VIOLENCE SOVIA: Post-Hardcore, Grunge atau Metalcore?

Merasa belum dewasa menghadapai setiap kondisi, Violence Sovia memilih vakum selama lebih satu dekade. Kini, mereka bangkit lagi dengan semangat baru.
violence sovia
VIOLENCE SOVIA

Violence Sovia adalah band asal Surabaya, Jawa Timur yang sebenarnya telah terbentuk pada 2009 silam. Mereka berangkat dari paham post-hardcore dengan pendekatan emosional, dan aktif di skena musik independen.

Tampil di berbagai panggung, mulai dari acara komunitas hingga festival berskala nasional. Aktivitas panggung dan proses kreatif di fase awal menjadi fondasi karakter bermusik Violence Sovia ini.

Dalam perjalanannya, band yang digerakkan formasi vokalis Aristya Rahadian K. (Aris), gitaris Rendika Pratama (Rendi) dan Meidy Sutomo (Medi), dramer Choilil Zahril (Ilil) serta bassis Rizky Surya W. ini telah merilis sejumlah karya dan beberapa video klip.

Bahkan sempat pula ikut memeriahkan panggung PSD Supergig! Youth Fest di Tennis Indoor Senayan, Jakarta pada September 2011 silam. Beberapa nama internasional seperti Suicide Silence dan Alesana juga tampil di acara tersebut.

Namun pada 2012, Violence Sovia memutuskan vakum. Alasannya, mereka merasa belum cukup dewasa untuk menghadapai setiap kondisi dalam band.

“Pada saat itu, kesibukan utama kami masing-masing membutuhkan perhatian khusus. Ada beberapa personel harus pindah ke luar kota, dan yang pasti kami menunggu momentum kami hadir kembali sebagai warna musik yang baru dari yang lain,” tutur mereka kepada MUSIKERAS.

Kini, lewat lagu rilisan tunggal terbaru bertajuk “Again”, Violence Sovia kembali aktif dengan perspektif yang lebih matang. Saat ini, mereka bergerak ke arah metalcore sebagai bentuk pendewasaan dalam bermusik, sambil terus mengembangkan materi baru sebagai kelanjutan perjalanan band.

Kebangkitan ini, menurut mereka, bukan didorong oleh tren nostalgia atau gelombang comeback, melainkan oleh dorongan bermusik yang tak pernah benar-benar padam.

Musik kembali menjadi ruang bagi para personel Violence Sovia untuk menyalurkan emosi, kegelisahan, dan realita hidup yang selama ini tertahan di masing-masing personel.

Dan di “Again”, penulis lirik Rendi dan Medi mengangkat konflik batin, rasa terasing, serta hilangnya koneksi yang perlahan memudar. Kata ‘again’ dipilih sebagai simbol kerinduan untuk kembali merasakan kebersamaan yang pernah ada, sekaligus refleksi atas jarak yang tercipta seiring waktu.

“Pada intinya, sang penciptanya ingin ‘meluapkan sesuatu yang sangat terpendam’. Lagu ‘Again’ lahir dari kontemplasi diri dari gelap menuju cahaya yang redup.”

Sound Point

Perekaman “Again” dieksekusi secara penuh di kota Surabaya, dimana prosesnya dilakukan secara terpisah. Untuk isian dram dilakukan di rumah sang dramer sendiri, sementara untuk musik lainnya di rumah gitaris Rendi.

Sementara untuk rekaman vokal, dilakukan di studio di area rumah sakit di Surabaya, milik gitaris Medi. Saat itu Aris langsung datang dari Jakarta untuk menunaikan tugas rekamannya.

“Setiap personel memberikan POV (point of view) masing-masing terkait single ini, mulai nuansa lagu yang ditunjukkan, cerita dari lirik, karakter sound yang kami bentuk lagi, sampai influence dari band-band yang sangat jauh berbeda dari Violence Sovia yang lama.”

Keseluruhan, jalannya pengerjaan rekaman tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama, tapi juga tidak terlalu cepat. “Karena setiap personel kami memiliki pekerjaan utama, jadi menggarap proses rekaman setelah pekerjaan utama selesai,” ujar band beralasan.

Namun lantaran bentuk dasar lagu “Again” sudah dipatenkan sejak awal, maka prosesnya bisa berlangsung cepat. Hanya, agak membutuhkan waktu tambahan pada saat proses pengerjaan beberapa bagian tambahan untuk nuansa.

“(Misalnya) fill-in pada arrasemen agar membuat beda, dan ada beberapa part untuk tambahan waktu yaitu editing, mixing dan mastering karena kami harus sepakat bersama-sama.”

violence sovia

Grunge Jepang

Melalui “Again”, Violence Sovia memasuki fase baru. Dengan referensi musikal yang lebih luas dan pendekatan yang lebih matang. Mereka tetap mempertahankan karakter metalcore emo yang intens dan emosional, namun kini hadir dengan sudut pandang yang lebih reflektif dan dewasa.

Selain berbeda dibanding karya mereka sebelumnya, nuansa yang disuguhkan juga tidak seperti tipikal banyak band metal saat ini.

“Salah satunya di lagu ‘Again’, menurut kami jarang ada band mengombinasikan musik grunge dengan metal, ditambah karakter teriakan-teriakan marah di vokal. Menurut kami inilah yang kami butuhkan untuk Violence Sovia yang baru.”

Saat peracikan komposisi serta aransemen “Again” sendiri, gitaris Rendi menegaskan tidak ada acuan spesifik. Semua murni berasal dari kebisingan kepala.

“Akan tetapi selama dua tahun terakhir ini, (kami) sering mendengarkan musik-musik grunge dan beberapa band Jepang. Di antaranya Dir en grey.”

“Again” mengawali agresi Violence Sovia selanjutnya. Mereka telah membidik target untuk segera melepas sebuah album mini (EP) berisi enam lagu. Saat ini, perkembangannya sudah mendekati 70% dan dicanangkan bisa rilis tahun ini juga.

Sejak 31 Januari 2026 lalu, “Again” sudah bisa digeber via berbagai gerai musik digital. Termasuk di kanal YouTube Music. Sementara karya-karya lamanya bisa disimak di tautan ini. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
carousels
Read More

CAROUSELS: Metalcore, Synth, Saksofon!

Gagasan lama yang muncul di 2019 silam, akhirnya diwujudkan Carousels di lagu terbarunya. Mengombinasikan synthwave, metalcore dan saksofon!
rahasia intelijen
Read More

RAHASIA INTELIJEN: Berharap Bisa Merilis EP

Unit metal alternatif Jakarta, Rahasia Intelijen akhirnya menguak kasus baru lagi, lewat lagu berlirik tajam, tentang narasi religius yang berlumuran darah.
hellcrust
Read More

Ini Perbedaan HELLCRUST dan DARKSOVLS

Bangun dari hibernasi, Hellcrust rilis lagu terbaru, “Rekonstruksi Kerak Neraka”. Tapi yang mengejutkan, kali ini formasinya sama persis dengan Darksovls!
splitfire
Read More

SPLITFIRE: Dari Club/Cafe ke Panggung Rekaman

Kenyang manggung di berbagai cafe dan club di Indonesia, bahkan hingga ke kawasan Asia Tenggara, kini Splitfire makin mantap selami industri musik rekaman.