INHERITORS: Luapkan Terapi Moshpit

Thrash metal yang dibubuhi energi hardcore dan punk disemburkan Inheritors lewat “Intoksikasi”, menandai era baru, sekaligus pemanasan menuju album.
inheritors
INHERITORS

Inheritors kembali dengan karya baru, sebuah lagu rilisan tunggal bertajuk “Intoksikasi”. Tapi kali ini ada yang berbeda. Lagu ini menjadi karya pertama mereka menggunakan lirik berbahasa Indonesia, sepanjang kariernya yang sudah terbentang selama satu dekade.

Di balik agresivitasnya, lagu ini juga membawa semangat perlawanan khas thrash metal yang menjadi amunisi utama musiknya.

Lirik seperti ‘Tiap ketukan bagai peluru mati / Menusuk sistem yang berpura peduli’ menggambarkan kritik terhadap penguasa dan kondisi sosial yang dianggap bermasalah.

Namun bagi Inheritors, kemarahan tersebut tidak harus berakhir dalam keheningan. Ia dilepaskan melalui ‘terapi moshpit’, ruang untuk bersenang-senang sekaligus melepaskan tekanan.

Keputusan menggunakan bahasa Indonesia menjadi eksperimen penting bagi band asal Malang, Jawa Timur ini. Sebuah cara yang mereka yakini bisa lebih ‘ngena’ di lirik dan memungkinkan pendengar ikut bernyanyi saat digeber di panggung.

Selain itu, juga bisa menjadi pilihan alternatif terhadap dominasi bahasa Inggris dalam kultur thrash metal.

Physical Moshpit

“Intoksikasi” lahir melalui proses yang natural. Berawal dari riff geberan gitaris Patrick Lesmana yang cepat, padat dan tanpa ampun. Bagi vokalis Noviar Rahmat (Dion), riff tersebut terasa seperti racun yang membuat ketagihan.

Dari situ berkembang menjadi konsep utama lagu: thrash metal sebagai candu. Bukan hanya musik keras, tetapi gateway yang membawa Inheritors semakin dalam ke kultur musik ekstrem.

Salah satu bagian yang paling banyak dieksplorasi adalah breakdown di penghujung lagu, termasuk isian vokal per breakdown ‘intoksikasi’ dan ‘Hu!’ yang dirancang untuk menghasilkan momen moshpit yang lebih liar.

“Ada beberapa hal yang berbeda dalam proses kreatif ‘Intoksikasi’. Kali ini kami mencoba pendekatan yang lebih cepat, straightforward dan tidak terlalu bertele-tele dalam menyampaikan materi,” seru pihak band ekpada MUSIKERAS mempertegas.

“Kami ingin lagunya langsung menghantam dari awal sampai akhir, baik dari riff, struktur maupun liriknya.”

“Kalau biasanya kami masih memberi ruang untuk eksplorasi yang cukup panjang, di lagu ini kami mencoba lebih fokus pada apa yang memang ingin kami sampaikan dan bagaimana membuatnya tetap terasa agresif tanpa kehilangan karakter Inheritors.”

Disamping itu, band yang dilengkapi gitaris Galih Priyomukti, bassis Sulton Ubaidillah (Obed) serta drumer Rufa Hidayat ini juga merasa semakin nyaman menggabungkan elemen thrash metal dengan groove dan energi hardcore.

“Kami ingin ‘Intoksikasi’ terasa seperti sebuah lagu yang memang dibuat untuk dimainkan keras-keras dan menggerakkan moshpit, bukan sekadar mengejar kecepatan.”

inheritors

Lewat “Intoksikasi” ini juga, Inheritors merasa telah menemukan benang merah untuk album debut mereka mendatang. Tetap berakar pada thrash metal warisan era ’80-an. Terutama dari karakter riff, agresivitas serta energi yang menjadi fondasi band ini sejak awal.

“Namun sekarang, kami tidak ingin hanya terpaku pada formula thrash metal yang cepat. Kami mulai memasukkan lebih banyak elemen hardcore dan punk, terutama dari sisi groove, ritme dan bagaimana sebuah lagu bisa terasa lebih physical ketika dimainkan secara live.”

“Ada bagian yang dibuat lebih lambat dan berat, ada yang lebih cepat, tetapi semuanya tetap berada dalam satu karakter yang kami rasa cukup merepresentasikan Inheritors sekarang,” urai band ini meyakinkan.

Jadi jika harus dirangkum, menurut mereka, benang merah musiknya tetap menonjolkan thrash metal, namun digiring menuju arah yang lebih groovy, hardcore dan punk.

“Kami ingin tetap terdengar seperti Inheritors, tetapi tidak ingin mengulang Inheritors yang dulu.”

Rest in Pestilence

Sebelum “Intoksikasi”, Inheritors telah memperdengarkan lagu “From The Grave”, “Pestilence” dan “Cheating Death” sebagai pengantar dan pemanasan menuju album.

Bagi band ini, rangkaian rilisan tersebut merepresentasikan proses berkembangnya karakter musik Inheritors, dari sekadar energi dan agresivitas menuju identitas serta cerita yang semakin kuat.

Sejauh ini, pengerjaan album masih berlangsung. Tepatnya dalam tahap pengembangan materi dan belum berani memberikan tanggal rilis yang benar-benar pasti.

“Beberapa materi sudah ada dan arahnya mulai terbentuk, tetapi kami masih ingin memastikan semuanya benar-benar matang sebelum masuk ke tahap final.”

Pun untuk judul album, juga belum ada keputusan finalisasi. Judul sementara yang dicanangkan adalah “RIP”, yang bisa berarti “Rest in Pestilence”.

“Judul tersebut masih berupa kemungkinan dan belum kami tetapkan secara resmi. Yang pasti, album ini sedang kami arahkan menjadi representasi Inheritors di fase yang sekarang, bukan sekadar lanjutan dari rilisan lama.

“Intoksikasi” sudah tersedia di berbagai gerai pemutar musik digital, termasuk laman Bandcamp. Sementara video musiknya dapat disaksikan melalui tautan kanal YouTube resmi Inheritors ini. (@mudya_mustamin/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
majnun
Read More

MAJNUN: Demo yang Kasar dan Mentah

Kini Majnun menjalani rangkaian Manjadda Wajada Tour 2026 untuk memaksimalkan gaung rilisan terbarunya, bertajuk “Demo 2026” yang kasar dan mentah.
ocean
Read More

OCEAN: Lebih Liar, Gelap dan Brutal

Narasi konfrontatif terhadap kemunafikan, doktrin dan praktik keagamaan menjadi sorotan OCEAN di karya terbarunya, sambil membawa warna musikal berbeda.
repton
Read More

REPTON: Naik Kelas di “Slam On Air”

Menegaskan konsep musiknya yang ‘abu-abu’, Repton meluncurkan album penuh kedua, “Slam On Air” yang dirancang untuk menghantam dada, tanpa kompromi.