Wajah Baru FASIK, Bangkit dengan Konsep Kecadasan yang Modern

Setelah hampir setahun berhibernasi dan menarik diri dari gempuran band-band baru yang bermunculan di kota Malang, Jawa Timur, akhirnya unit cadas yang kini diperkuat formasi baru ini menyalak lagi. Sebuah lagu tunggal bertajuk “Suar di Ujung Lembah” telah dikumandangkan lewat pelantang berbagai platform penyedia jasa dengar musik digital sejak November tahun lalu. Dan kini juga sudah berancang-ancang melepas single susulan.

“Suar di Ujung Lembah” ini merupakan menu pembuka menuju perilisan album dan sekaligus menjadi penanda bergabungnya tiga personel baru di tubuh Fasik. Tiga personel barunya, yakni Khoirul Alfan (dram), Ardian ‘Yayan’ Bagus (bass) dan Yahan Janandaka (vokal) masuk melengkapi kekuatan utama yang sudah dibangun Fasik sejak awal oleh gitaris Dimas ‘Zamid’ Tegar dan Tonny ‘Innot’ Adi. Perubahan ini sedikit banyak menggiring materi  Fasik menjadi lebih segar dan modern.

“Seiring perjalanan waktu kami banyak sekali mengalami perombakan personel, hal yang mungkin wajar dialami band yang sudah stuck karena kesibukan dan pekerjaan. Hal pertama yang membuat kami kesulitan untuk penggarapan materi ialah dengan masuknya tiga personel baru,” urai Fasik yang diwakili Innot kepada MUSIKERAS mengungkapkan.

Eksekusi materi “Suar di Ujung Lembah”, mulai dari proses perekaman per instrumen, vokal hingga mixing dan mastering murni dikerjakan para personel Fasik secara mandiri di Deep Solitude Records, studio milik mereka sendiri. Bahkan termasuk urusan perancangan artwork single dan album serta video musik.

“Proses pengerjaan dan take instrumen selama dua bulan, take vokal dua hari, dan mixing-mastering dua minggu. Total penggarapan sekitar tiga bulan beserta perilisannya.”

.

.

Saat terbentuk pada Mei 2011 silam, gaya bermusik Fasik sebenarnya kental memadukan unsur-unsur metal seperti metalcore, neo-classical deathmetal hingga metal hardcore. Antara lain terinspirasi dan terserap dari band-band asal Amerika Serikat seperti Unearth, August Burns Red, The Black Dahlia Murder serta beberapa band metal dari Inggris macam Anterior, Bleed from Within dan Sylosis. 

Tapi dengan bergabungnya tiga personel baru, membuat Fasik seolah menemukan kegairahan baru. Ada pengembangan di sana-sini yang membuat konsep racikan mereka menjadi lebih kaya. Fasik yang selama ini dimotori Zamid dan Innot memiliki dasar permainan musik metal hardcore, kini harus dipertemukan dengan Yahan yang memiliki karakter vokal yang cenderung ke deathcore. Lalu ditambah pula Yayan yang selama ini berada di band beraliran Japanese pop/jazz serta Alfan yang terbiasa memainkan pola permainan tipikal Dream Theater.

“Maka dari itu, materi dari musik metal kami yang kental akan hardcore, harus diubah sedikit lebih ‘heavy’ dan sedikit ‘fresh’ agar bisa menyesuaikan dengan personel baru kami. Yang awalnya kami memainkan metal yang dicampur dengan riff hardcore yang enerjik, sekarang harus berpindah haluan sedikit dari roots kami. Namun, dibanding rilisan-rilisan sebelumnya, inilah warna musik yang kami cintai!”

Sebelum “Suar di Ujung Lembah”, Fasik sejauh ini telah merilis beberapa lagu lepasan, yang dimulai dari “Patricide”, lalu “Chance To Change” (2013), “Blame Your Self” (2014), “Wrath Of The Gods” (2019) dan “Arise” (2020). (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts