Paraclete Messiah melepas ’13 ritual, 13 gerbang dan satu kebangkitan’ di album perdananya yang bertajuk “Alive”.
“Kami tidak menulis 13 lagu, tapi membuka 13 gerbang. Kami menyebutnya ritual metalcore,” seru unit keras asal Magelang, Jawa Tengah ini kepada MUSIKERAS, menegaskan.
“Alive” adalah sebuah perjalanan ritual, dimana satu gerbang menuju kebangkitan. Secara musikal, album tersebut memadukan orkestrasi epik, riff berat dan vokal ritual untuk menciptakan dunia yang gelap namun transendental. Dari kejatuhan, pengkhianatan, hingga penebusan dosa.
“Kalau banyak band metalcore fokus di breakdown aja, kami fokus di cerita dan atmosfer. Kami dari Magelang, kota yang tenang tapi menyimpan energi besar. Itu yang kami bawa.”
“Kami tidak sekadar bermusik, kami membangun dunia dimana setiap nada adalah doa dan setiap keheningan adalah panggilan untuk bangkit. Ada tema tentang kejatuhan, pengkhianatan sampai penebusan dosa seperti ‘Sraddha’, ‘Mantra’, ‘Jouska’ dan ‘Natura’.”
Atmosfer Thriller
Produksi album “Alive” keseluruhan dijalani vokalis Fhafa Dera, gitaris dan vokalis Riyan Danu serta drumer Rudy Susanto selama hampir setahun.
Paraclete Messiah menggarap semuanya di markas mereka di Magelang. Menurut mereka, banyak ide lagu dan tema lahir tengah malam saat dingin dan sepi.
“Trek seperti ‘Ritual’, ‘Resonance’, ‘Prayers’ memang kami buat sebagai napas dan jeda, biar album ini terasa seperti satu perjalanan utuh saat resmi kami rilis 17 September 2026.”

Banyak referensi yang didengarkan para personel band ini saat meracik komposisi serta aransemen 13 lagu di album debutnya itu.
Dari sisi berat dan pemicu groove, mereka banyak mendengarkan materi musik dari band-band mancanegara macam Bring Me The Horizon, Bad Omens, Spiritbox, Knocked Loose, Polaris, August Burns Red hingga Not Enough Space.
“Itu yang membentuk lagu-lagu seperti ‘Dangerous’, ‘Burnout’, ‘Guilty’, ‘Samsara’ dan ‘Countdown’,” ujar band bentukan 2014 ini mengakui.
Sementara di sisi atmosfer dan ritualnya, mereka terinspirasi dari materi soundtrack film-film thriller. “Kami pengen ada rasa tegang, hening dan meledak dalam satu album. Seperti lagu kami ‘Ritual’, ‘Resonance’ dan ‘Prayers’.”
Lagu “Alive” yang berdurasi 4:23 menit dan dijadikan judul album merupakan ‘gerbang ke-11’. Puncak dari semua ritual. Sekaligus menjadi salah satu komposisi yang paling menantang eksekusi rekamannya dari segi teknis.
“Lagunya punya tiga fase emosi: rapuh, marah dan pasrah. Vokal harus ganti beberapa teknik.”
“Seperti yang Fhafa bilang, ‘Alive’ adalah pengakuan. Dari kejatuhan, dari luka, dari dosa. Di akhir semua keheningan itu, kami menemukan satu kata: hidup! Setelah take lagu itu kami semua diam.”
Lagu menantang yang kedua adalah “Sraddha” yang berdurasi 3:32 menit. Alasannya, “Karena secara groove dan emosi harus seimbang antara suci dan gelap. Salah satu instrumen terlalu keras, feel-nya langsung hilang.”
Lewat “Alive”, Paraclete Messiah ingin mengajak pendengarnya untuk tidak takut menghadapi sisi gelap diri sendiri. Karena dari sanalah kebangkitan sejati dimulai.
Setelah perilisan album tersebut, Paraclete Messiah berencana bakal menggelar rangkaian pertunjukan ritual di beberapa kota di Indonesia.
Dengarkan “Alive” di berbagai gerai pemutar musik digital. Termasuk Bandcamp dan YouTube Music. (@mudya_mustamin/MK01)
Susunan Lagu:
