ISYANA SARASVATI: “Aku Nggak Dengerin Symphonic Metal”

Symphonic metal, paham musik yang identik dengan paduan orkestrasi megah dengan energi metal kembali dieksplorasi Isyana Sarasvati lewat “Babel”.
isyana
ISYANA SARASVATI

Isyana Sarasvati semakin dekat menuju album kelimanya, yang diberi titel “EKLEKTIKO”. Sebuah lagu rilisan tunggal terbaru diperdengarkan sebelum dikemas ke dalam album.

Tapi kali ini, Isyana kembali merayakan eksplorasi di ranah symphonic metal. Seperti yang pernah ia terapkan sebelumnya di komposisi lagu “Il Sogno” (27 Desember 2021) atau “Lexicon” (29 November 2019).

“Babel” sendiri menjadi pembuka “ABADHI”, babak terakhir rangkaian konsep besar “EKLEKTIKO”. Sebuah konklusi perjalanan musikal dan personal yang menandai fase paling utuh dalam karier Isyana sejauh ini.

Sebelumnya, Isyana telah memperdengarkan babak “Lunora”, “MAMIU” dan “Cecilia” yang telah digulirkan secara bertahap sejak awal Mei 2025 lalu, yang semakin meneguhkan kualitas dirinya sebagai musisi multi-genre.

“Babel”, menurut Isyana, bukanlah lagu tentang kehancuran, melainkan tentang menemukan harmoni di tengah disharmoni. Lagu ini menggambarkan dunia yang tampak kacau, penuh perbedaan suara dan bahasa.

Namun justru dari sanalah lahir pemahaman baru, identitas baru dan keindahan yang sebelumnya tak terlihat.

“Lewat ‘Babel’, aku ingin menceritakan perjalanan menemukan jati diri dan kesatuan di tengah keragaman, sebuah ruang dimana berbagai suara, bahasa, dan mimpi bertemu, bercampur, lalu menyatu,” ucapnya.

Isyana merasakan perubahan besar dibandingkan dirinya sebelum memasuki rangkaian proyek “EKLEKTIKO”. Ia menyebut proses ini sebagai bentuk pendewasaan dan pematangan diri, baik sebagai musisi maupun sebagai pribadi.

Isyana merasa lebih bebas, lebih berani membuka diri, bereksplorasi tanpa batas, dan merasakan sisi yang lebih spiritual dibandingkan karya-karyanya sebelumnya.

“EKLEKTIKO” menjadi ruang dimana ia tidak lagi membatasi identitasnya, melainkan merangkul seluruh sisi yang membentuk perjalanan hidup dan karyanya.

Keindahan, Kekacauan

Gestur symphonic metal kembali membalut “Babel”, komposisi lagu terbaru Isyana tersebut. Paham musik yang identik dengan orkestrasi megah, energi metal serta percampuran berbagai elemen musik.

Karakter musik yang ramai, variatif, dan sarat dinamika tersebut dipilih karena selaras dengan pesan “Babel” itu sendiri.

Dalam proses peracikan komposisi dan aransemen lagu itu, diungkapkan Isyana, mengalir secara intuitif, tanpa terlalu banyak perhitungan teknis.

“Nggak ada pertimbangan sama sekali, bener-bener buat sesuai keinginan hati aja. Aku nggak dengerin spesifik symphonic metal, tapi dengerinnya classic dan metal mentok aja,” urainya kepada MUSIKERAS, tanpa merinci artis, band atau lagu-lagu yang ia dengarkan.

Sebagai pembuka babak “ABADHI”, “Babel” menjadi pintu masuk menuju fase penyatuan dalam semesta “EKLEKTIKO”.

isyana

Babak keempat ini dimaknai sebagai proses menerima dan merangkul seluruh perjalanan yang telah dilalui juga jatuh dan bangun, terang dan gelap, pasang dan surut.

Di fase ini, penyanyi, musisi dan komposer jebolan Nanyang Academy of Fine Arts, Singapura dan Royal College of Music, Inggris ini semakin memahami bahwa hidup tidak pernah hitam dan putih, melainkan penuh warna, suara, dan cerita yang masing-masing memiliki makna.

Di tengah dunia yang semakin bising dan terfragmentasi, “Babel” hadir sebagai pengingat bahwa dalam setiap dinamika kehidupan yang baik atau buruk, naik maupun turun, selalu ada hal baik yang bisa dipetik.

Lagu yang juga melibatkan kibordis Kenan Loui Widjaja – salah satu personel The Tuttis, band pengiring Isyana – serta gitaris Karisk (eks Deadsquad) dalam peracikan aransemennya, mengajak pendengar untuk menemukan makna, memahami perbedaan, dan melihat keindahan di balik kekacauan.

Ia tidak menciptakan “Babel” dengan membayangkan target pendengar tertentu.

Bagi musisi yang pernah dianugerahi penghargaan Best Asian Artist Indonesia 2016 dan Best Composer of the Year 2017 dari MAMA (Mnet Asian Music Awards) ini, siapa pun yang pesannya sampai dan beresonansi dengan “Babel” akan merasa dipeluk, tanpa batasan gender, latar belakang, atau status apa pun.

Keseluruhan, album “EKLEKTIKO” yang diedarkan via Redrose Records – label milik Isyana Sarasvati sendiri – merupakan wadah bagi dirinya untuk berekspresi secara total.

“Ini adalah ruang dimana aku bisa bebas menjadi apa pun dan menghidupkan imajinasiku tanpa batas,” cetusnya.

Kemasan lengkap “EKLEKTIKO” ditargetkan bakal mulai tersedia di berbagai gerai penyedia layanan musik digital pada Mei 2026 mendatang. Saksikan video musik resmi “Babel” via tautan kanal YouTube ini. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
carousels
Read More

CAROUSELS: Metalcore, Synth, Saksofon!

Gagasan lama yang muncul di 2019 silam, akhirnya diwujudkan Carousels di lagu terbarunya. Mengombinasikan synthwave, metalcore dan saksofon!
rahasia intelijen
Read More

RAHASIA INTELIJEN: Berharap Bisa Merilis EP

Unit metal alternatif Jakarta, Rahasia Intelijen akhirnya menguak kasus baru lagi, lewat lagu berlirik tajam, tentang narasi religius yang berlumuran darah.
hellcrust
Read More

Ini Perbedaan HELLCRUST dan DARKSOVLS

Bangun dari hibernasi, Hellcrust rilis lagu terbaru, “Rekonstruksi Kerak Neraka”. Tapi yang mengejutkan, kali ini formasinya sama persis dengan Darksovls!
splitfire
Read More

SPLITFIRE: Dari Club/Cafe ke Panggung Rekaman

Kenyang manggung di berbagai cafe dan club di Indonesia, bahkan hingga ke kawasan Asia Tenggara, kini Splitfire makin mantap selami industri musik rekaman.