CASTIGATION: “Kali Ini Kami Langsung Menghantam Pendengar!”

Setelah lewati masa kritis, Castigation kembali melecut semangat dengan formasi terkininya, dan hasilkan album brutal bertajuk “Messiah”.
castigation
CASTIGATION

Castigation telah menjadi saksi bisu pasang surut skena ekstrem selama 27 tahun, sejak terbentuk pada 1998 silam. Telah melewati situasi bongkar pasang personel, lalu berpartisipasi di berbagai kompilasi internasional, hingga masa ‘istirahat’ yang sangat panjang.

Tapi pada 2021 lalu, unit death metal asal Bogor, Jawa Barat ini harus melewati titik balik sekaligus ujian terberat dalam perjalanan karirnya.

Saat mereka bersiap untuk kembali menerjang panggung, sang pendiri sekaligus jantung dari band ini, dramer M. Johan Saputra, menghembuskan napas terakhirnya.

Tapi Johan tidak membiarkan api padam. Sebelum wafat, tongkat estafet telah diserahkan kepada gitaris gitaris Reza Irmansyah untuk meneruskan langkah Castigation.

Dengan formasi terkininya, yang juga diperkuat vokalis Nicko Landa Kemala, gitaris Firdi Nodiansyah, bassis Muhammad Ridwan (Ridu) serta dramer M Sofyan Sidiq (Ncop), agresi band yang awalnya bernama Sakratul Maut ini pun digulirkan.

Hasilnya, pada 25 Desember 2025 lalu, album penuh bertajuk “Messiah” disemburkan ke publik via label Maxima Music Pro.

Bagi band ini, “Messiah” adalah sebuah ‘monumen’ dari penantian belasan tahun, yang mengombinasikan agresi death metal klasik dengan pendekatan modern yang digeber dengan intensitas tinggi.

Sedikit banyak menyuntikkan aura gelap band mancanegara seperti Deicide, lalu teknikalitas dan intensitas ala Cannibal Corpse dengan sentuhan modernitas serta hentakan bertenaga dari Stillbirth.

Bagi Castigation, “Messiah” bukan sekadar judul. Kata itu lahir dari keresahan akan kehancuran dunia dan kemunafikan yang merajalela.

Menggambarkan sebuah dunia yang hancur, dimana umat manusia berada di titik terendah dan sangat membutuhkan sosok ‘penyelamat’ (messiah) untuk membimbing mereka keluar dari kegelapan.

Lebih jauh tentang proses kreatif di balik penggarapannya, berikut ungkapan dari pihak Castigation kepada MUSIKERAS:

Eksperimen, Organik

“Awalnya, Castigation hampir bubar di tahun 2021 dikarenakan kami kehilangan sosok dramer sekaligus founder Castigation yang bernama Johan.

Namun kami setuju untuk membangkitkan kembal semangat yang sudah padam, Diawali dengan semangat Reza dan Ridu untuk membakar kembali gairah bermusik di band ini. Lalu kami setuju untuk merekrut vokalis baru yang bernama Nicko dari (band) Scarabius dan Maddam Arcena. Karena kami merasa bahwa tone color vokal Nicko sesuai dengan konsep yang akan kami sajikan di album baru ini.

Lalu setelah berdiskusi panjang, kami setuju menggaet kembali salah satu gitaris pertama Castigation yang bernama Firdi, dari band Krack, Kraken dan Decomposing Normality untuk mengisi kekosongan di posisi gitar.

Dan di album ini, kami (juga) setuju untuk merekrut Sofyan dari Scarabius dan Krack untuk mengisi kekosongan di dram.

Proses kreatif saat merekam album ini terasa lebih organik dan personal dibandingkan karya-karya sebelumnya. Kami memulai dengan eksplorasi ide tanpa target.

Banyak materi lahir dari sesi jamming, percakapan, bahkan dari kesalahan-kesalahan kecil yang justru membuka arah baru secara musikal.

Metode yang cukup berbeda dari rekaman sebelumnya adalah cara kami memperlambat proses. Jika dulu lebih terstruktur dan berorientasi pada hasil akhir, kali ini kami fokus pada proses—mendengarkan ulang, membongkar aransemen, dan berani membuang materi yang terasa tidak jujur secara emosional.

