Ritual Doom tepat berusia 34 tahun bulan ini. Sebagai perayaannya, unit metal asal Jakarta bentukan November 1992 silam ini telah memuntahkan karya album terbaru, bertajuk “Resurgam”.
Sebelumnya, band yang diperkuat formasi vokalis Oki Yafie Firdaus (Yafie), drumer Bagus Purnama Tri Putra (Bagoez), gitar Viska Selviana (Vivi) dan Asep Saprudin (Aden) serta bassis Erzi Komara (Erzi) ini pernah merilis album mini (EP) berjudul “Beginning of the End” pada 1997 silam.
Sebuah karya rekaman yang menjadi bagian penting dari perjalanan awal Ritual Doom, sekaligus menandai eksistensi mereka dalam perkembangan skena death metal ‘bawah tanah’ Jakarta.
Sayangnya, setelah periode tersebut, band ini memasuki masa hiatus yang panjang. Waktu berlalu, skena berubah dan generasi berganti. Namun fondasi yang dibangun lebih dari tiga dekade tetap menjadi bagian dari identitas Ritual Doom.
Lewat “Resurgam”, mereka kembali dengan satu tujuan: melanjutkan sesuatu yang pernah tertunda. Bukan sekadar reuni untuk mengulang masa lalu, tetapi sebuah kelanjutan dari perjalanan yang belum selesai.
Album itu menjadi penanda babak baru sekaligus manifestasi dari energi yang telah terpendam selama bertahun-tahun. “Resurgam” adalah rekaman tentang keberlanjutan, kemarahan dan sikap untuk tetap berdiri di tengah dunia yang terus berubah.
Diadopsi dari frasa Latin, ‘resurgam’ yang bermakna gagasan untuk bangkit kembali membawa sudut pandang dan karakter narasi yang berbeda lewat lirik delapan lagunya.
Sebagian berbicara dari perspektif personal, sebagian mengamati manusia dan lingkungannya dari kejauhan. Keseluruhan membentuk satu lanskap gelap tentang manusia, kehancuran, kekuasaan, kebencian, penderitaan dan usaha untuk bangkit dari titik terendah.
Album ini adalah rekaman tentang apa yang terjadi ketika kegelapan tidak lagi sekadar sesuatu yang ditakuti, tetapi menjadi sesuatu yang harus dihadapi.
Lebih jauh tentang proses kreatif di balik produksi “Resurgam” yang diedarkan via label Newhope Records, para personel Ritual Doom meluangkan waktu untuk menjawab beberapa pertanyaan dari MUSIKERAS.

Ceritakan lebih jauh tentang ‘Resurgam’ dan mengapa butuh waktu lama buat kalian untuk bisa mewujudkan album ini?
“Album ini merupakan perpaduan antara empat materi lama yang kami aransemen ulang dan empat komposisi baru yang lahir pada pertengahan 2025.
Empat materi lama tersebut adalah ‘Fresh Blood’, ‘Darkness Rising’, ‘Ritual Ceremony’ dan ‘Belati Jiwa’.
Khusus ‘Belati Jiwa’, meskipun merupakan materi lama, (tapi) lagu ini belum pernah direkam sebelumnya. ‘Resurgam’ menjadi rekaman resmi pertamanya.
Kami tidak sekadar mengambil materi lama dan memasukkannya kembali ke dalam album. Setiap komposisi kami bedah ulang, mengevaluasi riff, struktur, dan aransemennya.
Bagian yang masih relevan kami pertahankan, sementara bagian yang dirasa perlu kami bangun kembali dengan pendekatan dan perspektif musikal kami saat ini. Kami ingin materi-materi tersebut tetap memiliki roh aslinya, tetapi hadir dengan karakter produksi dan eksekusi yang lebih matang.
Sementara itu, empat materi baru lahir dari situasi yang cukup mencekam pada pertengahan 2025. Gelombang demonstrasi, kerusuhan di Jakarta, hingga berbagai persoalan yang berkembang di tingkat internasional menjadi pemantik proses kreatif kami.
Situasi yang penuh ketidakpastian itu justru mendorong kami untuk mulai merangkai ide dan mengembangkan komposisi di studio.
Dari kegelisahan, pengamatan dan tekad untuk kembali menghasilkan karya, akhirnya terbentuklah delapan komposisi yang kami satukan dalam ‘Resurgam’.
Sebagai band yang berdiri di Jakarta pada November 1992, perjalanan Ritual Doom tentu tidak selalu berjalan mulus. Kami pernah merilis EP “Beginning of the End” pada 1997, kemudian mengalami beberapa periode vakum. Untuk ‘Resurgam’, kami hadir dengan formasi baru. Vivi menjadi satu-satunya personel yang tersisa dari formasi awal, sementara Aden, Yafie, Erzi dan Bagoez membawa energi serta perspektif baru tanpa meninggalkan karakter musikal Ritual Doom.
Proses rekaman ‘Resurgam’ berlangsung sepanjang 2025 hingga 2026. Pengambilan take gitar untuk sebagian materi dilakukan di 3Root Studio, Depok, sementara proses rekaman selebihnya dikerjakan di Apache Studio, Bekasi.
Kedua studio tersebut menjadi bagian dari proses panjang kami dalam menerjemahkan delapan komposisi ‘Resurgam’ ke dalam sebuah album yang utuh.
