Nameless Crown telah meluncurkan karya rilisan tunggal terbarunya, yang bertajuk “Houkai//Collapse” (崩壊). Lagu ini, sekaligus menandai kehadiran gitaris baru di formasi unit visual kei bentukan 2024 lalu ini.
Personel baru itu adalah gitaris Nur Ihsan Rahayu Nirwana (Nirn), yang melengkapi sekaligus memperkuat formasi vokalis Ganendra Putra Gunawa (Dju’en), dramer Ismail Arya Pratama (Sai), gitaris Ghazali Umar Rofiq (Guro) dan bassis Joenardi Nurul Amal (Zhou Na).
Kehadiran Nirn, mereka sebut memberikan tekstur baru pada aransemen musik Nameless Crown. Menciptakan harmoni yang lebih kompleks, sekaligus menambah intensitas distorsi yang menjadi ciri khas mereka.
Kandungan lirik “Houkai” sendiri mengekspresikan kehancuran, merepresentasikan tema runtuhnya emosi, identitas dan realita yang dibangun di atas luka dan kekecewaan.
Lagu ini menampilkan sisi band asal Surakarta (Solo), Jawa Tengah ini yang lebih matang, intens dan jujur. Baik dari segi aransemen maupun penyampaian lirik.
Retak, Hancur
Berawal dari keinginan para personel Nameless Crown untuk mengeksplorasi sisi emosi yang lebih gelap dan rapuh dibanding lagu rilisan lepas sebelumnya, maka lahirlah “Houkai”.
Sebelumnya, tepatnya pada 18 Mei 2025 lalu, mereka telah memperdengarkan lagu debut berjudul “Throne of Disgrace”.
“Lagu ini awalnya dibangun dari intro orchestra yang sudah membawa nuansa ‘retak’ sejak awal,” cetus pihak band kepada MUSIKERAS tentang proses kreatif awal peracikan “Houkai”.
Dari situ, lanjut mereka, struktur lagu lantas dikembangkan bersama-sama di ruang latihan, kemudian masuk ke tahap pra-produksi. Secara keseluruhan, proses dari penggarapan lagu hingga final memakan waktu kurang lebih empat bulan.
“Karena kami ingin lebih rinci dalam mengolah detail, dinamika dan atmosfer lagu.”
Ada perbedaan konsep musik yang diterapkan di “Houkai”, jika dibandingkan dengan “Throne of Disgrace”. Mereka mendeskripsikannya sebagai evolusi musikal Nameless Crown.
Jika “Throne of Disgrace” lebih menonjolkan agresivitas dan kemarahan, maka “Houkai” berpusat di area kehancuran batin, lebih keras, lebih emosional, lebih dramatis dan lebih melodis.
“Struktur lagu lebih dinamis, chorus yang lebih melodik dan melankolis, serta musik keras yang lebih menghantam dari sebelumnya. Perbedaannya (juga) terletak pada bahasa yang menggunakan bahasa Jepang seutuhnya.”
Namun dengan segala kombinasi tersebut, diakui para personel band ini memberikan tantangan teknis tersendiri. Mereka harus bisa menjaga keseimbangan antara teknikalitas dan rasa agar terlihat nyata seperti produksi musik Jepang.
“Kami ingin lagu ini tetap terasa kuat dan berat, tapi tidak kehilangan emosi yang ingin disampaikan,” seru mereka menegaskan.

Dalam proses peracikan komposisi serta aransemennya, ide-ide yang diterapkan di “Houkai” sedikit banyak datang dari beberapa referensi yang cukup beragam.
Mulai dari band-band visual kei klasik hingga modern seperti The Gazette, Nocturnal Bloodlust, Damned, Kizu hingga Unlucky Morpheus. Terutama yang kuat dalam membangun atmosfer gelap, mewah dan melankolis.
“Selain itu, kami juga terinspirasi dari musik metal universal seperti Architects, Lorna Shore, Mayhem, Sleep Token, serta lagu lagu soundtrack film, game dan scoring music.”
Tapi Nameless Crown dengan tegas menyatakan bahwa semua referensi tersebut tidak lantas ditiru secara mentah. “Tapi kami olah kembali agar sesuai dengan ciri khas karya-karya Nameless Crown sendiri.”
Estetika, Autentik
Tentang konsep visual kei di band ini, Nameless Crown juga meyakinkan bahwa terapannya tidak sekadar visual estetika semata. Namun sebagai perpanjangan dari musik dan cerita tiap karakter yang mereka bawakan.
“Setiap konsep visual, lirik, dan aransemen saling terhubung untuk membangun suatu movement (pergerakan) dan dunia yang sangat berbeda di pandangan publik,” cetusnya.
Lalu selain itu, latar belakang dan pengaruh tiap personel yang berbeda-beda juga membuat karakter musik Nameless Crown tidak terpaku pada satu pakem visual dan satu pakem genre saja.
“Houkai” sejauh ini dianggap para personel Nameless Crown sebagai penegasan komitmen mereka untuk terus berkembang dan menghadirkan karya yang autentik di skena visual kei Indonesia.
Dengan modal dua rilisan lepas yang telah beredar di berbagai gerai digital streaming, Nameless Crown ingin lebih aktif memperkenalkan eksistensi serta agresi mereka ke audiens yang lebih luas.
Tapi di luar itu, mereka juga sudah memulai proses penggarapan materi baru untuk proyek selanjutnya. Bahkan beberapa lagu sudah memasuki tahap pengembangan.
“Kami ingin fokus di rilisan digital dulu, dan memastikan setiap rilisan berikutnya benar-benar merepresentasikan tiap fase Nameless Crown, baik secara musikal maupun visual.”
Tonton video musik “Houkai//Collapse” via tautan kanal YouTube ini. (mdy/MK01)