Rain For Summer yang dibentuk pada 2023 lalu, awalnya hanya lantaran terinspirasi beberapa band mancanegara yang mereka gemari, dan keinginan untuk memainkan lagu-lagu mereka. Sekadar hobi dan hanya main di panggung-panggung kecil.
Tapi seiring berjalannya waktu, gitaris Kadek Wahyu Juliarta (Wahyu) dan vokalis I Wayan Gede Langun Kusuma (Langun) yang menggagas terbentuknya Rain For Summer merasa perlu melangkah lebih jauh dengan menciptakan karya sendiri.
Mereka akhirnya mulai membentuk identitas musikalnya, dengan mengambil nuansa old school post-hardcore dan emo yang kental akan melodi emosional, vokal ekspresif serta energi agresif khas era 2000-an.
Namun sama halnya kebanyakan band, geliat Rain For Summer juga tidak terlepas dari proses perubahan personel.
Hingga akhirnya Putu Dany Indrawan (Dany) bergabung memperkuat lini bass, disusul gitaris Komang Gandi Merdana (Gandi) serta dramer Putu Agus Darma Putra (Agus).
Dengan formasi ini, band post-hardcore/emo asal Bali ini pun berhasil merampungkan EP perdananya, yang diberi judul “Smoking in the Rain”.
Sebuah karya yang diproduksi secara mandiri dan menjadi fase penting dalam perjalanan kreatif Rain For Summer dari sekadar band hobi menuju entitas musik yang lebih serius.
Head Voice
EP “Smoking in The Rain” sendiri digarap selama kurang lebih satu tahun, dimana mereka mendaur ulang tiga lagu yang sudah direkam sebelumnya, yakni “Into the Dark”, “Farewell” dan “Smoking in the Rain”.
“Kemudian kami merampungkan lagu berikutnya, ‘I Hear Your Voice Still Breathing’ dan terakhir, ‘Withered’,” urai kubu band kepada MUSIKERAS mengungkap urutan produksinya.
Proses rekaman instrumen dilakukan secara mandiri oleh Wahyu Juliarta dan Dany Indrawan dengan memaksimalkan alat seadanya. Menggunakan gitar, soundcard laptop serta headphone. Sementara untuk vokal, direkam di Pizza Record.
Setelah itu, Wahyu lantas mengeksekusi sendiri pemolesan mixing dan mastering.
“Justru karena keterbatasan kesibukan dan jarak, lagu ini masih belum bisa menggabungkan musikalitas dari kelima personel. Dapat dikatakan untuk proses kreatif cuma dilakukan oleh beberapa member.”
Saat meracik komposisi serta aransemen lagu-lagu di “Smoking in The Rain”, para personel Rain For Summer mengakui sangat terinspirasi geberan musik dari band-band seperti Saosin, L.S. Dunes, Anthony Green, Secret and Whisper hingga Story of The Year.
“Dari segi musikal, kami membuat instrumentasi dengan tempo yang cepat energik, riff-riff gitar yang kental akan nuansa old school, namun tetap dengan nada-nada yang dapat dinikmati penikmat musik populer,” urai band ini, meyakinkan konsepnya.
Bisa dibilang, lanjut mereka lagi, Rain For Summer mengambil konsep ‘throwback’ ke era post-hardcore/old school emo, dengan instrumentasi yang terbilang ‘mentah’ dan minim penggunaan sequencer.
“Kami mengusung kembali emo yang didominasi oleh suara melengking, dram dan riff gitar yang kompleks, dan tidak mengedepankan alunan string dan instrumen sequence lainnya!”
Di salah satu lagu, yang sekaligus dijadikan judul album, band ini menyebutnya cukup menantang dalam penggarapannya. Lantaran secara teknis, mereka mencoba meggabungkan elemen permainan gitar harmonic ala Saosin dengan nada ‘head voice’ dan ‘miring-miring’ seperti L.S. Dunes.
“Dengan tempo yang tidak begitu cepat, namun tidak lepas dari genre yang kami usung.”
Bagi band ini, EP “Smoking in the Rain” ini bukan sekadar sebuah rilisan, tetapi representasi perjalanan emosional, rasa nostalgia, serta energi khas dari skena emo/post-hardcore yang coba mereka hidupkan kembali, melalui karya orisinal yang kini siap diperdengarkan kepada publik.
Keseluruhan materi lagu yang termuat di EP “Smoking in the Rain” sudah bisa digeber di berbagai platform digital sejak 12 Desember 2025 lalu. (mdy/MK01)