trio asal Bristol, Inggris inilah jawabannya. Superlove yang dihuni Jacob Rice (vokal/bass), Jon Worgan (gitar/vokal) dan Alex Matthews (dram) ini benar-benar hadir lewat ramuan musik segar yang mengentak. Mereka menyebutnya ‘noise pop’,

GERILYA Kembali Tancapkan Kengerian Death Metal

Pejuang death metal asal Kota Singkawang, Kalimantan Barat ini masih melanjutkan gerilyanya di skena musik keras, sejak terbentuk pada 2011 silam. Di tengah masa pandemi ini, Gerilya telah menancapkan kengerian baru lewat single bertajuk “Treatise of Mashiach”, dimana mereka mencecar konsep distorsi keras dan buas hasil serapan dari beberapa band dunia panutan mereka seperti Nile,

ERYA Terapkan “Korosi” Berkonsep Metalcore/Djent Virtual

Duo ini unik. Mereka belum pernah bertemu di dunia nyata, bahkan terpisah provinsi dan pulau. Berkat koneksi internet, kehausan untuk berekspresi di jalur musik cadas akhirnya mempertemukan keduanya. Hasilnya, adalah sebuah single bertajuk “Korosi”, yang menjadi titik awal kolaborasi mereka. Penyatuan Erixon Sihite (dram/vokal/synth) dengan Arya Akbara (gitar/bass/vokal), yang lantas sepakat mengibarkan nama ERYA, diawali

Imajinasi TRODON dan Kegagahan Penunggang Naga

Dengan kendaraan rock berkontur progresif, kuartet asal Jakarta ini selalu berusaha menyuguhkan komposisi musik instrumental yang diharapkan bisa  membawa imajinasi pendengarnya. Trodon telah memulainya lewat single “Khalamith” yang telah diluncurkan pada 14 Agustus 2020 lalu. Dan kini, sebuah karya rekaman baru bertajuk “Dragon Rider” kembali menerapkan formula tadi. Single yang diciptakan pada 2017 lalu tersebut,

Menolak Terpasung Pandemi, KILMS Lepas “Overdose”

Tiga personelnya berada di Kalimantan. Satu di Jakarta. Terpisah oleh deraan pandemi yang berlarut-larut. Tapi tak ada kata berhenti. Teknologi internet adalah solusi untuk terus berkarya. Lewat single terbarunya, “Overdose” (Anoixi Records), KILMS membuktikan tak ada yang tak mungkin untuk terus menyalurkan kreativitas. Walau terpisah jarak, proses penggodokan lagu tetap berjalan. Bahkan sekaligus dengan eksekusi

Kisah Horor OCEAN di Balik EP “Nehemyah”

Perjalanan gelap mencekam dari unit metalcore/djent asal Surabaya ini akhirnya bermuara di perilisan album mini (EP) debut bertajuk “Nehemyah”. Sebelumnya, Ocean sudah merapalkan dua single penuntun berjudul “Misguided” dan “Barzakh”. Kini di EP tersebut, ada tambahan tiga trek berjudul “Altercation”, “Remorse” dan “Basilisk”, yang keseluruhan dirilis via label Insting Creative Lab.  “Nehemyah” sendiri merangkum kisah

“Art of Love” dan Semangat Cadas JUMPERFI

Salah satu band yang pernah berkontribusi di album kompilasi “Musikeras Cracked It!” rilisan Musikeras/Locker Media dan Demajors Records pada 2018 lalu ini, kini hadir lagi dengan single baru… dan ya, juga formasi baru. Tepat 1 Oktober 2020 lalu, JumperFi telah melampiaskan “Art of Love”, single yang mereka produksi secara independen, dan bekerja sama dengan distributor

EXCROWDED Lepas dari Keterpurukan “Under The Trapped”

Pejuang hardcore asal Malang, Jawa Timur ini menyebut kehadiran mereka sebagai nafas baru yang mampu memberikan warna untuk skena hardcore independen di kotanya, lewat paduan gaya oldschool dan modern. Sebuah formula yang telah mereka tandaskan lewat album “Self Control” rilisan Juni 2020 lalu, serta sebuah visualisasi dari single “Under the Trapped” yang telah tayang di

Formasi Baru SOUL OF BROKEN Maksimalkan Emo/Metalcore

Dengan formasi baru, unit emo beraroma metalcore asal Jakarta Timur ini telah memantapkan diri menuju perilisan album mini (EP) pertamanya. Belum ditentukan kepastian tanggalnya, tapi saat ini keseluruhan prosesnya telah rampung, tinggal menunggu proses menuju distribusi di berbagai platform digital. Sebagai gebrakan awal, Soul of Broken pun meluncurkan video musik untuk single terbaru bertajuk “Hopeless”,

Akhir Perjalanan Karir VAN HALEN yang Menyesakkan

Sekitar sembilan bulan lalu, tepatnya 10 Januari 2020, MUSIKERAS pernah menyuguhkan artikel bertajuk “Karir Van Halen Tamat?”.  Kecemasan kami di artikel tersebut ternyata kini sungguh-sungguh terjadi. Selasa pagi 6 Oktober 2020 lalu, motor penggerak utama band tersebut, Eddie Van Halen menghembuskan nafas terakhirnya setelah selama beberapa tahun belakangan berjuang melawan kanker tenggorokan dan paru-paru yang

‘Panggilan Kehampaan’ KLIF di Single “Call of the Void”

Lewat single terbarunya itu, unit rock bernuansa lawas asal Yogyakarta, Klif terpanggil untuk menyatakan keberadaannya, bugar dan menolak tergolek tanpa karya meski pandemi membuat industri dan skena musik di Indonesia babak belur. Sebelumnya, Klif yang diperkuat formasi Kaka Fajar Permana (bass), Satya Windriya (vokal/gitar), Gabriel Garda (gitar) dan Dennis Eliezer (dram) sempat vakum selama dua