Mengambil pengaruh dari petikan sitar musisi legendaris India, mendiang Ravi Shankar, yang lantas diberi suntikan energi rock dari Deep Purple, gumaman ala The Charlatans plus aroma musik Timur Tengah, lahirlah lagu-lagu baru dari Ramayana Soul – unit raga rock/rock psikedelik asal Jakarta – yang termuat di album mini (EP) berjudul “Elegi Prematur”.
Perayaan Record Store Day dipilih oleh Ramayana Soul sebagai momentum peluncuran “Elegi Prematur”. Bersama Pas Pas Records, mereka merilisnya dalam format CD, dalam jumlah terbatas, dan hanya tersedia di gelaran Record Store Day yang telah berlangsung di Kuningan City dan Pasar Santa, Jakarta, pada 22-23 April 2017 lalu.

Bisa dibilang, “Elegi Prematur” juga sekaligus menjadi momentum bagi Ramayana Soul yang kini dihuni formasi Erlangga “Angga” Ishanders (vokal/sitar/kibord), Ivon Destian (vokal), Adhe Kurniawan (gitar), Irfan Tirtamurti (bass) dan Bimo Kamil (dram/perkusi/tabla) untuk kembali aktif setelah menyatakan istirahat pada Juli tahun lalu. “Kami memang memutuskan reform karena ada hal-hal yang belum sempat terselesaikan,” ungkap Irfan Tirtamurti via press release.
Sebagai pembuka, Ramayana Soul telah meluncurkan single berjudul “Vayu” terlebih dahulu, yang menurut Ivon, adalah semacam mantra yang mereka tulis untuk “Elegi Prematur”. “Doa yang kami panjatkan,” cetusnya kepada MUSIKERAS.
Agar terdengar lebih khusyuk, para personel Ramayana Soul pun melibatkan penggunaan instrumen musik tradisional seperti tampura dan tabla untuk mewujudkan energi yang ingin disalurkan lewat lagu tersebut, yang dipadukan dengan nafas rock ala Deep Purple.
“Sebenarnya, saya sedikit mendapat referensi dari film-film Ultraman,” seloroh Angga, motor utama band ini, sambil tertawa. “Kalau lagi kalah, dia ditabokin musuhnya, lantas mendadak ada lagu kemerdekaan dan tiba-tiba dia jadi semangat. Lalu jadi terpikir, ini mirip juga sama (salah satu) lagu Deep Purple.”
Menurut Angga lagi, sebenarnya ia dan rekan-rekannya di Ramayana Soul tak sengaja melakukan perkawinan influens seperti yang terurai di atas. “Tapi kami baru nyadar saja, dari era Britpop mundur ke belakang, ada benang merah. Mungkin karena kami baru mulai serius dengerin Deep Purple dan rekan-rekan sejawatnya. Itu pun sekadar lewat Tabung Kamu, alias YouTube.”
Daya tarik lain di olahan musik di “Elegi Prematur” – yang juga memuat lagu berjudul “9”, “Hipersanghopef” dan “Menara Ksatria Mandala” – adalah adanya penggunaan alat musik sitar. Tapi menurut Angga lagi, ada tantangan tersendiri memainkan alat musik khas India tersebut. “Sitar adalah pengalaman baru yang sampai saat ini belum gue pahami. Baru sampai di tangan, belum sampai ke hati,” ujarnya terus-terang.
Sebelum “Elegi Prematur”, Ramayana Soul telah merilis album perdana berjudul “Sabdatanmanra” dalam format kaset, CD (2015) dan vinyl (2016) melalui label Wasted Rockers Recordings (Jakarta) dan Guruguru Brain Records (Tokyo, Amsterdam) tahun lalu.
Cikal bakal Ramayana Soul dimulai Angga (sebelumnya dikenal sebagai gitaris band Pestolaer) pada 2006 silam, sebagai proyek solo. Lalu berkembang menjadi sebuah band pada 2012. Konsep musik band ini mengeksplorasi rock psikedelik era ‘60an dengan raga-rock yang banyak menyerap eksotisme musik-musik India. Buat Angga, ia menganalogikan raga-rock sebagai sebuah tabrakan budaya yang terjadi ketika musik ‘pesugihan’ bertemu dengan musik yang sudah terdistorsi.
“Bagi saya pribadi, raga adalah miniatur bumi yang beberapa unsurnya tidak mungkin tersentuh. Kegesek juga dengan emosi yang memang labil – kadang sedih, marah, senang, dan lainnya.” (Mdy)