Walau sudah memulai karir di StereoWall dan mempunyai banyak penggemar dari skena independen, namun sosok Cynantia ‘Tita’ Pratita baru benar-benar menarik perhatian publik secara luas setelah mengikuti audisi Indonesian Idol di masa pandemi, pada November 2020 lalu. Saat itu, impresi awal Tita yang feminin dan imut berhasil menipu para juri, yakni Anang Hermansyah, Ari Lasso, Judika, Maia Estianty dan Rossa.

Perempuan kelahiran Malang, Jawa Timur, 21 Mei 1994 ini tidak melantunkan lirik-lirik pop yang manis, melainkan menyemburkan tarikan suara rock yang gahar saat menyanyikan lagu “Bulls in the Bronx” milik band rock/post-hardcore asal California (AS), Pierce the Veil. Semua terkejut, namun pada akhirnya malah membuahkan Golden Ticket untuk ‘The Screamer‘ dari para juri.

Di ranah musik keras, memang jumlah vokalis perempuan bisa dibilang masih minoritas. Tapi Tita salah satunya yang hadir mengisi kelangkaan tersebut, dengan potensinya yang tidak bisa dianggap remeh. Khusus untuk MUSIKERAS, Tita lalu mengungkapkan dari mana atau dari siapa saja ia mendapatkan inspirasi serta pengaruh yang membuatnya ingin menjadi vokalis di sebuah band rock. 

.

Alissa White-Gluz 

Pilihan pertama Tita ini tercatat sebagai vokalis utama di band melodic death metal asal Swedia, Arch Enemy. Ia mulai bergabung di band tersebut sejak 17 March 2014, dan langsung dilibatkan di penggarapan album studio kesembilan mereka yang berjudul “War Eternal” (2014). Sebelumnya, Alissa mulai mengukir karirnya lewat band metalcore asal Kanada, The Agonist dan meninggalkan jejak vokal dan sebagian besar lirik lagu ciptaannya di tiga album awal band tersebut, yakni “Once Only Imagined” (2007), “Lullabies for the Dormant Mind” (2009) dan “Prisoners” (2012).

Di periode inilah Tita mulai terpikat kemampuan vokal growl Alissa yang terbilang gahar untuk ukuran penyanyi wanita. “Dia screamer pertama yang gue tau, dan dia yang memotivasi gue untuk menjadi screamer cewek,” seru Tita terus-terang.

.

Corey Taylor

Pilihan kedua Tita ini, ya, siapa lagi kalau bukan vokalis band metal bertopeng paling fenomenal sejagat, Slipknot. Di luar itu, Corey juga menjalani band rock Stone Sour serta karir solonya. Yang terbaru adalah perilisan album solo berjudul “CMF2”, rilisan 15 September 2023 lalu. Karakter vokal Corey mengombinasikan rentang yang lebar, mulai dari growling, screaming, shouting hingga rapping. Tapi juga punya keistimewaan di pola bernyanyi yang melodius, yang bahkan bisa merambah ranah pop.  

Tapi di mata Tita, bukan cuma vokal Corey yang menginspirasi. “Karena di panggung, dia sangat entertainer!”  

.

Hayley Williams

Sejak album kedua bandnya, Paramore yang berjudul “Riot!” dirilis pada 12 Juni 2007 silam, nama Hayley seketika melejit sebagai penyanyi wanita idola baru di skena pop-punk, emo, pop rock, alternative rock dan power pop. Bukan hanya penampilannya yang eksentrik, dengan warna rambut yang kerap berganti, namun juga kemampuan bernyanyinya yang enerjik dan bertenaga. Ia bermodalkan suara soprano yang mampu menjangkau empat oktaf, dan dilengkapi pula kemampuan menerapkan teknik falsetto. Kharisma seorang Hayley sebagai penyanyi juga disebut-sebut jauh melebihi bandnya sendiri.

“Kayaknya nggak perlu alasan lagi untuk tidak menyukai seorang Hayley Williams, kan?!”

.

Victor ‘Vic’ Fuentes

Vokalis dan gitaris Pierce the Veil ini dikenal dengan jangkauan vokalnya yang lumayan tinggi. Namun juga bisa meraungkan teknik scream yang ‘kasar’, seperti yang antara lain bisa didengarkan di lagu “King for A Day”, “Bulls in the Bronx” hingga “Emergency Contact”. Kemampuan vokal itu yang membuat Tita mengagumi Vic dan menjadikannya salah satu sumber inspirasi. 

“Karena range vokalnya tinggi banget. Lebih tinggi dari (vokal) gue kayaknya!”

.

Oliver ‘Oli’ Sykes

Bersama bandnya, Bring Me the Horizon, Oli berhasil menerobos ke permukaan, mengusik perhatian dunia lewat karya album awalnya yang didominasi komposisi hibrida metalcore dan deathcore yang brutal. Lalu perlahan bergeser ke terapan rock yang dinamis, dimana berbagai elemen sub-genre diaduk menjadi satu, seperti electronic rock, post-rock, emo, post-hardcore, hardcore punk, metal, EDM, alternative rock hingga pop. Konsep itu berjalan paralel dengan teknik vokal Oli yang berevolusi, terentang dari paduan teknik guttural screams yang sangat rendah hingga ke teriakan emo atau clean style.

Bagi Tita, hanya satu kata untuk Oli: “KEREENN…!!!!”

Belum lama ini, Cynantia Pratita bersama StereoWall – yang juga diperkuat gitaris Rama Mayristha Perdana dan Usay (gitar), basis Ramadhan Satria serta kibordis Reiner Ramanda – telah merilis sebuah album mini (EP) bertajuk “Prologue” via Musica Studio’s. Sebuah album yang dikemas untuk merayakan 10 tahun perjalanan karir StereoWall, sejak terbentuk pada 2012 silam.

Ada delapan lagu yang memadati EP tersebut, yaitu “Alive”, “Heaven”, “Aku Mengerti”, “Blood & Light”, “Tentang Kita”, “Home”, “Waktu yang Hilang” dan “Jaga Hati Ini”. Lima di antaranya merupakan versi daur ulang dari versi yang sudah pernah dirilis sebelumnya, namun kali ini dengan penataan ulang di kualitas suara, penyesuaian di lirik serta notasi vokal. (mudya/MK01)

Kredit foto: Dok. StereoWall

.

.