Siksakubur akhirnya bergolak lagi. Oktober 2026 menjadi kabar gembira bagi unit death metal asal Timur Jakarta ini. Usai melewati masa hiatus yang cukup panjang, mereka kembali hadir sekaligus menandai perayaan tiga dekade perjalanan kariernya.
Tiga puluh tahun bukan waktu yang singkat. Banyak hal berubah, generasi berganti, skena bergerak, tetapi satu hal tetap dipertahankan. Karakter dan attitude Siksakubur.
Momentum ini menjadi semakin berarti dengan kembalinya Andre Tiranda (gitaris, vokal latar) dari masa hiatus, bersama drumer Adhytia Perkasa, gitaris Ricky Rangga dan vokalis Septian Maulana.
“Ini bukan sekadar kembali bermain. Ini adalah babak baru Siksakubur. Tiga dekade melawan tunduk,” tulis pihak band di siaran pers resminya.
“Tiga Dekade Melawan Tunduk” menjadi tema yang merangkum perjalanan Siksakubur selama 30 tahun.
Bagi mereka, melawan bukan berarti harus selalu berhadapan. Melawan adalah tetap berdiri ketika keadaan berubah. Tetap menjaga karakter ketika zaman berganti. Tetap membawa attitude ketika banyak hal di sekitar ikut berubah.
Hiatus adalah bagian dari perjalanan Siksakubur. Kini, waktunya kembali.
Tiga dekade berlalu, karakter tetap berdiri.
Memanfaatkan momentum perayaan tiga dekade tersebut, kini Siksakubur bersama Warriors Jakarta × Newhope.inc menginisiasi rangkaian konser bertajuk “Tiga Dekade Melawan Tunduk”.
Rangkaian ini menjadi ruang pertemuan antara Siksakubur, komunitas dan berbagai generasi pendengarnya.
Dua kota menjadi bagian dari momentum tersebut, yakni di Nebula, Bali pada 25 Oktober 2026 dan di Newhope Arena, Bekasi pada 7 November 2026 mendatang.
Elemen ular dalam artwork tiga dekade menjadi simbol singkat dari perubahan dan transformasi. Kulit boleh berganti, tetapi karakter tetap sama.
Atas Nama Skena
Tiga dekade juga berarti tiga generasi. Mereka yang sudah mengenal Siksakubur sejak awal, mereka yang tumbuh bersama Siksakubur di tengah perjalanan serta generasi baru yang menemukan ‘sang monster’ melalui musik dan skena hari ini.
Tiga generasi tersebut akan bertemu dalam momentum yang sama. Bukan hanya untuk mengenang apa yang sudah dilewati, tetapi untuk menyambut apa yang akan datang.
Tiga puluh tahun. Tiga generasi. Satu karakter.
Sebuah kolaborasi yang mempertemukan tiga nama dari jalur skena yang berbeda. Siksakubur lahir dan tumbuh dari death metal. Warriors Jakarta dikenal dari pergerakannya di lingkungan hardcore, punk, skinhead, ska, mods dan kultur independen yang tumbuh di sekitarnya.
Sementara Newhope.inc datang dengan ruang, jaringan dan pengalaman menghidupkan panggungnya sendiri.
Berbeda genre. Berbeda kultur. Tapi bertemu di satu hal: Skena!
Tidak ada kebutuhan untuk menyamakan semuanya. Death metal tetap death metal. Hardcore tetap hardcore. Punk tetap punk.
Tetapi ketika orang-orang dari tongkrongan yang berbeda duduk di meja yang sama, bekerja di panggung yang sama dan memiliki rasa hormat yang sama terhadap musik independen, batas-batas subkultur menjadi tidak terlalu penting.
Apalagi, Siksakubur bukan nama yang asing dari pergaulan lintas skena. Para personelnya, terutama Andre Tiranda, telah lama dikenal tidak hanya berada di lingkaran death metal, tetapi juga bergaul luas di berbagai lingkungan dan tongkrongan.
Maka pertemuan ini bukan sesuatu yang dipaksakan. Ini kolaborasi lintas skena yang tumbuh dari hubungan yang memang sudah ada. Dan di titik inilah perayaan tiga dekade menjadi lebih dari sekadar agenda ulang tahun sebuah band.
Ia menjadi gambaran kecil tentang bagaimana skena ‘bawah tanah’ terus bergerak. Bukan dengan menghapus perbedaan genre. Tetapi dengan membuka ruang untuk saling bertemu, bekerja dan bergerak bersama.
“Bukan crossover. Bukan gimmick. Bukan soal siapa paling keras. Ini tentang bagaimana sebuah skena bekerja ketika orang-orang dari latar berbeda memilih untuk berdiri di satu panggung.”

Monster dari Timur
Lahir di sisi Timur Jakarta, lingkungan dan skena tempat Siksakubur tumbuh ikut membentuk karakter serta attitude yang kemudian menjadi bagian dari identitas band.
Dari akar tersebut, lahir sebutan ‘Sang Monster dari Timur’. Bukan sekadar julukan, tetapi gambaran tentang karakter yang dibawa band ini sejak awal. Keras, lugas dan tidak mudah tunduk pada keadaan.
Tiga puluh tahun kemudian, identitas tersebut tetap dibawa ke babak berikutnya. Berganti kulit, bukan berganti identitas.
Selama perjalanan kariernya, Siksakubur telah menghasilkan sejumlah karya rekaman. Dimulai dari album mini (EP) “The Carnage” (2000), lalu album “Back to Vengeance” (2002), “Eye Cry” (2003), “Podium” (Agustus 2007), “Tentara Merah Darah” (22 Februari 2010), “St. Kristo” (18 Mei 2012), “Siksakubur” (27 April 2014) dan “Mazmur: 187” (3 November 2016). (*/MK03)
