DIMENSION SEVEN: “Grunge Medium yang Paling Jujur!”

Dengan karakter musik gelap, emosional sekaligus sarat energi, Dimension Seven perdengarkan karya album rekaman debutnya, “Black Side”.
dimension seven
DIMENSION SEVEN

Dimension Seven (D7) yang berasal dari Cianjur, Jakarta Barat memadukan distorsi berat ala grunge klasik dengan lirik yang lugas, jujur, dan kadang konfrontatif di album “Black Side”.

Mereka – vokalis/gitaris Arief Rachman Budiana (Arief), gitaris Hevi dan Arman Noviardi (Armi), bassis Rizkyawan Boriz (Boriz) serta dramer Iyus Zakaria (Aphoy) – mengangkat isu kesehatan mental, konflik batin, kritik sosial, hingga perjalanan emosional yang mendalam.

Lirik gelap yang mereka teriakkan lantas dibakar dengan geberan musik yang selalu membawa nuansa raw, penuh perasaan dan tanpa kompromi. Kombinasi yang menciptakan pengalaman mendengar yang bukan hanya terdengar, tapi juga terasa.

“Black Side” memotret sisi manusia yang kerap tersembunyi, menghadirkan narasi intens melalui komposisi rock/grunge yang kuat dan lirik penuh makna.

Lagu-lagu seperti “Sisi Hitam”, “Penindasan” dan “Genocide” menonjol dengan tema kritik sosial dan tekanan emosional, sementara “Rahasia” dan “Waktu” menampilkan sisi introspektif yang lebih personal.

Segala kemarahan dan kegelisahan itu, menurut tuturan band ini kepada MUSIKERAS, sangat terwakilkan di grunge. Selain merupakan paham pertama yang mereka kenali dan dengarkan dalam lingkup pergaulan bermusik, band bentukan 2006 silam ini juga melihat grunge sebagai medium yang paling jujur dan mudah dicerna untuk mengekspresikan perasaan dan keresahan.

“Hal yang paling menarik dari grunge adalah kebebasan berekspresi tanpa batas,” cetus band ini meyakinkan.

“Distorsi yang kasar, struktur lagu yang tidak kaku, serta ruang luas untuk meluapkan emosi menjadikan genre ini sangat relevan dengan karakter dan semangat D7. Bukan sekadar genre, melainkan cara untuk menyampaikan kejujuran dalam bermusik.”

“Black Side” sendiri dikerjakan para personel Dimension Seven secara perlahan dan sangat personal. Proses kreatif setiap lagu dikerjakan bertahap, dimulai dari proses penulisan dan eksplorasi ide yang dilakukan di rumah masing-masing personel.

Dari sana, materi lagu kemudian dituangkan dan disempurnakan melalui proses rekaman rumahan di Mr. Record yang berlokasi di kota Cianjur.

“Album ini tidak dikerjakan secara terburu-buru,” ujar pihak band menegaskan.

Setiap lagu membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk benar-benar matang. Bahkan menurut mereka, satu lagu bisa memakan waktu hingga satu tahun lamanya.

“Hal ini dilakukan agar setiap komposisi memiliki emosi, karakter dan kedalaman yang sesuai dengan konsep ‘Black Side’ itu sendiri. Proses yang panjang ini menjadi bagian penting dalam membentuk identitas album secara keseluruhan.”

dimension seven

Tantangan Palestina

Dalam proses peracikan komposisi serta aransemen lagu-lagu di “Black Side”, Dimension Seven banyak terinspirasi dari band-band yang memiliki karakter kuat dan berpengaruh besar dalam perkembangan musik alternatif dan metal.

Referensi utama datang dari band Nirvana dan Silverchair yang memberi pengaruh besar pada sisi grunge dan nuansa emosional lagu.

Selain itu, energi dan kekerasan karakter musik juga diperkaya melalui referensi band seperti Slipknot, Korn, Limp Bizkit hingga Stone Sour.

“Perpaduan dari berbagai referensi ini membentuk warna musik D7 yang gelap, agresif, namun tetap memiliki ruang ekspresi emosional yang luas.”

Tentu saja, tidak mudah untuk mewujudkan formula tersebut dengan mulus. Khususnya secara teknis.

Saat mengeksekusi rekaman lagu “Serakah” dan “Genocide” misalnya, mereka menghadapi sejumlah tantangan. “Serakah” menjadi momentum penting bagi band ini, karena lagu tersebut merupakan media pelampiasan pengalaman pribadi yang sangat dalam.

“Lagu ini juga menjadi tonggak awal perjalanan musikal D7, sehingga proses pengerjaannya membutuhkan pendekatan emosional yang jujur dan matang agar pesan yang ingin disampaikan benar-benar terasa.”

Sementara di “Genocide”, menghadirkan tantangan tersendiri karena mengangkat kisah penjajahan terhadap Palestina yang hingga kini tidak pernah berhenti.

“Secara teknis, lagu ini dikerjakan secara mandiri, mulai dari gitar, bass, dram hingga aransemen. Beban emosional dan tanggung jawab terhadap isu yang diangkat membuat proses pengerjaan lagu ini menjadi sangat intens.”

Sejak akhir 2025 lalu, “Black Side” sudah tergelar di berbagai gerai penyedia layanan musik digital. Bisa didengarkan pula di tautan kanal YouTube ini. (mdy/MK01)

Susunan lagu di “Black Side”:

  1. Intro
  2. Sisi Hitam
  3. Bosan
  4. Serakah
  5. Penindasan
  6. Rahasia
  7. Karma
  8. Mulut Besar
  9. Waktu
  10. Genocide
1 comment
  1. Sangat ditunggu untuk perform live nya … saya mengidolakan band ini semenjak single ‘Serakah’ dirilis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
carousels
Read More

CAROUSELS: Metalcore, Synth, Saksofon!

Gagasan lama yang muncul di 2019 silam, akhirnya diwujudkan Carousels di lagu terbarunya. Mengombinasikan synthwave, metalcore dan saksofon!
rahasia intelijen
Read More

RAHASIA INTELIJEN: Berharap Bisa Merilis EP

Unit metal alternatif Jakarta, Rahasia Intelijen akhirnya menguak kasus baru lagi, lewat lagu berlirik tajam, tentang narasi religius yang berlumuran darah.
hellcrust
Read More

Ini Perbedaan HELLCRUST dan DARKSOVLS

Bangun dari hibernasi, Hellcrust rilis lagu terbaru, “Rekonstruksi Kerak Neraka”. Tapi yang mengejutkan, kali ini formasinya sama persis dengan Darksovls!
splitfire
Read More

SPLITFIRE: Dari Club/Cafe ke Panggung Rekaman

Kenyang manggung di berbagai cafe dan club di Indonesia, bahkan hingga ke kawasan Asia Tenggara, kini Splitfire makin mantap selami industri musik rekaman.