SACRIFICE FOR LIFE: Antara Agresivitas dan Keintiman

Walau sempat vakum pada 2015 silam, namun unit rock/post-hardcore Sacrifice For Life terus memantik semangat dan menghasilkan rilisan baru.
sacrifice for life
SACRIFICE FOR LIFE

Sacrifice For Life telah meluncurkan karya rilisan tunggal terbarunya, bertajuk “Anxiety” pada 31 Desember 2025 lalu.

Lagu ini menyusul rilisan-rilisan sebelumnya, seperti “Not At The Desired Destiny”, “Aphorodite”, “Front Gate”, “Everything For This Life” dan “The Freedom: Carriers” yang telah diperdengarkan Sacrifice For Life sejak terbentuk di Surabaya, Jawa Timur pada 21 November 2009 silam.

Tentang “Anxiety”, band yang kini digerakkan formasi vokalis Rona Maulana, gitaris Permana Rizkyllah dan Leonardo Gilang Ramadhan Liedany (Deo), bassis Kukuh Syaiful Rahman serta dramer Thomi Fikri Utomo ini menyebutnya sebagai lagu yang lahir dari kegelisahan.

“Jika kamu pernah merasa dalam kepalamu sangat bising padahal di sekitarmu sedang sunyi, itulah yang kami rasakan,” ujar mereka meyakinkan.

Secara khusus, Sacrifice For Life menyebut “Anxiety” berisi tentang kegelisahan mereka dalam menghadapi dunia. Para personel band ini merasa seperti berada di pinggir jurang dan hanya tinggal melompat ke dalamnya untuk menanggalkan beban-beban itu.

“Tapi musik menjaga kewarasan kami dan menjadi tempat untuk bersandar kami dari hiruk pikuk dunia. Secara universal lagu ini mengangkat isu kesehatan mental terutama pada kalangan Gen-Z.”

Lebih jauh tentang pemikiran di balik “Anxiety” serta proses kreatif peracikannya, berikut tuturan Sacrifice For Life kepada MUSIKERAS:

Motivasi Mental

“Sebagian orang menganggap kesendirian dan kecemasan adalah hal yang lumrah dalam fase pendewasaan emosional. Tetapi sebenarnya, hal itu merupakan hal yang berbahaya jika tidak ditangani dengan serius.

Di sekitar kalian pasti kalian pernah menemui seseorang yang sedang bertahan dari tajamnya pedang dan runcingnya tombak kehidupan. Entah terjadi pada lingkup bullying dalam lingkungan sekolah atau pertemanan, sikut menyikut dalam dunia pekerjaan, perbudakan dalam dunia romansa, ataupun tuntutan dan tekanan dari keluarga.

Anxiety’ bukanlah sekadar rasa gugup biasa. Ini adalah beban mental nyata yang dapat secara perlahan mengikis kehidupan seseorang. Banyak orang berjuang dalam diam di balik senyuman mereka, terjebak dalam pikiran dan ketakutan yang tak berujung yang sulit dijelaskan.

Bahayanya terletak pada mengabaikannya, karena kecemasan dapat perlahan-lahan menguras motivasi seseorang, merusak hubungan, memengaruhi kesehatan fisik, dan bahkan berujung bunuh diri.

Kecemasan itu nyata, bukan tanda kelemahan atau terlalu banyak berpikir. Itulah mengapa penting untuk lebih sadar, berempati, dan jangan pernah meremehkan masalah kesehatan mental karena mengakui keberadaannya adalah langkah pertama menuju penyembuhan.”

Rasa Sakit

“Saat mengerjakan single ‘Anxiety’, proses kreatifnya berjalan cukup organik dan jujur. Ide awal lahir di ruang latihan lewat jamming sederhana, lalu berkembang jadi struktur lagu yang lebih emosional dan intens.

Konsep awal ditulis oleh Kukuh dan dilanjutkan bersama Permana dan Leonardo. Lirik lagu ini ditulis oleh Rona. Secara teknis, proses rekaman memakan waktu sekitar satu tahun. Terutama pada vokal, karena kami benar-benar ingin warna vokal pada lagu ini benar-benar terasa rasa sakitnya.

Pertama fokus pada penguncian aransemen dan eksplorasi sound agar nuansa ‘Anxiety’ benar-benar terasa. Berikutnya masuk ke tahap rekaman instrumen dan vokal, lalu ditutup dengan mixing dan revisi kecil untuk memastikan setiap detail emosi tersampaikan dengan tepat.

