TADRICK AND THE WATER Terapkan Dua Sisi Dekade Rock

Referensi dari kekentalan nafas rock era ’90an yang disaling-silangkan dengan alunan psychedelic rock ’70an menjadi kendaraan utama unit rock asal kawasan Pantura ini dalam berkarir di kancah industri rekaman. Usai menancapkan eksistensi awal lewat album mini (EP) bertajuk “Dreams are Not Fantasy” (2019) serta sebuah single berjudul “Inside of Me” (2020), kini Tadrick and The Water (TATW) menerapkan pengembangan konsep tadi di single terbaru, “Dua Sisi”.

“Dua Sisi” sendiri, dari sisi penuturan lirik, bercerita tentang sudut pandang seseorang dalam sebuah kehidupan. Hitam atau putih dalam menjalani lika-liku kehidupan. Namun, selalu ada hikmah yang dapat diambil, baik dari sisi manapun kita memandang dan melangkah. 

“Bisa dibilang, ‘Dua Sisi’ ini lagu yang lumayan spiritual secara liriknya, 70% barat dan 30% etnik. Kenapa begitu? Karena petikan ritmis utamanya sedikit terdengar seperti langgam gamelan. ‘Dua Sisi’ sendiri sebenarnya terinspirasi dari lagu ‘Going to California’ dan ‘When the Leeve Breaks’-nya Led Zeppelin,” urai vokalis Mustadrick Ahmad kepada MUSIKERAS, menyinggung kelarasan konsep lirik dan musik.

.

.

Awalnya, eksekusi rekaman “Dua Sisi” sempat dilakukan secara mandiri, menerapkan tata cara DIY (do it yourself) yang liar. Misalnya, tahapan awal sempat dilakukan dengan merekam isian gitar dasar yang akan dijadikan acuan di kamar mandi, serta merekam gitar akustik di dalam lemari kayu besar, di Elbuba Store, Pekalongan. Mereka dibantu oleh Mas Wida, salah satu rekan TATW yang kebetulan sedang belajar mengenai pengoperasian home recording. Hari demi hari merekam satu persatu instrumen sampai tak terasa ternyata sudah berlangsung selama 10 hari. Setelah rekaman “Dua Sisi” versi mandiri ini, ternyata demo-nya terdengar sangat kasar (raw). Mereka juga merasa belum cukup puas terhadap hasil sampling dram yang kurang ‘nendang’ plus vokal yang terlalu menggema tak beraturan. 

“Kami memutuskan untuk merekam ulang semuanya ke studio yang lebih proper. Merekam ulang mulai dari lead gitar elektrik, vokal, bass dan dram di 4WD Studio, Semarang. Dioperatori oleh Mas Anto, mixing dan mastering oleh Hamzah Kusbiyanto. Total pengerjaan sampai sempurna dari revisi sejak awal sekitar 20 hari.”

Selama proses pengerjaan lagu, TATW yang dihuni formasi Mustadrick Ahmad, Adam Yuliarta (dram), Tyo Maruf (gitar) dan Wolts Rafi (bass) juga dibantu oleh Lafa Pratomo yang lebih dikenal sebagai pengisi sektor gitar untuk Danilla. Oh ya, jika membandingkannya dengan karya TATW sebelumnya, ada beberapa perbedaan yang sangat terasa.

Di EP “Dreams are Not Fantasy”, menurut TATW, konsep musiknya lebih didominasi alternative new wave, mulai dari ketukan dram hingga notasi lagu per lagu. Sangat kental rock ’90an, seperti Jeff Buckley dan Radiohead, namun ketukan dram dominan new wave seperti Joy Division.

“Sedangkan ‘Dua Sisi’, ada perpaduan etnik dan rock ’70an. Lebih terasa getaran psikedelia-nya karena isian permainan volume gitar yang panning-nya tembus kanan-kiri.” 

Kini, “Dua Sisi” sudah dapat didengarkan melalui berbagai platform digital sejak 9 April 2021 lalu. Harapan TATW, semoga lagu “Dua Sisi” tersebut bisa menjadi sebuah oase segar untuk musik alternative rock, di tengah pandemi yang tak kunjung berakhir. (aug/MK02)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *