TraXion kembali membakar lewat karya rekaman terbarunya, “Tangan Besi” yang memadukan riff thrash metal cepat dan tajam dengan tekstur industrial ala Sepultura era album “Chaos A.D.”, serta patahan breakdown berat bergaya metalcore yang siap mengguncang lantai pit.
Sebelumnya, band asal Jakarta bentukan 1 Januari 2025 ini telah menancapkan agresi pertamanya lewat album mini (EP) debut bertitel “Furnace Reborn” pada 12 Juni lalu.
EP tersebut memuat tiga lagu cadas berjudul “Kacawww”, “Akhir Riwayat” dan “Crimson Dawn” – yang hingga saat ini sudah tembus lebih dari 1500 kali didengarkan di platform Spotify.
Peluncuran resminya sendiri digelar di PFN Otista, Jakarta pada 26 Juli lalu, bertepatan dengan hajatan Underworld Unleashed bersama Underworld Magazine.
“Tangan Besi” sendiri menonjolkan sisi agresif dan futuristik dari TraXion yang menyalak dari semburan suara gitar yang mekanis, deru dram seperti mesin pabrik serta raungan vokal yang meledak-ledak. Gaya khas vokalis Bizmaesa Hadhi (Esa).
Bagi TraXion yang juga diperkuat gitaris M. Fiqih Ismail dan Rizky Ramadhan, dramer Eris Natansa serta bassis M. Safiq, “Tangan Besi” bukan sekadar lagu, tapi manifestasi amarah sosial dan semangat pemberontakan yang mereka bawa sejak awal berdiri.
Wiro Sableng
Proses kreatif peracikan “Tangan Besi” bermula dari vokalis Esa yang sudah memiliki lirik dasar. Lirik tersebut lahir dari keresahan terhadap berbagai isu yang terus bermunculan di pemberitaan—mulai dari berita miring, skandal, hingga bencana.
“Ada rasa kecewa terhadap keputusan oknum elit, sistem hukum, dan kesejahteraan rakyat yang terasa jauh dari kata adil. Semua keresahan itu kemudian kami tuangkan menjadi amarah yang jujur dalam ‘Tangan Besi’,” seru esa kepada MUSIKERAS.
Dari lirik tersebut, Esa mengajak gitaris Fiqih untuk mulai menggarap aransemen. Sejak awal, keduanya membangun lagu tersebut dari riff gitar sebagai fondasi utama.
“Karakter lagu memang diarahkan agresif dan ditujukan untuk kebutuhan live, khususnya mosh pit, sehingga riff dibuat sekeras, seintens dan se-energik mungkin.”
Sementara dalam pengonsepan awal di musiknya, TraXion sempat ingin membawa “Tangan Besi” ke arah thrash yang groove dan eksperimental.
Referensi awalnya cukup beragam, mulai dari lagu “Diplomasi Gila” milik band metal legendaris Rotor, lalu “Roots Bloody Roots” dari Sepultura, hingga sentuhan lokal macam “Jagonya Wiro Sableng” (OST Wiro Sableng).
“Namun, di tengah proses penggarapan, dramer Eris (Natansa) mengusulkan beat yang lebih cepat dan beringas. Dari situ, arah lagu berubah menjadi lebih agresif dan intens.”
Esa, Fiqih dan Eris lantas mengembangkan komposisi bersama melalui sesi latihan. Setelah struktur utama terbentuk dan terasa solid, barulah Rizky dan Safiq masing-masing merekam isian gitar kedua dan bass untuk memperkaya dinamika lagu.
Di tahap akhir aransemen, gitaris Rizky menambahkan sentuhan lead gitar yang lebih manis dengan nuansa rock ballad agar terdengar kontras dengan karakter lagu yang keras.
“Tangan Besi” sendiri sempat mereka jajal di beberapa panggung sebagai materi live untuk menakar respon audiens. Setelah dirasakan cukup matang, proses rekaman pun mereka lakukan di markas TraXion sendiri, Underworld Project, yang juga merupakan rumah manajemen dari TraXion, Archsonic dan Daydream.
“Namun setelah proses rekaman awal, kami merasa karakter lagunya masih terlalu mentah dan cenderung ke thrash metal old school. Kami ingin menghadirkan nuansa yang lebih modern sesuai identitas TraXion yang mengusung konsep hybrid thrashcore.”
Karena itu, mereka pun menggandeng Noviar Fikal Laude – dramer sekaligus produser Archsonic dan produser di Underworld Project – untuk terlibat lebih jauh.
“Bersama Fikal, kami menambahkan unsur industrial, sehingga ‘Tangan Besi’ berkembang menjadi thrash metal industrial dengan karakter yang lebih segar.”
Dari sisi sound, lanjut pihak TraXion lagi, mereka ingin thrash metal yang tidak sepenuhnya old school, melainkan juga modern, dengan pendekatan seperti band-band dunia macam Sylosis atau Trivium era terbaru.
“Kami tidak terpaku pada satu referensi tertentu karena semuanya mengalir secara natural. Namun dari sisi karakter sound, kami cukup banyak mengambil inspirasi dari band-band thrash metal modern seperti Sylosis, Trivium, dan Havok—band-band yang berhasil membawa thrash metal ke arah yang lebih segar tanpa kehilangan akar.”
Meski demikian, TraXion juga meyakinkan bahwa pengaruh thrash klasik tetap terasa. Terutama dari band-band seperti Megadeth dan Iron Maiden, plus sentuhan Dave Mustaine (Megadeth) yang cukup kuat di karakter permainan gitar mereka.

Eksplorasi Terbuka
Proses pengerjaan “Tangan Besi” terbilang panjang. Materi dasarnya sebenarnya sudah siap sejak sekitar Mei dan sempat direkam secara mandiri, tetapi belum terasa rapi.
Bahkan sempat tertunda lantaran mereka teralihkan konsentrasi ke rangkaian Road to Hammersonic, dimana TraXion lolos ke HammerClash.
“Sehingga jadwal panggung cukup padat. Rekaman final baru benar-benar terealisasi pada bulan Agustus.”
Tantangan terbesar TraXion dalam pengeksekusian “Tangan Besi” mereka akui lebih terasa dalam memadukan fondasi thrash metal dengan unsur-unsur modern, tanpa harus kehilangan identitas thrash itu sendiri.
“Thrash metal punya pakem yang sangat kuat, dan tantangan kami adalah mendobrak pakem tersebut tanpa membuatnya kehilangan rasa.”
Namun target ke depan, para personel TraXion cukup terbuka untuk mengeksplorasi berbagai elemen. Mulai dari death metal, metalcore, kemungkinan penggunaan vokal clean, hingga kolaborasi dengan musisi lain.
“Tujuannya bukan sekadar bereksperimen, tapi tetap menjaga agar TraXion terdengar sebagai band thrash metal dengan karakter yang berbeda dan relevan dengan perkembangan musik metal saat ini.”
Furnace Reborn
Saat ini TraXion sedang dalam tahap pengerjaan album penuh pertama yang sementara ini juga diberi judul “Furnace Reborn”. Materi-materi dari EP sebelumnya rencananya akan mereka satukan ke dalam album ini.
Selain itu, juga ada beberapa lagu baru yang sebenarnya sudah selesai secara materi, namun belum diproses ke tahap rekaman.
“Kami juga sedang menyiapkan lagu-lagu dengan karakter yang cukup berbeda, termasuk dua lagu bernuansa ballad yang lebih emosional dan personal.”
Tapi tentunya, di sisi lain, tetap akan ada lagu-lagu keras dengan ciri khas TraXion, namun dengan tema yang lebih dekat dengan pengalaman dan kehidupan mereka sendiri.
Secara keseluruhan, kerangka album yang bakal memuat sembilan amunisi lagu sudah terbentuk.
“Target kami, proses rekaman album bisa selesai setelah Lebaran (tahun depan), dan mudah-mudahan album ‘Furnace Reborn’ bisa segera direalisasikan!”
“Tangan Besi” telah dirilis sejak 25 Desember 2025 lalu. (mdy/MK01)