HYPER: Keserakahan, Dosa dan Pertobatan

Perpaduan riff yang agresif, groove yang menghantam serta energi khas metalcore 2000-an menjadi bagian penting geberan Hyper di album mini (EP) terbaru.
hyper
HYPER

Hyper tidak butuh waktu lama untuk kembali mencecar dengan karya-karya terbarunya. Usai memperdengarkan lagu rilisan tunggal bertajuk “Symphony of Greed”, kini melampiaskan sebuah kemasan EP.

Selain lagu pemanasan tadi, di EP yang diberi judul “Karma” juga menyertakan tiga amunisi keras lainnya. Masing-masing bertajuk “Karmageddon”, “Fall” dan “Aftermath”.

Keempat lagu tersebut saling terhubung dan membentuk satu rangkaian cerita. Dimulai dengan “Karmageddon” yang menggambarkan kehancuran alam dan dunia sebagai akibat dari keserakahan manusia.

Eksploitasi tanpa batas dan keinginan untuk terus memiliki lebih banyak, membawa manusia menuju kehancuran yang pada akhirnya merupakan konsekuensi dari perbuatannya sendiri.

Perjalanan tersebut lalu berlanjut di “Symphony of Greed” yang menggambarkan manusia yang terjebak dalam keserakahan, rasa tidak pernah puas, serta korupsi yang perlahan menghancurkan dirinya sendiri.

Keserakahan digambarkan oleh unit metal asal Majalaya, Bandung ini sebagai sebuah simfoni yang terus dimainkan hingga manusia kehilangan kendali atas dirinya.

Beralih ke “Fall”, Hyper membawa cerita ke dalam konflik yang lebih personal: penyangkalan terhadap dosa dan kesalahan yang telah dilakukan.

Alih-alih mengakui perbuatannya, manusia memilih untuk membenarkan dan menutup mata terhadap konsekuensinya. Penyangkalan tersebut justru menjadi bagian dari proses kejatuhannya.

Sebagai penutup, ada komposisi “Aftermath” yang menjadi titik kesadaran dari seluruh perjalanan tersebut. Lagu ini membawa pesan tentang pentingnya berhenti, menyadari kesalahan dan kembali ke jalan yang benar melalui pertobatan.

Setelah melihat akibat dari keserakahan dan dosa, manusia dihadapkan pada kesempatan untuk berubah.

Secara keseluruhan, “Karma” merupakan perjalanan dari keserakahan menuju kehancuran, dari dosa menuju penyangkalan dan dari konsekuensi menuju kesadaran serta pertobatan.

Ego Ngebut

Di racikan musiknya, Hyper melampiaskan energi agresif dan intensitas yang lebih tinggi.

EP “Karma” ditempatkan sebagai wadah bagi Hyper untuk menyampaikan sebuah cerita tentang sisi gelap manusia dan konsekuensi dari pilihan yang dibuatnya.

Di sini, band yang masih diperkuat vokalis Adam Surya Abdilah, gitaris Luthfi Saadil Malik (Kuwil Malik) dan Fajar Fauzi Firdaus serta dramer Bobby Rezaldi Malik ini memaksimalkan konsep paduan metalcore dan groove yang lebih berat dan lebih cepat.

“Kami mencoba membawa spirit metalcore era 2000-an yang masih dipengaruhi groove metal dan thrash metal ke era yang serba modern ini,” seru Hyper kepada MUSIKERAS menjelaskan.

Menurut mereka, di saat musik metalcore era sekarang terasa ‘template’, Hyper mencoba menyuguhkan bahwa metalcore punya kekuatan, kecepatan serta attitude yang keras.

“Harapannya semoga EP kami yang sekarang bisa mengenalkan ke penggemar baru bahwa musik metalcore tuh banyak jenisnya. Ya contohnya seperti kami ini.”

“Bukan harus soal seberapa down tuning-nya tune yang dimainkan, bukan soal breakdown super berat dan lirik yang menye-menye. Ada sesuatu yang lebih dari itu!”

Keberingasan Hyper, salah satunya bisa dibuktikan di trek “Symphony Of Greed” yang mereka sebut paling menguras waktu dan emosi saat penggarapannya.

“Karena track ini mungkin menjadi track kami yang paling ngebut, dan ego masing masing personel juga keluar di lagu ini karena lagu ini yang kami tulis bareng-bareng dari awal.”

hyper

Instrumen Tradisional

Dari sisi produksi, proses rekaman “Karma” diungkapkan Hyper tidak terlalu jauh berbeda dengan proses saat mengerjakan album pertama, “Don’t Trust Anyone” (22 Juni 2024).

Masih dibantu oleh Tatang ‘Zoteng’ Sumantri di lini teknis rekaman yang mereka anggap sudah paham betul arah musikal Hyper.

Namun dalam mengeksekusi rekaman per instrumen, kali ini mereka harus memaksimalkan penggunaan tiga studio berbeda. Isian drum dan gitar dilakukan di Fun House Studio, vokal di Level Music Studio dan bass beserta instrumen lainnya di 3BM Studio.

Juga, kali ini Hyper menerapkan formula baru dimana mereka mencoba eksplorasi instrumen tradisional seperti kacapi, suling, tarompet serta karinding.

“Proses rekaman berjalan selama enam bulan, mixing-mastering satu bulan. Terbilang cepat karena beberapa lagu emang sudah fix untuk di eksekusi, tanpa membuang waktu di studio.”

“Karma” telah diedarkan sejak Jumat, 2 Oktober 2026 lalu di berbagai gerai pemutar musik digital, bekerja sama dengan Coexist Music. (@mudya_mustamin/MK01)

Susunan Lagu:

  1. Karmageddon
  2. Symphony of Greed
  3. Fall
  4. Aftermath
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
siksakubur
Read More

SIKSAKUBUR: Tiga Dekade Sang Monster

Momentum kembalinya Andre Tiranda dari masa hiatus telah menekan tombol aktivitas Siksakubur untuk kembali menyalak, rayakan 30 tahun melawan tunduk.