Mengapa baru sekarang? Karena bagi kami, ‘Resugram’ bukan sekadar proyek reuni atau upaya menghidupkan nostalgia. Kami ingin memiliki alasan yang kuat untuk kembali berkarya. Tekad untuk tetap hidup melalui musik. Album ini bukan tentang mengulang masa lalu, melainkan membawa identitas yang telah kami bangun sejak 1992 ke dalam realitas hari ini.”
Dari segi musikal, apakah kalian melakukan penyesuaian dengan perkembangan death metal hari ini? Atau kalian tetap memelihara apa yang telah menjadi karakteristik musik kalian selama ini?
“Tentu kami tetap mengikuti perkembangan death metal hari ini, setidaknya sebagai pendengar. Banyak band baru dengan pendekatan musikal yang menarik, mulai dari technical, brutal hingga cavernous death metal. Kami menghargai perkembangan tersebut dan tidak menutup diri terhadap berbagai eksplorasi musikal.
Namun, ketika menggarap ‘Resurgam’, kami menyadari bahwa kami tidak perlu menjadi band lain untuk bisa tetap relevan. Karakter permainan dan pendekatan penulisan riff Ritual Doom telah terbentuk sejak 1992. Itulah fondasi yang kami pertahankan dan kembangkan dalam album ini.
Pilihan kami adalah tetap jujur terhadap karakter musikal sendiri: old school death metal dengan riff yang berat, agresif dan memiliki groove yang kuat.
Bukan berarti kami menolak perkembangan atau menutup diri terhadap hal-hal baru. Kami hanya tidak ingin kehilangan identitas dengan memaksakan sesuatu yang bukan karakter kami. Bagi kami, perkembangan musikal seharusnya berlangsung secara natural, bukan karena tuntutan tren.”
Bagaimana peracikan komposisi serta aransemen lagu-lagu di album “Resurgam”?
“Secara musikal, referensi utama kami tetap berakar pada Tampa, Florida, yang merupakan salah satu kiblat penting death metal era 1990-an. Karakter musik dari wilayah tersebut memiliki pengaruh kuat terhadap perjalanan musikal Ritual Doom sejak awal terbentuk.
Pendekatan riff, ketebalan distorsi, karakter sound gitar yang kering, berat dan agresif menjadi elemen yang ingin kami pertahankan dalam album ini.
Kami tidak bermaksud mereproduksi sound masa lalu secara mentah, tetapi mengambil esensi musikalnya dan menerjemahkannya melalui pendekatan produksi saat ini.
Di sisi lain, tema lirik mengalami perkembangan. Jika pada masa awal Ritual Doom lebih banyak mengangkat nuansa horor, kali ini Yafie sebagai penulis seluruh lirik membawa perspektif yang lebih dekat dengan realitas kehidupan manusia.
Kehancuran, penderitaan, kemunafikan, kemerosotan moral, kebencian, kekuasaan serta pergulatan manusia dengan sisi tergelapnya menjadi tema utama yang diangkat.
Gagasan tersebut berangkat dari pengamatan terhadap berbagai realitas sosial, termasuk situasi yang terjadi di Jakarta pada pertengahan 2025.
Dengan demikian, ada kesinambungan antara akar musikal kami sejak 1992 dan perspektif lirik yang lebih aktual. Musik tetap berpijak pada identitas lama, sementara gagasan yang disampaikan merefleksikan realitas masa kini.”
Dari delapan lagu yang disuguhkan, manakah yang paling menantang secara teknis saat mengeksekusi rekamannya?
“Dari keseluruhan materi, ‘Fresh Blood’ menjadi salah satu lagu yang paling menantang secara teknis untuk kami eksekusi.
Komposisi lagu ini memiliki pola dan perpindahan bagian yang menuntut ketelitian dalam menghitung ketukan. Tidak semua bagian bisa dimainkan hanya dengan mengandalkan feeling.
Ada struktur ritmis yang harus benar-benar dipahami dan dijaga bersama. Kesalahan kecil dalam menghitung dapat berpengaruh langsung terhadap keseluruhan transisi dan kekompakan permainan.
Tantangannya bukan semata-mata pada kecepatan atau kompleksitas riff, melainkan pada presisi dan koordinasi antarpersonel. Gitar kembar Vivi dan Aden harus memiliki perhitungan serta sinkronisasi yang tepat. Sementara Bagoez di drum harus mampu menjaga ketepatan ritmis, stamina dan feel lagu secara bersamaan.
Bagi kami, memainkan bagian cepat bukan satu-satunya tantangan. Justru bagaimana menjaga ketepatan, mengendalikan dinamika dan menempatkan setiap pukulan serta riff pada momentum yang tepat merupakan hal yang paling menentukan.
Karena dalam death metal, bukan hanya seberapa cepat kita menghantam, tetapi juga seberapa tepat kita menentukan kapan harus menghantam!”
Sejak akhir Oktober 2026 lalu, album “Resurgam” sudah diedarkan secara eksklusif via label Newhope Records, hanya dalam format fisik kaset dan CD. Tanpa disertai rilisan digital. (@mudya_mustamin/MK01)
Susunan Lagu:
- Toxied
- Memoar
- Sabda Jalang
- Belati Jiwa
- Sekarat Terjerat
- Darkness Rising
- Ritual Ceremony
- Fresh Blood
