Di “Sky Burial”, FORNICATION ‘Kubur’ Deathcore yang Generik

Memastikan masih mencengkeram kuat di jalur musik deathcore, namun unit keras asal Yogyakarta ini tak ingin terjebak menjadi band yang generik. Deathcore versi Fornication telah dieksplorasi sedemikian rupa sehingga kini – menurut mereka – telah menjadi jati diri Fornication.  Formula ini telah mereka tancapkan sebagai penanda era baru, lewat sebuah single rekaman terkini bertajuk “Sky

“I Am Hanna”, Adalah Kebrutalan Slamming Death Versi MANNEQUIN GORETUARY

Bagi banyak musisi, pandemi telah membatasi ruang gerak untuk berekspresi di panggung. Tak ada lagi keriuhan konser atau gigs yang kerap bermandikan peluh, dimana sebuah band bisa merasakan keseruan berinteraksi langsung dengan para pemujanya. Tapi di sisi lain, pandemi ternyata juga membawa hal positif. Salah satunya adalah ketersediaan banyak waktu luang untuk menghasilkan karya. Seperti

CROSSXOVER Tekan Tensi Electronic Metalcore di Single “Adorable”

Band electronic metalcore yang terbentuk pada 3 Maret 2016 di Yogyakarta ini mencoba menyuguhkan konsep berbeda di single terbarunya, yang berjudul “Adorable”. Sebuah lagu bertema cinta, yang dibalut suara gitar berdistorsi, piano, biola serta sedikit scream. Kenapa membuat lagu dengan tema cinta? Karena Crossxover kali ini ingin membuat sesuatu yang berbeda dibanding karya-karya rekaman mereka

BUFXCTER Geber Skramz Eksperimental di Single “Cold Hands”

Pengalaman menggarap album mini (EP) pertama mereka, “Pale and Sleepless” (Mei 2020) membuat para personel unit screamo/skramz/post-hardcore asal Yogyakarta ini kini lebih percaya diri dalam menggarap single terbarunya, yang bertajuk “Cold Hands”. Lagu ini, menjadi gerbang pembuka untuk materi lainnya yang akan mereka rilis dalam EP berikutnya. Bufxcter yang masih diperkuat formasi Mokhammad ‘Rifin’ Arifin

ATAVISTI Lampiaskan “Nyana”, dengan Warna Putus Asa yang Kejam

Walau sempat merilis single debut bertajuk “Nona di Ujung Sana”, namun kelompok rock eksperimental bernuansa teatrikal asal Yogyakarta ini merasa perlu menegaskan bahwa pada awalnya mereka lahir dari sebuah pementasan teatrikal berjudul “Gugat Dewi” pada Mei 2018 lalu, dimana Atavisti berkolaborasi dengan Teater Selasar, unit teater mahasiswa di Yogyakarta. Di momen itu, kedua pihak sepakat

SHCKTHRPY Beri Kejutan Nu Metal, Rilis Single “Bersukalah!!!”

Nu metal belum kehilangan magnetnya. Paling tidak bagi unit cadas groovy yang memancangkan kibaran karirnya dari kota Yogyakarta ini. Bagi SHCKTHRPY, sub-genre yang sempat ‘pecah’ di era awal 2000an itu adalah musik yang bisa mengikat chemistry para personelnya. Apalagi, mereka memang sama-sama datang dengan referensi yang sama.  “Kami anggap cocok dengan referensi kami masing-masing yang

ALECTRONA Lecut Mental via “Super Generation” yang Anthemic

Sekitar tujuh bulan setelah melantangkan “Ego”, trio modern rock asal Yogyakarta ini kembali menyalak. Sebuah single baru yang sarat pesan positif di uraian liriknya telah dirilis sejak 10 April lalu di berbagai platform digital. Bertajuk “Super Generation”, dimana Alectrona melecut mental generasi muda agar mampu menguatkan diri, lebih percaya diri, tangguh dan pantang menyerah sebagai

EASTERN TRAFFIC Umbar Kisah Kematian, Setelah Terlahir Kembali

Eastern Traffic kembali menggelorakan karirnya di skena musik Tanah Air, khususnya di Yogyakarta. Tidak dengan persiapan setengah matang, namun datang dengan amunisi baru berupa sebuah album baru bertajuk “Innocent Moves” yang rencananya bakal dilepas via Species Music, pada November 2021 mendatang. Dan sebagai gerbang pembuka, band yang sempat vakum selama tujuh tahun tersebut telah meluncurkan

THE MELTING MINDS Rapalkan Kisah Epik Legenda Kejawen

Unit rock asal Yogyakarta, Jawa Tengah ini merupakan kelompok eksperimen imajinasi, yang baru saja merilis single keduanya, berjudul “Possessing The Witch” melalui label independen mereka sendiri, Boneless Records. Sebelumnya, band yang tercipta dari ketidakaturan yang teratur pada 2020 lalu, oleh vokalis dan gitaris Slinky Bones, gitaris Ahmad Tubagus, multi-instrumentalis Dhandy Satria, bassis Restu Prabawa, synth/singer

Usai ‘Menepi’, ZUES Cetuskan “Blacklist” yang Gahar Hari ini

Keras, memacu adrenalin, anthemic, namun tetap easy listening. Itulah target utama Zues, unit cadas asal Yogyakarta yang baru saja merilis single terbarunya sejak ‘menepi’ dari bilik rekaman, usai perilisan album “Buka Mata Buka Telinga” pada 2005 silam. Tapi ‘pertapaan’ yang mereka jalani akhirnya terbayarkan. Single baru Zues yang bertajuk “Blacklist” menunjukkan pengembangan konsep musikal yang

