MULTATULI, Penyatuan Kebebasan Rock, Pelibas Kepedihan

Pijar musik Multatuli menyasar banyak genre, mulai dari rock, blues, funk, grunge dan bahkan reggae. Dan sesuai namanya yang diambil dari juru pena berkebangsaan Belanda, Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker (1820 – 1887) – terkenal dengan karya novel satir bertajuk Max Havelaar (1860) – yang dimaknai sebagai ‘rasa kepedihan yang telah dilalui’. Dengan harapan, lewat musiknya, Multatuli bisa membawa rasa ‘pedih’ yang ada untuk diangkut bebas ke lautan lepas hingga kepedihan bisa sirna.

Nah, lewat garapan musiknya di album bertajuk “Satire” yang telah didahului dengan peluncuran single “Mercufana”, Multatuli mengedepankan konsep sebagai pengingat yang lahir kembali di era modern, yang sebelumnya membawa spirit Multatuli atau Douwes Dekker di era perjuangan.

Proses penggarapan rekaman album tersebut mulai digarap Danurseto “Seto” Brahmana Adi (gitar), Andri “Nyong” Widiasmara (bass) dan Rohmad “Omet” Nugroho (vokal) pada Januari 2017 lalu, dimana bahan-bahan lagu sudah dipersiapkan sebelumnya. Saat menjalani proses tersebut, Seto sepenuhnya memegang kendali pengarahan musik, sementara Andri dan Omet mengolah penuturan lirik.

“Lagu per lagu di garap dalam studio latihan, hingga dapet feel-nya. Pada musiknya, Multatuli lebih ke arah luas, tidak mengotak-kotakkan genre musik. Pada liriknya, Multatuli ingin menyajikan kritik yang nyata untuk siapa saja yang mendengar,” urai pihak band kepada MUSIKERAS.

Kendati tidak memusingkan masalah pendefenisian corak musik, namun tidak bisa dipungkiri Multatuli berpijak kuat pada akar rock. Olahan musik mereka terekat kuat oleh referensi musik ketiga personelnya. Seperti yang mereka ungkapkan sendiri, “Musik dari Multatuli terdapat di tiga poros sesuai selera masing masing personel, entah itu berbau Foo Fighters, Red Hot Chili Peppers, maupun hard rock yang kental di warna suara Omet. Semua kami satukan di album ‘Satire’.”

Tentang single “Mercufana” sendiri, Multatuli memaknainya sebagai menara yang tak nyata (fana), dimana menggambarkan bahwa dewasa ini banyak manusia mengejar apa yang di inginkan, bukan apa yang dibutuhkan. Video lagu yang berkonsep unik tersebut bisa disaksikan di bagian akhir tulisan ini.   

Multatuli sendiri dibangun oleh para musisi yang terbilang bukan pelaku asing di skena musik indie di Yogyakarta. Walau baru bernafas pada Oktober 2016 lalu, namun mereka langsung tancap gas menggarap album rekaman, dan bahkan belum memikirkan rencana-rencana manggung. Tapi sejak awal, mereka langsung menegaskan visi untuk menjadi salah satu grup musik yang patut diperhitungkan dari segi musikalitas serta diksi-diksi dalam penulisan karyanya. Semoga tercapai! (MK01)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *