KONN telah merilis tiga lagu terbaru bertajuk “Money Louder Than The Law”, “Leaders Cry On TV Screens” dan “Ministry Of Hunger”. Ketiganya bukan sekadar rilisan, melainkan pernyataan terbuka tentang bagaimana kekuasaan bekerja, dipertontonkan dan meninggalkan korban.
Di lagu “Money Louder Than The Law”, digaungkan sebagai sindiran keras terhadap realitas ketika uang berbicara lebih nyaring daripada hukum.
Di dalamnya, keserakahan bukan lagi penyimpangan, melainkan doktrin. Korupsi tidak lagi bersembunyi, tetapi dinyanyikan seperti lagu kebangsaan baru.
Lalu di komposisi “Leaders Cry On TV Screens”, KONN membongkar panggung politik yang dipenuhi air mata siaran langsung dan empati yang dikemas untuk konsumsi publik.
Kepemimpinan berubah menjadi pertunjukan, dan tragedi menjadi latar visual yang bisa diulang.
Terakhir, ”Ministry Of Hunger” menjadi konsekuensi paling nyata. Ketika meja-meja penuh, tetapi perut tetap kosong, ketimpangan tidak lagi abstrak.
Ia hadir di ruang makan, di lantai-lantai retak, dan di statistik yang tidak pernah benar-benar mewakili manusia.
“Kami angkat isu-isu yang sedang terjadi di sekitar kita. Berangkat dari rasa capek dan jenuh, karena terus-terusan merasa dibohongi oleh negara,” cetus pihak KONN kepada MUSIKERAS.
Ya, ketiga lagu tersebut merupakan fondasi yang bakal menegaskan pesan di album penuh bertajuk ”Built On Lies” secara lebih luas.
Karya album tersebut bakal mengurai akar dari narasi yang menelusuri bagaimana kebohongan dibangun perlahan, dilegalkan, dirawat lalu diwariskan.
Bagi band yang digerakkan formasi vokalis Agung Satria, bassis Teguh Prayoga, gitaris Alfan Nurfaiz dan dramer Aji Baskara (Djibas) ini,“Built On Lies” bukan hanya judul.
Akan tetapi merupakan diagnosis sebuah sistem yang tampak kokoh, namun berdiri di atas manipulasi, kompromi moral, dan kebenaran yang sengaja dibungkam.

Mulutcelaka
KONN menggarap keseluruhan materi album ”Built On Lies” – termasuk tiga lagu pemanasan yang telah dirilis – sejak awal Desember tahun lalu hingga akhir Januari 2026.
Unit keras asal Purwokerto, Jawa Tengah ini mengungkapkan, bisa dibilang prosesnya cukup lancar dan cepat. Diawali dari konsep dasar yang dibuat oleh Agung, yang lantas langsung dieksekusi di studio Mulutcelaka Recordsdef43e.
“Rekaman dilakukan berbarengan dengan proses revisi oleh Alfan dan Djibas.”
Namun demikian, khusus di lagu “Money Louder Than the Law” yang ditempatkan di urutan pembuka album, menjadi salah satu yang cukup menantang secara teknis.
“Banyak revisi dan cukup berbeda dari konsep awalnya. Saat proses rekaman pun ada perubahan yang langsung dikerjakan,” ujar mereka terus-terang.
Keseluruhan, dari segi konsep musik, KONN mengakui banyak terpengaruh dari band-band powerviolence seperti Witch Cult (Inggris), Failure (Italia) dan Real Reggae (Jepang).
“Kami juga mengambil sentuhan hardcore punk dan grindcore!”
Apa yang membuat musik mereka berbeda? KONN menegaskan tidak terlalu memikirkan soal itu. Yang penting buat mereka, selama masih tidak dibatasi dalam bermusik dan tidak terpaku pada satu pakem, maka mereka bakal terus berkarya dengan cara mereka sendiri.
Sejauh ini, proses rekaman hingga mixing untuk album “Built on Lies” sudah rampung keseluruhan. Tinggal menunggu tanggal rilis yang dianggap tepat.
Informasi pra-pesan album “Built On Lies” sendiri sudah dapat diakses melalui akun Instagram @pleasantriesover dan @mulutcelakarecs. Sementara sejak 11 Februari 2026, ketiga lagu pembukanya telah tersedia di kanal Bandcamp. (mdy/MK01)