REPTON: Naik Kelas di “Slam On Air”

Menegaskan konsep musiknya yang ‘abu-abu’, Repton meluncurkan album penuh kedua, “Slam On Air” yang dirancang untuk menghantam dada, tanpa kompromi.
repton
REPTON

Repton telah melampiaskan “Slam On Air”, album penuh keduanya yang memuat sembilan dentuman perlawanan.

Di materi terbarunya, unit slamming buldozer groove asal Sukabumi, Jawa Barat ini merakit riff yang lebih berat, lebih padat dan sengaja dibuat untuk menghantam dada.

Distorsi ditumpuk. Tempo dipaksa masuk ke area abu-abu antara groovy slam dan heavy.

Di lini vokal juga, kali ini bisa dianggap naik kelas. Ada terapan growl yang menggeram, rap yang meludah serta sesekali disayat scratch DJ sebagai pisau terakhir.

Tiga elemen itu dijadikan satu senjata. Tidak ada kompromi.

Repton yang digerakkan formasi vokalis Rivana Aska, gitaris Teguh Maulana dan Afriansyah, drumer Asep Saepul Rahman serta Andika Putra Dermawan (DJ/turntable) sekarang tidak lagi minta didengar.

Mereka menuntut. Liriknya tidak basa-basi. Tidak ada metafora yang disamarkan. Isinya mentah: perlawanan, kritik sosial, amarah kelas pekerja dan catatan dari jalanan yang tidak pernah masuk berita.

Mental, Fisik

Kenapa metalheads wajib mendengarkan “Slam On Air”?

“Karena jujur, skena lagi butuh sesuatu yang fresh tapi dengan tidak menghilangkan roots,” seru kubu band kepada MUSIKERAS, beralasan.

“Kalau kalian bosan sama slam yang gitu-gitu aja, atau groove yang cuma chug-chug tanpa identitas, kalian wajib dengerin ‘Slam On Air’.”

Repton mengklaim, mereka menawarkan sesuatu yang belum banyak band di Indonesia yang melakukannya, yakni menggabungkan beratnya slam, goyangan groove, sangarnya rap dan liarnya scratch dalam satu paket.

“Jujur formula kami simpel tapi kami jaga mati-matian. Benang merah di album ‘Slam On Air’ itu tiga pilar: slam, groove, scratch DJ.”

“Mau temponya ngebut atau mid-tempo sekalipun, riff wajib ‘ngantuk’ tapi mukul, drum wajib groove dan nggak over beat, dan scratch DJ harus selalu ada sebagai identitas, bukan cuma pemanis.”

Lagu “Mei 1998” mereka sebut salah satu lagu yang wajib didengarkan lantaran menghadirkan tantangan yang tidak mudah saat pengeksekusian rekamannya. 

Di trek ini, para personel Repton dipaksa mengeluarkan semua elemen secara bersamaan. Groove harus super ketat, temponya naik turun, vokal rap yang mencecar sangat rapat sehingga hampir tak ada jeda untuk napas. Bagian scratch juga harus sinkron dengan breakdown paling akhir.

“Itu kami take berulang kali. Capek mental dan fisik. Tapi setelah jadi, kami puas. Itu track paling Repton di album ini!”

Prinsip yang dianut Repton adalah, tak ingin menjadi band dimana setiap lagu selalu bergonta-ganti genre. Liriknya juga mereka jaga, tetap ada gaya rap yang menyerang isu di sekitar kehidupan.

“Jadi sembilan track ini kalau didengerin dari awal sampai akhir, orang langsung tahu, ‘Oh ini Repton’. Itu yang kami jaga, konsistensi bulldozer.”

Repton juga menambahkan, bahwa “Slam On Air” bukan album untuk kalangan yang berpura-pura mengerti demi terlihat keren (poser).

“Ini album buat kalian yang pengen ngerasa ditabrak bulldozer tapi masih bisa angguk-angguk kepala. Sembilan track, tanpa basa-basi, masuk ke area abu-abu. Langsung sikat!”

repton

Darah, Keringat

Proses penggarapan “Slam On Air” dilakukan Repton secara independen dengan mengedepankan spirit kolektif, integritas serta etos kerja mandiri (DIY) yang menjadi napas utama mereka sejak awal berdiri pada 17 November 2016 silam.

Dalam rangka menggalakkan gaung album terbarunya tersebut, Repton memaksimalkan promosinya dengan menggelar tur bertajuk Slam On Air Tour 2026 di beberapa kota.

Rangkaian tur promo tur ini sendiri sudah berjalan, dimulai sejak 20 September 2026 lalu di panggung Thunderstrike Vol. 1, di Sukabumi.

“Tur ini dikerjakan dengan spirit darah, keringat dan pertemanan yang solid sebagai bukti nyata konsistensi kami di skena musik keras tanah air.”

Sejak 30 September 2026 lalu, “Slam On Air” sudah bisa digeber dengan volume kencang via berbagai gerai pemutar musik digital. (@mudya_mustamin/MK01)

Susunan Lagu:

  1. Slam On Air (intro)
  2. Merah Hitam
  3. Api Perang
  4. Van Den Bosch
  5. Mei 1998
  6. Marsinah
  7. Amarah
  8. Badai Dari Laut Timur
  9. Final Execution (outro)
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
molt
Read More

MOLT: Spektrum Emosi di Maxi-Single

Penanda awal dari perjalanan Molt, alternative rock asal Klaten, Jawa Tengah ini ditegaskan lewat peluncuran dua lagu perpaduan ledakan emosi dan asa baru.