THE BRANDALS: Makin ‘Kiri’ di Album “Oposisi”

Lewat album terbarunya yang bertajuk “Oposisi”, The Brandals bermutasi menjadi warga sipil oposisi rezim yang dewasa, berani, tajam dan tetap berbahaya.
the brandals
THE BRANDALS

The Brandals menampilkan evolusi musikal terkini di album terbarunya, “Oposisi” yang diluncurkan hari ini, Rabu, 30 September 2026.

Unit rock asal Jakarta ini menunjukkan modus operandi yang selalu bergerak mencari ruang dan warna baru. Selalu mengambil resiko bereksperimen dan berekspansi.

Mencari rute yang jarang dilalui band atau musisi lain. Tapi tetap menjaga DNA-nya sebagai unit band rock paling berbahaya di lansekap musik independen lokal.

Tak heran, banyak repertoire lagunya melawan ekspektasi publik dan pendengar tentang bagaimana seharusnya The Brandals terdengar.

“Lagu-lagu di album sengaja dirancang sebagai medium eksplorasi atau eksperimen yang bertujuan menghindari ekspektasi pendengar tentang formula musik The Brandals,” seru Eka Annash, vokalis dan motor penggerak utama band ini, kepada MUSIKERAS.

Ia menyebutkan contoh terapannya, misalnya lagu “Di Pinggir Marjin” sebagai lagu balada untuk keluar dari pagar stereotipikal band rock yang harus macho, liar atau ugal-ugalan.

“Di trek ‘Ke Timur’ kami merambah ke hip-hop 90-an. Juga pertama kali gue nge-rap di Brandals. Ada (pula) choir (paduan suara) di lagu ‘Roedelius Moebius’.”

Rejuvenasi

Eksplorasi ini, tak lepas pula dari kehadiran Jonathan Mono dan Jonathan Pardede, duo produser yang membidani lahirnya 10 lagu karya terbaru The Brandals di album, yang dikerjakan sejak September 2024.

Pertemuan dengan Mono dan Pardede tersebut juga memberi sentuhan berbeda ke aransemen lagu. Keduanya mempunyai reputasi sebagai produser musik berhaluan elektronik sehingga membawa banyak palet baru ke dalam musik The Brandals.

Proses rekaman juga berjalan sangat produktif, dimana dinamika hubungan band dan produser tarik ulur saling menantang untuk membuat terobosan-terobosan yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Kolaborasi berjalan mulus, dan mendatangkan banyak referensi baru. Mencuri pengaruh dari musik dan band atau musisi dekade 80-90-an,  dimana rock, hip-hop dan elektronik mulai saling penetrasi dan bermutasi.

Antara lain datang dari Chic & Nile Rogers, INXS, Tears for Fears, Suicide, Blondie, The Clash, Bauhaus, Eric B & Rakeem, De La Soul, Paul Weller, The Style Council, The Stone Roses hingga Happy Mondays menjadi acuan dalam proses rekaman.

Sentuhan berbeda juga datang dari formasi terkini The Brandals, dimana ada kontribusi baru dari drumer muda, Ghani Noorputrawan yang bergabung di awal 2025. Gebukan solidnya menginjeksi rejuvenasi tenaga baru di album “Oposisi”.

Selain Eka dan Ghani, The Brandals juga masih dihuni gitaris Mulyadi Natakusumah serta bassis Radhit Syaharzam.

the brandals

Pekerja Urban

“Oposisi” tentu saja antara lain diperkuat beberapa lagu rilisan tunggal yang sebelumnya telah dikobarkan The Brandals di berbagai gerai digital. Termasuk “Jari Kasar” serta “Langit Biru”, selain dua lagu yang telah disinggung sebelumnya.

Juga meletupkan komposisi “1948” yang menyoroti peristiwa Nakba (malapetaka atau bencana dalam bahasa Arab), dimana 750,000 rakyat Palestina terusir dari tanah mereka sendiri karena dirampas secara paksa oleh Zionist Israel.

