CRIATURA: Antara Ketegangan dan Keindahan

Dunia fantasi yang menegangkan sekaligus indah diekspresikan Criatura di rilisan terbarunya, sebuah album penuh bertajuk “In the Silence of the Dawn”.
CRIATURA

Criatura kembali meraungkan kegelapan, usai memperdengarkan album mini (EP) “Black Symphony” (11 November 2011) serta album split yang bertajuk “Timeless Duality” (2012), dimana mereka berbagi porsi dengan band atmospheric death metal asal Perancis, Agorphos.

Bertepatan dengan momentum perayaan ulang tahun Criatura yang ke-18!

Kali ini, unit metal asal Bogor, Jawa Barat ini mempersembahkan “In the Silence of the Dawn”, sebuah album penuh yang mengisahkan awal mula kehidupan di dalam keheningan fajar.

Sebuah perjalanan besar dalam balutan symphonic dan epic metal yang memadukan pengaruh black metal dan power metal dengan sentuhan klasik, orkestrasi, serta elemen-elemen bernuansa carnival.

Album ini dirilis pada September 2026 dalam format CD oleh Pest Productions (China), label yang membuka gerbang band black metal Indonesia ke kancah Internasional. Menyusul band-band sebelumnya seperti Vallendusk dan Pure Wrath.

Sementara dalam format kaset pita dirilis oleh Fiadh Productions, label asal New York, AS yang didirikan oleh Bariann Tuite Smith. Seorang praktisi label jebolan Earache Records dan juga merupakan pemilik Broken Limbs Recordings.

Lebih dari sekadar kumpulan lagu, “In the Silence of the Dawn” dirancang sebagai sebuah narasi utuh: kisah fantasi gelap mengenai legenda, ambisi, peperangan dan pada akhirnya kemenangan.

Di pusat cerita album ini terdapat sosok kurcaci bard, yang menjadi ikon utama sekaligus tokoh narator. Duduk di dekat api unggun dengan Lyre di tangannya, dikelilingi lembaran-lembaran cerita yang ditulisnya, sang bard menjadi pencerita yang membawa pendengar menyusuri keseluruhan kisah.

Ia seperti seorang pengembara dari zaman kuno yang menyaksikan kebangkitan dan kehancuran serta menceritakan kisah mereka yang pernah membentuk dunia tersebut.

Storytelling

Dari sisi musikal, Criatura memperluas fondasi symphonic dan epic metal mereka melalui orkestrasi dramatis, pengaruh musik klasik, atmosfer black metal, kemegahan power metal serta elemen teatrikal.

Perpaduan antara melodi-melodi megah, bagian-bagian yang gelap, aransemen orkestral dan warna-warna bernuansa carnival menciptakan atmosfer yang bergerak di antara dunia fantasi, tragedi, kegelapan dan kemenangan.

Dibanding karya-karya rekaman Criatura sebelumnya, mereka mengungkapkan kepada MUSIKERAS bahwa ada perbedaan yang sangat terasa di “In the Silence of the Dawn”.

“Adalah keberanian mengembangkan identitas Criatura menjadi lebih luas, matang secara musikal dan mematenkan benang merahnya,” seru mereka meyakinkan.

Jika di karya sebelumnya, terutama di EP “Black Symphony”, karakter black metal mereka hanya didominasi symphonic dan gothic, maka kali ini mereka mencoba mempertemukan banyak elemen.

Mulai dari symphonic metal, epic metal, power metal, black metal, atmospheric melodic black metal, folk metal, orchestral, theatrical hingga carnival dalam satu kesatuan yang lebih utuh.

“Sejak awal, kami ingin setiap lagu memiliki atmosfer dan cerita. Karena itu, orkestrasi, choir, string, piano serta layer-layer kibor kami gunakan bukan sekadar sebagai ornamen, melainkan sebagai bagian penting dari storytelling.”

“Di album ini, kami juga merasa lebih berani mengeksplorasi dinamika. Ada bagian yang agresif dan megah, tetapi ada pula bagian yang lebih tenang, gelap, emosional dan atmosferik.”

Dengan formula ini, band yang digerakkan formasi gitaris Yudi Hana dan Ikhsan Ramdani, kibordis Nur Qamar Ramdhan, dramer Rangga Poetra Adi Lesmana, vokalis Helmy serta Ruby Anggitha Soeriatna untuk operatic vocal ini berharap pendengar tidak hanya mendengarkan album metal, tetapi juga merasa seperti diajak masuk ke sebuah dunia fantasi.

criatura

Asimetris

Dengan beragamnya elemen yang dibaurkan dalam komposisi lagu-lagu di “In the Silence of the Dawn” ini melibatkan sumber referensi yang cukup luas.

