EMIR CELLO: Semangat Metal ke Pentas Dunia

Dengan bauran permainan cello, elemen progressive rock, symphonic metal serta keroncong dan dangdut, Emir Cello kembali ke Biënnale Amsterdam.
emir cello
EMIR CELLO TRIO (Foto: Andrea De Angelis)

Emir Cello adalah satu-satunya nama Indonesia – di antara deretan cellist kelas dunia – yang mendapat jadwal tampil di panggung festival bergengsi Cello Biënnale Amsterdam.

Tepatnya berlokasi di Bimhuis, Piet Heinkade 3, Amsterdam, Belanda. Emir bakal menutup malam pada Minggu, 1 November 2026 mendatang. Konser utuh selama satu jam penuh, diiringi film arsip kolonial yang dinarasikan ulang.

Diperkuat bassis asal Turki, Kaan Yazici dan drumer asal Belanda, Sander van Elferen, Alfian Emir Adytia – nama lengkapnya – akan membawakan versi live dari materi album “Decolmuseum” (2025)

Album ini menceritakan memori kolektif tentang perjalanan kemerdekaan Indonesia. Musiknya memadukan cello dengan progressive rock, symphonic metal serta keroncong dan dangdut.

Yang membuat pertunjukan ini istimewa: film arsip dari masa penjajahan Hindia Belanda (sampai 1942) dan pendudukan Jepang (1942–1945), materi propaganda Nippon Eigasha yang diolah dan dinarasikan ulang sendiri oleh Emir, akan diputar mengiringi musiknya.

Propaganda yang dulu dibuat untuk membujuk rakyat Indonesia kini ‘dibalikkan’ menjadi kesaksian tentang ketahanan dan perlawanan.

“Saya ingin publik Eropa menyaksikan sejarah kami dari sudut pandang kami sendiri, lewat cello rock/metal, elemen musik rakyat Indonesia dan arsip film kolonial,” urainya mengenai alasan di balik konsep pertunjukannya itu.

Ini merupakan penampilan keduanya di festival tersebut, setelah debutnya pada 2022, dimana keseluruhan tiket terjual habis.

Dijuluki sebagai ‘Jimi Hendrix-nya cello’ dan disebut sebagai pendobrak ‘New Indonesian Wave’ oleh kalangan media dan festival di Belanda, Emir menempuh pendidikan formal musik klasik di SMM Yogyakarta, ISI Yogyakarta (2011–2016) dan Royal Conservatoire The Hague, Den Haag (2017-2019).

Musik garapan Emir dianggap berani secara sonik dan bermuatan sosial. Seperti yang dilampiaskan di “Decolmuseum”, ia menafsirkan kembali sejarah kolonial melalui cello, prog-rock, metal serta keroncong dan mengaitkan akar Jawa dan Minangkabau dengan pengaruh Barat.

Kehadirannya, baik di atas panggung maupun di balik partitur, merupakan perpaduan antara ekstasi fisik dan transendensi spiritual, menciptakan pengalaman pertunjukan yang imersif dan transformatif bagi para penonton.

emir cello
“Decolmuseum” artwork

Demo Piano

Musik klasik dan musik rock/metal tidak terpisahkan dari diri Emir. Kepada MUSIKERAS, ia mengakui memang banyak terinspirasi dari pengalaman bermain cello dan belajar di dunia musik klasik dan simfonik.

Khususnya secara struktur dan harmoni, banyak pengaruh dari musik abad ke 19 dan awal abad 20.

“(Tapi) Secara spektrum bunyi bawah sadar, saya sering menikmati musik Dream Theater, Porcupine Tree, Apocalyptica, (dan) musik prog Indonesia seperti Harry Roesli,” cetusnya.

Konsep itulah yang ia tumpahkan di album “Decolmuseum”. Sebuah perpaduan yang juga ia akui tidak mudah diterapkan dalam teknis rekaman. Khusunya dalam memadukan musik modern dengan alat musik akustik.

“Lagu yang paling memakan waktu lama produksi adalah track kedua, ‘The Fall of a Confused Empire’,” ujar Emir.

Ia mengungkapkan, karena harus melakukan penyesuaian penalaan (tuning) terhadap sekitar 80-an alat musik. Mulai dari cello, gitar, bass, drum, cello keroncong hingga koor.

“Semua instrumen dan sound design dalam album ini bersumber dari instrumen asli. Di lagu terakhir ‘Human’, kami memakai sumber rekaman demo piano yang agak fals yang saya mainkan.”

“Disetel di speaker dalam concert hall, lalu saya mainkan cello di sampingnya seolah-olah bermain dengan bayangan saya sendiri lalu direkam dengan tata cara rekaman musik klasik.”

Sementara dari sisi komposisi, Emir menyebut “Morning Revolt” sebagai materi yang cukup menantang penggarapannya.

Secara harmoni, lagu ini menerapkan modulasi tiga kali, dari bait sampai reff. Lalu modulasi dua kali lagi di pra-instrumental sampai koda akhir.

“Lagu ini dan ‘The Fall of a Confused Empire’ barangkali yang paling dekat untuk merepresentasikan tone-nya Emir Cello saat ini.”

Selain menata komposisi musik, menulis lirik, mengisi vokal dan memainkan cello di album “Decolmuseum”, Emir juga merekam isian gitar dan instrumen elektronik.

Ada pula bantuan beberapa musisi. Di antaranya Efraim De Nijs Latuheru dan Koen Herfst untuk isian drum. Lalu Kaan Yazıcı di bass elektrik, sekaligus menjadi produser, mengerjakan teknis rekaman serta pemolesan mixing.

Jadwal tur Emir Cello sendiri bisa dipantau tautan Bandsintown ini. Sementara lagu-lagu di album “Decolmuseum” tersedia di berbagai gerai pemutar musik digital. termasuk di laman Bandcamp. (@mudya_mustamin/MK01)

Susunan Lagu:

  1. Decolmuseum
  2. The Fall of a Confused Empire
  3. Tyranny Park
  4. Pseudo Oath
  5. Morning Revolt
  6. Encrypted Algorithm
  7. Merdeka
  8. Code Blue
  9. De Stille Kracht
  10. Human
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
avhath
Read More

AVHATH: Album Debut, Titik Baru

Usai lewati perjalanan karier selama lebih dari satu dekade, dengan lampiasan 16 rilisan, akhirnya Avhath mempersembahkan album debut pertamanya.