Album Baru DEVOURED Menukik ke Death Metal Kelam

Keberingasan brutal death metal kini sedikit dilenturkan oleh unit cadas asal Yogyakarta ini. Selepas debut album “The Lost Kingdom” yang dirilis pada 2013 lalu, yang lantas dilanjutkan menjalani tur ke berbagai kota di Indonesia, Devoured sampai pada pemikiran baru. Mereka meramu sebuah gagasan yang mengakibatkan pergeseran di konsep musiknya. Seperti yang mereka tuangkan di album

INFINITE SIENNAS, Trio Indie Rock/Shoegaze Unik dari Yogyakarta

Mencoba menjauh dari gerak-gerik stoner, doom dan grunge yang sebelumnya dianut para personelnya di band masing-masing, trio rock asal Yogyakarta ini pun sepakat mendirikan Infinite Siennas. Konsepnya bisa dibilang lebih ringan, seperti yang tertuang di single pertamanya, “Chocolate Bar” dibangun dari kerangka indie rock yang lepas dari kesan keras dan gelap. “Secara komposisi musik, ‘Chocolate

Di “Layanan Perang”, PARAPHERNALIA Picu Serangan Jantung

Preferensi setiap personel yang beragam membentuk musik keras tanpa kekangan, memadukan riff-riff berat ala stoner dengan intensitas metalcore, melahirkan konsep musik yang sarat akan lonjakan estetis, ekspresi emosi serta idealisme. Formulasi itulah yang akhirnya tertuang dalam “Layanan Perang”, single perdana Paraphernalia yang telah rilis pada 21 Januari 2021 lalu. Layaknya materi-materi Paraphernalia yang lain, yang

DETRITIVOR Umbar Kebengisan di Album “Scattered Remnants”

Walau diluncurkan tepat pada perayaan ‘hari kasih sayang’, tapi unit death metal yang berbasis di Yogyakarta ini malah injak gas, memberondong lewat karya album debut yang sarat amarah dan kebengisan. Album beramunisikan sembilan trek berbahaya tersebut bertajuk “Scattered Remnants” dirilis via label independen asal Jakarta, Brutal Mind. Detritivor yang diderukan oleh Pambudi Agung Wibowo (vokal),

FIRST TIME Bangkitkan Album Hardcore yang Pernah Hilang

Salah satu punggawa lama nan berbahaya dari skena hardcore di Yogyakarta ini akhirnya berhasil juga melampiaskan album “Self-titled” mereka, setelah sekian lama terpendam di dalam arsip komputer. Bahkan delapan tahun lalu, arsip master rekamannya sempat hilang. Tapi untungnya, di luar cerita soal raibnya master rekaman tadi, penggarapan album yang dinaungi oleh label Samstrong Records ini

Ketika Kopi Hitam Dididihkan Pelaku Musik Cadas

“Musik ekstrim mengajarkan kami bagaimana tetap ada dalam pergerakan, tetap bergerak walau memiliki sedikit ruang, tetap saling bersimbiosis walau tidak besar, dan tetap berkumpul untuk mendukung satu sama lain.”   Tidak bisa dipungkiri, pandemi Covid-19 bukan sekadar virus yang mengancam kesehatan, namun juga menjadi penghancur sektor industri ekonomi. Tak terkecuali di pentas dunia musik. Tapi

BEYOND SYMPHONIC Bangkitkan Rock ‘90an dengan Kontur Progresif

Berawal dari projek ‘solo’ dari dramer Hendika Dwi Prasetyo pada 2019 lalu, dimana kontur progresif dikombinasikan dengan nuansa orkestra serta etnik. Namun karena keterbatasan sumber daya manusia dan susah untuk mengaplikasikannya secara live, maka tahun berikutnya Hendika pun membentuk formasi yang diperkuat tujuh personel. Itulah cikal bakal lahirnya Beyond Symphonic yang mencoba menyumbangkan geliat di

GETWELLSOON Serukan “Metanoia” dengan Pengaruh Pop Punk Hardcore dan Folk

“EP ‘Metanoia’ memiliki beberapa referensi musik, mulai dari band ber-genre pop punk hardcore seperti Billfold, bahkan band ber-genre folk seperti Fourtwnty.” Getwellsoon menegaskan benang merah konsep musiknya kepada MUSIKERAS. Kenapa konsepnya begitu kontras ? “Karena kami berusaha merangkum proses perjalanan kami dalam bermusik dan menggabungkan keempat pemikiran kami untuk menjadi lebih berwarna,” cetus band yang

‘Panggilan Kehampaan’ KLIF di Single “Call of the Void”

Lewat single terbarunya itu, unit rock bernuansa lawas asal Yogyakarta, Klif terpanggil untuk menyatakan keberadaannya, bugar dan menolak tergolek tanpa karya meski pandemi membuat industri dan skena musik di Indonesia babak belur. Sebelumnya, Klif yang diperkuat formasi Kaka Fajar Permana (bass), Satya Windriya (vokal/gitar), Gabriel Garda (gitar) dan Dennis Eliezer (dram) sempat vakum selama dua