“Karena karakter musik Criatura merupakan perpaduan dari beberapa subgenre metal, kami tidak membatasi diri pada satu aliran saja.”

Tapi ada beberapa nama yang merekaa akui berpengaruh terhadap karakter musik Criatura. Di antaranya datang dari Abigail Williams, Fleshgod Apocalypse, Daemonicium, Dimmu Borgir, Rhapsody hingga Nightwish.

Tidak cuma itu. Di luar musik metal, Criatura juga banyak terinspirasi musik klasik serta scoring film.

“Kami tertarik pada cara sebuah musik orkestra membangun suasana, ketegangan, kesedihan, peperangan, kemenangan hingga nuansa fantasi.”

Lagu “Empty” merupakan salah satu contoh betapa luasnya ekplorasi yang dilakukan oleh Criatura. Lagu ini juga sekaligus menjadi komposisi garapan mereka yang paling menantang eksekusinya saat rekaman.

Dari segi aransemen, lagu tersebut memiliki banyak lapisan (layer) serta perubahan karakter. Lagunya bertempo lambat dengan birama 8/4, namun memakai pola ketukan yang tidak lazim (asimetris) 3+5 yang membuat lagu ini memiliki efek ritme yang unik dan dinamis.

“Di tengah lagu juga ada perubahan tempo dan birama dari 8/4 ke 3/4 lalu ke 4/4,” cetus pihak band menambahkan.

Bagi Criatura, tantangan terbesar bukan sekadar memainkan bagian yang sulit, melainkan membuat semua elemen kompleks tersebut tetap terdengar menyatu sebagai komposisi yang utuh.

Satu hal yang membuat band ini puas dalam memainkan paham symphonic/epic metal ini, adalah karena mereka bisa membuat sebuah riff gitar terasa seperti adegan peperangan.

Kemudian menghadirkan choir dan orkestra untuk memberikan nuansa megah, lalu berpindah ke bagian yang gelap dan emosional.

“Ruang eksplorasinya sangat luas, dan itulah yang membuat kami terus tertarik untuk menggali lebih jauh.”

Di samping itu, para personelnya juga menyukai kontras yang ditawarkan genre ini. Di satu sisi ada karakter metal yang ekstrem, keras, agresif dan powerful.

Di sisi lain, ada orkestra, melodi, harmoni dan choir yang memberikan nuansa cinematic serta emosional. Serta gabungan vokal ‘Beauty and the Beast’ antara vokal scream, operatic dan Soprano.

“Itulah sebabnya kami merasa genre ini sangat cocok dengan konsep Criatura. Kami bisa menggabungkan kegelapan dan keindahan.”

Album “In the Silence of the Dawn” merupakan upaya Criatura untuk mengubah sebuah album menjadi sebuah kisah teatrikal—tempat musik menjadi suara dari sejarah dan sang kurcaci bard menjadi penjaga seluruh ingatannya.

“‘In the Silence of the Dawn’ bukan sekadar kisah tentang apa yang telah terjadi. Ini adalah kisah tentang bagaimana legenda dilahirkan, dan bagaimana sebuah kemenangan dikenang.”

Tonton video lirik lagu “Victory” via tautan kanal YouTube resmi dari Surau Records ini. (@mudya_mustamin/MK01)

Susunan Bab:

  1. I. In the Silence of the Dawn
  2. II. Victory
  3. III. Rise of an Empire
  4. IV. Empty
  5. V. Shadow Before the Light
  6. VI. The Queen of Kings
  7. VII. Pendosa yang Mulia
  8. VIII. Aurora of the Fallen
  9. IX. Fury and Fire
  10. X. The Theatre of Midnight: Where Legends Are Born
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
rascal
Read More

RASCAL: Unjuk Gigi di EP “Heaven Shall Burn”

Usai perkenalan dan pemanasan di lagu “In Mourning”, Rascal melesatkan album mini (EP) debutnya, “Heaven Shall Burn” yang sarat kekerasan metallic hardcore.
pitfall
Read More

PITFALL: Nyawa Baru Usai Hibernasi

Usai masa hiatus yang berlangsung lebih dari satu dekade, Pitfall akhirnya meraung lagi lewat rilisan maxi-single, pemanasan menuju perilisan album mini (EP).