Penjajahan serta ekspansi pencurian lahan oleh Israel terus berlanjut sampai sekarang.  Sudah memakan jutaan korban jiwa, yang intensitas kebrutalannya meningkat tajam sejak 7 Oktober 2023.

“1948” yang kental akan corak post-punk ini tak hanya menyoroti fenomena tragedi ini, tapi juga menyulutkan api semangat pembebasan Palestina sampai merdeka.

Karena faktanya, membebaskan Palestina berarti juga membebaskan Indonesia (bahkan dunia) dari cengkraman Zionist Israel.

Secara tematik, “Oposisi” sengaja dipilih sebagai judul dengan pesan gamblang dan jelas tentang keberpihakan serta keteguhan dimana The Brandals berpijak, di tengah ricuhnya kondisi sosial politik sejak dipimpin rezim Prabowo-Gibran.

Tidak ada komponen oposan dalam struktur pemerintahan yang mewakili rakyat. Maka kehadiran “Oposisi” diharapkan bisa menjadi corong perwakilan suara mayoritas warga sipil yang ingin menyampaikan protes atas kebijakan dan manuver negara yang banyak merugikan.

Terutama buat kelas pekerja dimana personel The Brandals jelas berada di bawah demografinya.

Pesan-pesan tersebut terdengar di lagu seperti “Di Pinggir Marjin” sebagai lagu balada pekerja urban dan “Jari Kasar” yang berkolaborasi dengan duo punk elektro dari Purbalingga, Sukatani.

Atau bisa diteliti rentetan rap lirik Eka Annash di lagu “Ke Timur” yang merangkum porak porandanya kondisi dalam negeri dalam tulisan rima berdarah dingin. “Langit Biru” juga bernarasi secara reflektif tentang kehancuran alam.

Selain itu, band ini juga menyisakan momen introspektif di trek “Midnight, Dharmawangsa Parking Lot”.

Tapi payung besar tematik album ini adalah sepak terjang personel sebagai kepala keluarga kelas pekerja yang berjuang dan melawan dari jepitan tuntutan hidup, juga kerasnya kota urban.

“Oposisi” semakin mengkukuhkan posisi The Brandals sebagai band rock independen garda depan yang masih patut diperhitungkan walau sudah berjalan selama 25 tahun.

Sekaligus meneguhkan konsistensi posisinya sebagai band pembawa pesan sosial dan politik dari awal berdiri pada 2001 silam. Walaupun sudah berumur, tapi jati diri, mentalitas dan identitasnya sebagai berandalan akan selalu dijaga integritasnya.

Berawal sebagai band urakan pemberontak lalu terus menggeliat, berkembang dan bermutasi menjadi warga sipil oposisi rezim yang dewasa, berani dan tajam. Sikap itu kini terwakili dan terangkum dalam 10 karya terbaru mereka di album.

Dengarkan keseluruhan lagu di “Oposisi” serta album-album lainnya di kanal YouTube Music serta di laman Bandcamp. (@mudya_mustamin/MK01)

Susunan Lagu:

  1. Roedelius Moebius
  2. Jari Kasar (feat. Sukatani)
  3. Ke Timur
  4. 1948
  5. Langit Biru
  6. The Algo Dance
  7. Junkies Rokes
  8. Midnight, Dharmawangsa Parking Lot
  9. Untuk Ava
  10. Di Pinggir Marjin
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
repton
Read More

REPTON: Naik Kelas di “Slam On Air”

Menegaskan konsep musiknya yang ‘abu-abu’, Repton meluncurkan album penuh kedua, “Slam On Air” yang dirancang untuk menghantam dada, tanpa kompromi.
molt
Read More

MOLT: Spektrum Emosi di Maxi-Single

Penanda awal dari perjalanan Molt, alternative rock asal Klaten, Jawa Tengah ini ditegaskan lewat peluncuran dua lagu perpaduan ledakan emosi dan asa baru.