Anxiety’ direkam di studio independen yang suasananya cukup intim dan minim distraksi, sehingga kami bisa benar-benar tenggelam dalam mood lagu. Take vokal dilakukan beberapa kali sampai dapat feel yang paling jujur.

Bagi kami, ‘Anxiety’ bukan sekadar lagu, tapi semacam pelepasan. Proses rekamannya pun menjadi pengalaman reflektif, dimana setiap nada dan lirik adalah representasi dari apa yang ingin kami sampaikan ke pendengar: kamu tidak sendirian!”

sacrifice for life

Narator Emosi

“Secara musikal, ‘Anxiety’ kami bangun di atas pondasi rock/post-hardcore yang emosional dan dinamis. Kami memadukan riff gitar yang agresif dan tegang dengan permainan ritme yang rapat.

Pola ini kami gunakan untuk merepresentasikan tegangnya rasa cemas itu sendiri. Struktur lagunya tidak kami buat linear; ada transisi dan perubahan intensitas yang sengaja dirancang untuk menjaga tensi emosional tetap hidup dari awal sampai akhir.

Elemen vokal juga menjadi fokus utama. Vokal tidak hanya berfungsi sebagai pembawa melodi, tetapi sebagai narator emosi. Ada perpaduan antara vokal bersih yang rapuh dan bagian yang lebih keras dan emosional, sehingga pendengar bisa merasakan konflik batin yang menjadi inti lagu ini.

Yang membedakan kami dari band-band sejenis adalah pendekatan emosional dan kejujuran dalam aransemen. Kami tidak mengejar kompleksitas teknis semata, melainkan bagaimana setiap instrumen saling mengisi untuk membangun atmosfer.

Kami juga cenderung menggabungkan sensibilitas rock yang lebih melodis dengan energi post-hardcore yang mentah, tanpa terikat pada pakem genre tertentu.

Selain itu, kami berusaha menghadirkan karakter yang personal—baik dari tone gitar, dinamika permainan dram, hingga cara vokal menyampaikan lirik. Hasilnya, ‘Anxiety’ terdengar familiar bagi penikmat rock/post-hardcore, tapi tetap punya identitas sendiri yang lahir dari pengalaman dan karakter kami sebagai band.”

Meledak, Bernafas

“Dalam proses meracik komposisi dan aransemen ‘Anxiety’, kami tidak mengunci diri pada satu referensi atau satu genre tertentu. Pendekatan kami lebih ke menyerap spirit dari berbagai musik yang kuat secara emosi, lalu menerjemahkannya ke dalam karakter kami sendiri.

Secara garis besar, kami terinspirasi dari band-band post-hardcore dan alternative rock internasional yang kuat dalam permainan dinamika dan atmosfer, bagaimana mereka membangun ketegangan, memberi ruang hening, lalu meledak di momen yang tepat.

Kami banyak belajar dari cara mereka memperlakukan lagu sebagai perjalanan emosi, bukan sekadar rangkaian riff atau hook. Di sisi lain, kami juga mengambil referensi dari musik yang lebih melodis dan sinematik, terutama dalam penulisan vokal dan layering gitar.

Pendekatan ini membantu kami menjaga keseimbangan antara agresivitas dan keintiman, sehingga lagu tetap terasa berat namun bisa bernapas. Yang penting, semua referensi itu tidak kami tiru secara literal. Kami hanya menjadikannya sebagai kerangka berpikir tentang sound, dinamika dan story telling.

Setelah itu, semuanya kami filter melalui pengalaman personal, karakter masing-masing personel, dan konteks emosional lagu ini. Hasilnya, ‘Anxiety’ adalah refleksi dari banyak pengaruh, tetapi berdiri sebagai karya yang independen dan relevan secara global, namun tetap jujur dan berakar pada identitas kami sendiri sebagai band.”

 

Usai memperdengarkan “Anxiety”, Sacrifice For Life selanjutnya menyiapkan karya-karya baru dan merilisnya satu per satu. Mereka juga berharap bisa mengejar target perilisan album perdana.

Tonton video musik “Anxiety” di tautan kanal YouTube ini. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
repton
Read More

REPTON: Kali Ini Mengungkit ‘Marsinah’

Dengan riff gitar, DJ dan rap yang dapat menghancurkan gendang telinga, plus vokal yang membakar, Repton mengorek luka lama di karya terbarunya.