Emir Cello (Alfian Emir Adytia) saat ini aktif sebagai performer dan komposer di Belanda, Eropa, dan Asia. Karya-karyanya terus menantang narasi budaya imperial sambil membangun koneksi yang mendalam lintas genre dan disiplin, terutama melalui album terbarunya “Decolmuseum” (2025).
Pertunjukan live-nya yang penuh energi dan melampaui batasan genre memadukan unsur musik klasik, rock, metal, dan musik tradisional Indonesia, hingga media lokal Belanda menjulukinya sebagai pelopor dari gelombang baru musik Indonesia atau “New Indonesian Wave”.
Emir adalah seorang cellist progresif, performer, dan komposer Indonesia yang berbasis di Belanda. Kehadirannya, baik di atas panggung maupun di balik partitur, merupakan perpaduan antara ekstasi fisik dan transendensi spiritual, menciptakan pengalaman pertunjukan yang imersif dan transformatif bagi para penonton.
Perjalanan musikalnya dimulai sejak usia 9 tahun di bawah bimbingan ayahnya, komponis Yoesbar Djaelani, yang mengenalkannya pada teori musik, harmoni, kontrapung, dan orkestra. Bersamaan dengan dasar klasik ini, Emir juga mengeksplorasi musik pop, rock, dan musik tradisional Indonesia, dengan bernyanyi dan bermain gitar. Pada usia 13 tahun, ia diperkenalkan dengan cello, yang menjadi awal dari dedikasinya seumur hidup terhadap instrumen ini.
Setelah mendapatkan dasar musik yang kokoh dari ayahnya, Emir memantapkan komitmennya pada dunia musik dengan menempuh pendidikan formal di SMM Yogyakarta (2008–2011), Institut Seni Indonesia Yogyakarta (Sarjana Seni, 2011–2016), hingga Royal Conservatoire The Hague (Magister Musik, 2017–2019).
Setelah lulus dengan gelar master di bidang cello klasik dari Den Haag, Emir menapaki jalur artistik yang dinamis, ditandai dengan 12 rilisan diskografi serta berbagai pertunjukan dan kolaborasi lintas disiplin.
Berakar dari tradisi Jawa dan Minangkabau, serta kehidupannya sebagai diaspora di Eropa, karya Emir menawarkan perspektif yang unik dalam kaleidoskop budaya historis dan kontemporer, memadukan Timur dan Barat secara organik sekaligus meruntuhkan batas-batasnya. Musik dan pertunjukan live Emir telah hadir di panggung-panggung ternama di Asia Tenggara, Asia Tengah, Amerika Utara, dan Eropa.
Sorotan penting dalam karier terkininya antara lain: menjadi artist-in-residence di International Cello Festival Zutphen (2021), debut sold-out di Cello Biennale Amsterdam (2022, Bimhuis), pertunjukan menantang di ruang bekas kolonial dalam Grachtenfestival (2023), serta kolaborasi dengan Orkest De Ereprijs dalam Andriessen Festival (2025) dan konser keliling Eropa bersama Panama Pictures (2025-2026).
Emir juga meraih berbagai penghargaan, termasuk dari Calefax Composers Competition (Amsterdam, 2022), Bartók World Composition Competition (Budapest, 2022), dan tampil di Spitfire Audio LABS Community Playlist (London, 2022).
Pada 20 Juni 2025, Emir Cello merilis album “Decolmuseum”.
Kredit Foto: Sandra Uittenbogaart