Menyelamatkan Artefak Rock Indonesia Era Pra-Internet

(Judul Buku) Festival Rock se-Indonesia Log Zhelebour: Sebuah Tonggak Sejarah Musik Rock Indonesia – (Penulis) Alex Palit – (Penerbit) Forum Bedah Kaset Indonesia/Apresiasi Musik Indonesia (fORmASI) – (Cetakan) April 2020

Jika dibandingkan dengan negara barat, kesadaran mengabadikan sejarah adalah kelemahan bangsa kita. Saat teknologi internet belum ditemukan dan meraksasa seperti sekarang ini, sulit sekali mencari referensi menyangkut jejak tapak industri musik Indonesia yang jelas. Jika bukan dengan cara bergerilya melakukan wawancara, sulit mendapatkan data yang valid. Itu pun, tak jarang kisah-kisah yang terlontar tanpa disertai dokumentasi otentik sebagai bukti pembenaran, karena minimnya pengarsipan.

Buku ini, adalah salah satu hasil gerilya bertahun-tahun. Paling tidak menurut penulisnya, Alex Palit yang pernah melakoni profesi sebagai wartawan. Ia konon mulai mengais berbagai sumber informasi serta kliping tulisannya sendiri sejak 2004 silam. Memang bukan pekerjaan gampang, karena tak semudah berselancar di jagat Google. Periode 1984 hingga 2004 bisa dibilang bukan masa kejayaan internet di negara kita. Setidaknya hingga akhir era ‘90an. Jadi belum banyak artefak seputar musik Indonesia – apalagi dari kubangan rock – yang sempat terekam di dunia maya.

Festival Rock se-Indonesia yang digagas dan dieksekusi penyelenggaraannya oleh promotor dan produser rock legendaris, Log Zhelebour, adalah salah satu sumber mata air geliat rock dan metal di Indonesia. Digelar sebanyak 11 kali selama lebih dari dua dekade, yakni mulai 1984 hingga 2007 (di buku ini hanya merangkum hingga pelaksanaan yang ke-10 pada 2004).

Dari festival tersebut, Log melahirkan banyak talenta musik keras yang kemudian berkibar kencang, khususnya di era ‘80an hingga pertengahan ‘90an. Sejak digeber pertama kali di Stadion 10 November, Surabaya pada 14 April 1984 silam, langsung mencuat nama-nama seperti band Elpamas (Malang), lalu Toto Tewel dari LCC Band (selanjutnya memperkuat Elpamas di gelaran kedua festival tersebut dan berhasil merebut Juara I) sebagai gitaris terbaik. Kemudian juga ada mendiang Andy Ayunir (2nd Smile) sebagai kibordis terbaik serta dramer terbaik Budhy Haryono yang mewakili Jam Rock, cikal bakal band Jamrud. Budhy sendiri belakangan lebih dikenal sebagai dramer Krakatau dan Gigi. 

Lalu berturut-turut, Festival Rock tersebut terus digulirkan pada 1985, 1986, 1987, 1989, 1991, 1993, 1996, 2001, 2004 dan 2007. Sepanjang pelaksanaannya, terus bermunculan penampil rock perkasa yang sebagian bahkan masih aktif hingga hari ini. Grass Rock (Surabaya), Slank (Jakarta), Power Metal (Surabaya), Roxx (Jakarta), Andromedha (Surabaya), Kaisar (Solo), Whizzkid (Jakarta), Sahara (Bandung) hingga Mujizat (Bandung) adalah sebagian jebolan ‘sekolah rock Log Zhelebour’ tersebut. 

Buku setebal 170 halaman ini tak sekadar membeberkan data seputar pelaksanaan Festival Rock Log Zhelebour dari tahun ke tahun, lengkap dengan para juaranya. Di luar itu, Alex Palit juga berusaha merekam tuntas segala momen yang berkaitan dengan event tersebut. Ia antara lain menyuguhkan info album-album kompilasi dari para finalis Festival Rock Log Zhelebour, album lepas dari masing-masing band tersebut, hingga profil para juara dan alumni, yang diusahakan tersaji lengkap dengan kabar terkininya.

Pula, tentu saja ada bab yang khusus mengulas profil singkat serta gelegak kiprah Log Zhelebour sebagai promotor dan produser rock. Di buku ini dijabarkan keberanian dan kegigihan Log – yang awalnya konon hanya bermodalkan uang sebanyak Rp.15 juta sebelum mendapatkan sponsor – untuk menggelar pentas festival rock berskala nasional. Log juga lantas menorehkan kesuksesan di industri rekaman. Di bawah kibaran Logiss Records – label rekaman miliknya – Log menorehkan kesuksesan komersil dari karya-karya album rekaman God Bless, Power Metal, Boomerang hingga Jamrud.

Sebagai jurnalis yang pernah menjadi saksi gelaran demi gelaran festival rock Log tersebut, Alex merasa sayang jika pengalamannya itu tidak dituangkan dalam bentuk buku. Apalagi, memang belum ada katalog yang secara spesifik mengulas seluk-beluk festival tersebut. Karena sejarah itu sendiri bukan sekadar serakan kepingan artefak, melainkan kisah yang bercerita tentang suatu hal yang terkait dan teruntai di dalamnya, dan itu wajib didokumentasikan. Harapan sang penulis sederhana. Ia ingin bukunya ini bisa menambah referensi katalog musik Indonesia, khususnya di ranah rock. Salut!

O ya, bagi yang berminat mendapatkan buku ini bisa menghubungi penulis di email: [email protected] (mudya mustamin)

2 replies on “ Menyelamatkan Artefak Rock Indonesia Era Pra-Internet ”
  1. Saya ijin share yaa..
    sudah lama sekali Saya tidak baca tulisan dari laman internet seperti ini..
    laman kalian rapi, padat, berbobot & bebas iklan..
    have a nice day & terima kasih dari Saya.. \m/

    1. Terima kasih sekali apresiasinya. Semoga tidak bosan membaca artikel-artikel dan informasi dari kami. \m/

Leave a Reply to nomokumono Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *