NO8 atau NUMBER 8 menyebut format musisi bertopeng ini terbilang jarang diterapkan di Indonesia. Tapi kini sedang mewabah di pentas rock dunia, yang ditandai kesuksesan band seperti Sleep Token dan President.
Konsep itu, lantas menginspirasi kelahiran NO8, yang disepakati diumumkan secara resmi bersamaan dengan peluncuran lagu rilisan tunggal debutnya yang bertajuk “Temaram”.
Lagu itu telah diedarkan sejak 8 Maret 2026 lalu via label independen, Reverge yang dikelola dan diproduseri oleh musisi Richard Florensiano Litana Mutter alias Oktav Mutter.
O ya, apa maksud di balik namanya?
“Number 8 bisa disebut angka keberuntungan aku. Secara literasi, angka 8 simbol infinity, tak terbatas, yang jika dihubungkan ke perjalanan musik, harapannya bisa terus berkarya yang tak terbatas,” ucap sosok di balik topeng NO8, kepada MUSIKERAS menjelaskan.
Jodoh Reverge
Menjalani proses kreatif peracikan “Temaram” dituturkan NO8 berlangsung sangat menyenangkan dan berarti. Karena semuanya berawal dari mimpi untuk dapat berkarya di musik yang ia sukaI dan akhirnya bisa terwujudkan.
Diputuskan berformat solois vokal dikarenakan dalam perjalanan pribadi sosok di balik NO8, selama ini ia belum menemukan jodoh yang tepat untuk membentuk formasi band.
Lalu ketika bertemu dengan Oktav Mutter, pemilik Reverge, apa yang ingin dicapai akhirnya bisa menjadi kenyataan.
“Temaram” sendiri berawal dari struktur lagu dan lirik yang dimainkan dalam format akustik. Dari situ lalu masuk ke peracikan aransemen yang berkarakter band. Pengolahan musiknya dibantu oleh Oktav sebagai produser musik plus isian gitar dari Muhamad Luthfi Ghifari.
“Peranan mereka sangat berarti dalam proses single ‘Temaram’ dan (album mini) EP yang akan rilis dalam waktu dekat. Jadi untuk komposer yang terlibat dalam proses kreatif musik ada tiga orang, yakni NO8, Oktav dan Muhamad Luthfi Ghifari.”
Ya, saat ini sebuah EP bermuatan lima amunisi lagu juga sedang disiapkan, dan dicanangkan bisa rilis pada 8 Mei 2026 mendatang.
Akar musik yang dieksplorasi untuk “Temaram” serta empat lagu lainnya di EP tetap berpijak pada musik rock. Namun eksplorasinya juga melibatkan elemen metal modern, terapan riff-riff gitar dengan penalaan (tuning) rendah, dengan takaran distorsi yang tinggi.
“Alunan yang khas dari musik heavy era modern sekarang, serta penambahan elemen-elemen atmosphere, trap, isian string untuk menunjang musiknya,” urai NO8 lagi.
Tapi jika membandingkannya dengan formula musik dari entitas macam Sleep Token atau President, dengan tegas NO8 mengatakan bahwa pembedanya ada di geberan yang lebih berat. Seperti yang bisa didengarkan di komposisi “Temaram”.

Titik Hitam
Bagi musisi bertopeng ini, racikannya sangat menarik karena menekankan bagaiamana caranya menyuguhkan musik yang tetap bisa meleburkan antara musik rock dengan metal.
“Dan salah satu yang menginspirasi musik NO8 tidak hanya dari skena musik rock atau metal. Ada juga dari (lagu-lagu) Feby Purtri, Nadin Amizah dan (grup) PADI dalam pengambilan notasi-notasi mengalunnya, serta tentu pengambilan kosakata secara lirik yang puitis dan mendalam.”
Tapi di balutan modern metal yang melumuri “Temaram” serta lagu-lagu lainnya di EP, NO8 menyerap jurus-jurusnya dari band-band mancanegara seperti Sleep Token, Bad Omens, President, ERRA serta lagu “Tiga Titik Hitam” milik unit metal legendaris Bandung, Burgerkill.
Walau EP mendatang disesaki lima lagu, namun “Temaram” disebut sebagai lagu yang paling menantang pembuatannya dibanding trek lainnya. Alasannya, karena justru lagu itulah yang memulai segalanya.
Serba awal. Awal untuk membuat struktur lagu, awal untuk mencurahkan keresahan ke dalam lirik, awal masuk dapur rekaman dan awal menentukan aransemen musiknya.
“Menjadi catatan sangat penting dalam perjalanan NO8!”
Dengarkan “Temaram” yang berdurasi 5 menit 44 detik di berbagai gerai penyedia layanan musik digital. Termasuk video musiknya yang sudah ditayangkan di kanal YouTube. (mdy/MK01)