Suffer Hate akhirnya melampiaskan “Retorika Membusuk”, sebuah rilisan perdana yang merangkum tujuh lagu penuh amarah, keresahan serta kegelisahan terhadap berbagai realitas sosial di sekitar kehidupan.
Mengandalkan riff-riff agresif, blast beat yang intens, tempo yang cepat dan padat serta vokal yang brutal, unit grind/death metal asal Jabodetabek ini menggelontorkan musik yang tidak hanya mengandalkan kekerasan sonik.
Mereka sekaligus juga membawa sejumlah kritik terhadap fenomena sosial yang mereka lihat dan rasakan.
“Retorika Membusuk” menyoroti berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan manusia modern, mulai dari propaganda, kemunafikan, kultus kekuasaan, hingga absurditas perilaku manusia di tengah realitas sosial yang semakin kompleks.
Lewat pendekatan yang lugas dan tanpa banyak kompromi, vokalis Muhamad Mukti Wibowo (Bowo), gitaris Sesario Tohpati, bassis Mario Pieter Yonathan dan drumer Sandy Rhamdani menerjemahkan keresahan tersebut ke dalam komposisi yang penuh tekanan.
Menjadikan setiap lagu sebagai luapan energi dan bentuk ekspresi terhadap keadaan yang dianggap semakin membusuk.
Lugas Menghantam
Sebagai rilisan pertama, “Retorika Membusuk” menjadi pintu masuk untuk mengenal karakter musikal band ini Tujuh lagu di dalamnya dikemas secara padat dengan permainan riff yang kasar dan menghantam.
Lalu dipadukan dengan entakan blast beat yang agresif, serta vokal yang buas dan penuh intensitas.
Tidak banyak ruang untuk jeda; album ini bergerak cepat dan terus mendorong energi dari satu lagu ke lagu berikutnya, menciptakan pengalaman mendengar yang sesak, liar dan destruktif.
“Konsep grind yang kami usung di album ‘Retorika Membusuk’ berfokus pada kecepatan, agresi serta intensitas ritem old school grindcore yang dipadukan dengan lirik-lirik bernuansa protes sosial dan kritik politis,” seru pihak band kepada MUSIKERAS kembali menegaskan.
Lalu mereka juga meyakinkan bahwa agresi musikal Suffer Hate bisa dibedakan dengan band-band sejenis dari pendekatan lirik serta dinamika vokal sangat eksplosif yang mereka terapkan.
“Kami tidak hanya menyajikan tempo cepat dan riffing yang berat, tetapi juga menyisipkan bagian bridge dengan variasi eksplorasi vokal – seperti karakter vokal ekstrem atau brutal – untuk mempertegas pesan perlawanan dan jeritan atas ketidakadilan di setiap lagu.”
Berbagai referensi dari ranah grindcore klasik yang memadukan agresivitas blast-beat tajam dengan tempo cepat thrash menambah elemen kebengisan di lagu-lagunya.
“Selain pengaruh musik ekstrem modern juga menyumbang eksperimen struktur lagu agar tetap dinamis dan memiliki ketukan yang lugas serta menghantam,” cetus mereka.
Contoh di trek seperti “Suara Propoganda” dan “Manusia Tantrum”, Suffer Hate menerapkan perubahan tempo yang sangat kontras dan cepat, sehingga membuat kedua lagu tersebut sangat menantang dalam pengeksekusian rekamannya.
“Kerapatan ketukan drum blast-beat, serta variasi modulasi vokal yang menguras stamina untuk menjaga intensitas emosi emosional tetap stabil,” imbuh mereka mengungkap fakta kesulitannya.

Lebih dari sekadar debut, “Retorika Membusuk” menjadi sebuah pernyataan awal dari Suffer Hate tentang bagaimana mereka ingin memperkenalkan diri.
Album ini memperlihatkan potensi daya ledak yang kuat, sekaligus menjadi fondasi bagi perjalanan musikal mereka selanjutnya. Mentah, keras dan penuh tekanan.
Sebuah debut yang tidak datang untuk menawarkan kenyamanan, melainkan untuk menghantam, mengusik, sekaligus menyuarakan keresahan melalui kebisingan yang mereka ciptakan.
Album yang direkam di Freak Effect Studio di kawasan Pamulang Vila Dago, Banten ini dirilis via Arakatee Records dalam format kaset pita dan digital, yang bisa ditemukan di laman Bandcamp. (@mudya_mustamin/MK01)
Susunan Lagu:
- Surat Untuk Bapak
- Bungkam
- Manusia Sajen
- Revublik
- Suara Propaganda
- Kata-Kata Indah
- Manusia Tantrum