Secara teknis, kami juga lebih terbuka bereksperimen dengan pendekatan rekaman, baik dari segi sound, layering, maupun penggunaan ruang dan dinamika, tanpa terlalu terpaku pada formula yang pernah berhasil sebelumnya.

Pendekatan ini membuat album terasa lebih matang dan merepresentasikan fase kami saat ini. Bukan sekadar pengulangan dari apa yang pernah kami lakukan.”

castigation

Mentah, Menghantam

“Dari segi musikal, konsep death metal di ‘Messiah’ bisa dibilang mengambil jalur yang berbeda dibanding banyak band sejenis masa kini.

Alih-alih mengejar kompleksitas teknis yang ekstrem atau kecepatan konstan, album ini lebih menekankan atmosfer, tekanan emosional, dan bobot riff.

Riff-riff-nya cenderung sederhana secara struktur, namun berat dan repetitif, sehingga menciptakan rasa opresif yang kuat. Sesuatu yang kadang mulai ditinggalkan oleh band-band death metal modern yang lebih fokus pada permainan teknis dan presisi.

Jika dibandingkan dengan tren death metal masa kini yang banyak dipengaruhi unsur teknikal, progresif atau bahkan deathcore, ‘Messiah’ terasa lebih old-school dalam spirit, tetapi tidak sepenuhnya nostalgik.

Ada kesengajaan untuk menjaga groove, tempo yang variatif, dan ruang antar not, sehingga tiap bagian terasa ‘bernapas’ dan punya dampak. Ini kontras dengan banyak rilisan modern yang padat isian dan nyaris tanpa jeda.

Dari sisi produksi, album ini juga tidak terlalu mengkilap. Sound yang lebih kasar dan natural dipilih untuk menjaga karakter agresif dan kejujuran ekspresi, berbeda dengan banyak band masa kini yang menggunakan produksi super bersih dan sangat terkontrol.

Pendekatan ini membuat musik terasa lebih mentah dan langsung menghantam pendengar.

Secara keseluruhan, ‘Messiah’ menawarkan death metal yang lebih berorientasi pada nuansa, intensitas, dan identitas, bukan sekadar unjuk kemampuan.

Inilah yang membedakannya dari band-band sejenis masa kini: bukan soal siapa paling cepat atau paling rumit, tetapi siapa yang paling mampu menyampaikan rasa dan pesan melalui kebrutalan musiknya.”

Kompleks, Emosi

“Dari delapan lagu yang ada, trek yang paling menantang secara teknis adalah lagu Opera Pandir’. Karena di lagu inilah, hampir semua elemen paling kompleks di album bertemu.

Secara musikal, tantangannya ada pada perubahan tempo dan struktur yang tidak linear. Ada beberapa bagian dengan transisi mendadak dari mid-tempo ke blast yang cukup panjang, lalu kembali ke groove berat, sehingga menuntut konsistensi dan ketepatan timing.

Terutama antara dram dan gitar. Sedikit saja meleset, feel lagu bisa langsung berubah.

Dari sisi gitar, riff-riff di lagu ini relatif lebih rapat dan menuntut picking yang presisi dengan tekanan tetap agresif. Layering gitar juga cukup banyak, jadi saat rekaman harus benar-benar bersih agar tiap lapisan tidak saling menutupi.

Bass pun punya peran lebih aktif dibanding lagu lain. Bukan sekadar mengikuti root note, sehingga membutuhkan perhatian ekstra dalam eksekusi dan mixing.

Vokal juga cukup menantang karena range emosi yang luas—dari growl yang sangat dalam hingga bagian yang lebih cepat dan padat kata. Menjaga konsistensi karakter vokal tanpa kehilangan tenaga menjadi tantangan tersendiri.”

Sejak 25 Desember 2025, materi album “Messiah” telah tersedia dalam berbagai format untuk menjangkau para metalheads di seluruh dunia. Termasuk dalam kemasan fisik kaset pita, serta berbagai gerai digital. Termasuk Bandcamp.

“Kami berharap, album ini tidak hanya menjadi sekadar rilisan, tapi juga menjadi bukti bahwa dedikasi dan semangat tidak akan mati, meskipun raga telah tiada.” (mdy/MK01)

Susunan lagu di album “Messiah”:

  1. Messiah
  2. Opera Pandir
  3. The Fugitive
  4. In Our Darkest Time
  5. Enslaved
  6. Blitzkrieg
  7. Walk On My Own Path
  8. Hypocrite
  9. Suap
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts