Human Target tetap menghadirkan energi metallic hardcore yang agresif di rilisan terbarunya itu. Penuh tekanan dan sarat pesan perlawanan terhadap ketakutan, keraguan serta berbagai bentuk pergumulan batin yang sering dialami manusia.
Dengan pendekatan musik yang menggabungkan riff-riff berat, breakdown menghantam serta vokal penuh amarah, unit garang asal Salatiga, Jawa Tengah ini berusaha menghadirkan pengalaman yang intens sekaligus reflektif bagi para pendengarnya.
Di rilisan “No Evil / Refuge and Fortress”, vokalis Syahraz Risang Rzi Kusumo, bassis Ryana Eka Saputra, gitaris Ery Chrisa Pratama serta dramer Aditya Surya Putra Pradana menyuguhkan karakter lagu yang saling melengkapi.
“No Evil” menjadi representasi perjuangan melawan ketakutan, trauma dan bayang-bayang masa lalu yang terus menghantui. Liriknya menggambarkan seseorang yang memilih untuk menghadapi semua ketidakpastian secara langsung, tanpa mundur sedikit pun.
Lagu ini menjadi simbol keberanian untuk bangkit dan menaklukkan segala hal yang berusaha menghancurkan diri dari dalam.
Sementara di “Refuge and Fortress”, Human Target menawarkan sudut pandang yang berbeda. Terinspirasi dari nilai-nilai spiritual tentang perlindungan, keyakinan dan keteguhan hati, lagu ini berbicara mengenai rasa aman yang ditemukan di tengah ancaman, ketakutan dan kekacauan dunia.
Dengan nuansa yang tetap keras dan penuh tenaga, band bentukan 2025 lalu ini menyampaikan pesan bahwa kekuatan sejati lahir dari keyakinan yang tidak tergoyahkan.
Black Metal
Human Target ingin menunjukkan identitas musikal mereka secara utuh: agresif, lugas dan penuh semangat perlawanan, tanpa meninggalkan ruang untuk refleksi dan makna yang lebih dalam.
“Secara musikal, metallic hardcore yang kami usung memadukan riff berat ala metal dengan energi hardcore yang agresif dan straightforward,” cetus pihak band kepada MUSIKERAS, kembali menegaskan.
Mereka mencoba keluar dari pakem umum dengan menyisipkan elemen black metal, riff tremolo serta atmosfer gelap di rilisan terbaru tersebut. Mirip pendekatan yang dipakai band blackened crust/black metal asal AS seperti Young and in The Way atau Ramlord.
“Yang kami padukan dengan struktur metalcore modern dan breakdown yang heavy. Perpaduan ini yang menurut kami jadi pembeda, karena nggak banyak band metallic hardcore lokal yang berani masuk ke wilayah black metal tapi tetap menjaga groove dan mosh part yang jadi ciri khas hardcore.”
Sejak awal proses peracikannya, para personel band ini memang sudah mengantongi gambaran sendiri soal alur dan emosi yang ingin disampaikan di rilisan tersebut.
“Tapi untuk memperkuat karakter metallic hardcore 90-an yang jadi pijakan utama, kami banyak merujuk ke band-band (metallic/hardcore punk) macam Integrity dan Earth Crisis untuk sisi riff yang gelap dan berat, serta (band metalcore) Merauder untuk beatdown groove yang kami masukkan di beberapa part.”
Namun mereka menegaskan, beberapa sumber referensi tersebut bukan untuk ditiru mentah-mentah, tapi menjadi pegangan agar nuansa 90-an tetap terasa.
“Sebelum kami timpa lagi dengan sentuhan black metal dan breakdown modern biar terdengar relevan dengan telinga sekarang.”

Mazmur 91
Saat menjalani proses rekaman “No Evil / Refuge and Fortress” yang dieksekusi di Madclub Asia Record selama kurang lebih 3-4 bulan, awalnya para personel Human Target sudah menggumpalkan beberapa riff tetapi belum tahu arahnya akan ke mana.
Kebetulan saat itu, vokalis mereka tengah getol mendengarkan lagu-lagu black metal macam Moongates Guardian (Rusia) dan Firienholt (Inggris). Referensi itu lantas dibagikan ke personel lainnya dengan harapan bisa menginspirasi.
Setelah itu, mereka akhirnya mencoba menggabungkan koleksi riff yang sudah ada, dan berhasil mendapatkan nuansa black metal di awal lagu “Refuge and Fortress”.
“Dari kedua lagu, ‘Refuge and Fortress’ jelas yang paling menantang secara teknis saat eksekusi rekaman,” seru mereka mengungkap proses di balik produksinya.
Di bagian intro,mereka memasukkan isian bernuansa black metal dengan teknik tremolo picking dan tempo yang cenderung cepat, tapi harus tetap presisi.
“Ini butuh stamina dan konsistensi pick gitar yang nggak gampang dijaga dari awal sampai akhir take. Apalagi transisinya harus mulus ke part metalcore yang tempo dan feel-nya jauh berbeda.”
“Belum lagi breakdown yang kami susun di tengah lagu, dimana timing antara gitar, bass dan dram harus benar-benar rapat supaya hentakannya kerasa berat dan nggak kedengaran ‘longgar’ di telinga pendengar.”
Di sisi vokal juga ada tantangan tersendiri, karena lirik lagu tersebut diangkat dari keyakinan Human Target terhadap Psalm 91 (atau dalam Alkitab bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan Mazmur 91).
“Jadi pengantarannya tidak bisa asal teriak, harus tetap menjaga emosi dan ketulusan pesan di balik teriakan itu sendiri.”
Bahkan setelah melalui proses mixing selesai pun, band ini tetap merasa hasil perekaman vokalnya masih kurang memuaskan. Dan akhirnya, mereka pun memutuskan untuk rekam ulang dari awal.
“Itu jadi bukti kalau kami nggak mau asal lewat begitu saja demi mengejar deadline rilis, karena buat kami pesan di lagu ini terlalu penting untuk dikompromikan.”
Kombinasi dari elemen teknis dan komitmen ekstra di proses vokal itulah yang membuat komposisi “Refuge and Fortress” disebut Human Target sebagai lagu paling kompleks saat dieksekusi, jika dibandingkan dengan “No Evil”.
“No Evil / Refuge and Fortress” yang dirilis via Atlas Records menjadi persembahan pemanasan menuju perilisan EP dalam waktu dekat. Sebuah karya dimana Human Target bakal memperluas eksplorasi tema tentang konflik internal, ketahanan mental, keyakinan serta perjuangan manusia menghadapi berbagai tekanan hidup.
Bagi Human Target, musik hardcore bukan sekadar medium pelampiasan emosi, melainkan juga sarana untuk menyampaikan pesan, membangun solidaritas dan mengajak pendengar untuk tetap berdiri tegak di tengah situasi yang paling sulit sekalipun. (@mudya_mustamin/MK01)