Rottensovl terlahir dari kelelahan para personelnya melihat banyaknya tragedi penindasan, serta sistem yang tidak bisa diterima oleh akal sehat.
Mereka butuh penyaluran untuk menggaungkan ungkapan jiwa. Untuk menempa dan melontarkan sebuah perlawanan bagi kaum yang terbungkam.
Niat itu, akhirnya berhasil dikobarkan oleh band asal Depok, Jawa Barat ini pada 10 Mei 2024 lalu, yang ditandai lewat peluncuran lagu rilisan tunggal bertajuk “Resistance”. Setahun lebih sejak resmi dibentuk.
Kini, peluru pertama itu telah menjelma menjadi semacam rudal klaster. Berkembang total menjadi lima komposisi bengis yang dirangkum dalam sebuah EP berjudul “Cycle Of Greed”.
“Sejak terbentuk, fokus utama kami adalah membawakan materi sendiri. EP ini lahir dari proses yang cukup intens. Penyatuan isi kepala lima personel dengan karakter yang berbeda-beda,” tutur Rottensovl kepada MUSIKERAS.
Mereka adalah dramer Eka Putra (Okii), vokalis Erlangga Farawansyah, gitaris Sulfan Akbar Sahabi dan Januar Tony serta bassis Dimas Saputra (Digcrust).
“Kolaborasi itu lantas menciptakan dinamika ‘perang ide’ yang justru membuat materi kami terasa lebih jujur dan bertenaga.”
Untuk urusan teknis, Rottensovl sangat serius dalam mengeksekusi produksi rekaman “Cycle Of Greed”. Saat merekam “Resistance”, mereka mengeksekusinya di Gest Audio Labs, Depok.
Tapi untuk empat lagu lainnya di EP, rekamannya berlangsung pada April 2025 di Treey Record, Surabaya (Jawa Timur), demi mencapai kualitas suara yang maksimal.
Kecuali untuk vokal, rekaman keseluruhan tetap dilakukan di Gest Audio Labs lantaran sang vokalis berhalangan berangkat ke luar kota untuk beberapa hari.
Kolaborasi Keparat
Keseluruhan lagu di EP disemburkan Rottensovl dengan geberan distorsi hardcore gaya lama yang menggabungkan old school riffs dengan karakter bunyi modern yang sedikit kotor namun terkontrol.
“Kami membawa konsep old-school hardcore dengan karakter sound modern yang sedikit raw namun masih terdengar tight, dan juga dengan muatan rima lirik yang straight,” seru Rottensovl lagi menegaskan.
Perbedaan karakter dari kelima personel, termasuk dari segi kemampuan dan pola fikir menjadikan ide-ide atau gagasan musikal yang dicuatkan berbeda beda.
“Itu bisa menjadi salah satu ciri khas kami dan cara kami dalam meracik musik Rottensovl untuk terus berkembang.”
Pengaruh musikal yang dibawa untuk mengobarkan “Cycle Of Greed” datang dari berbagai jurus band-band mancanegara. Di antaranya seperti Hatebreed dan Terror (AS), Rise of the Northstar (Perancis), Get The Shot (Kanada) hingga Worst (Brasil).
“Dan masih banyak lagi lainnya. Apalagi pada saat brainstorming… hahaha.”
Bahkan ketika merekam lagu yang berjudul “Keparat”, prosesnya lumayan pelik. Khususnya dalam proses pemilihan tempo yang berubah-ubah. Salah satu yang terlama, hingga butuh waktu sampai larut malam.
“Bahkan sampai kami harus teruskan di keesokan harinya karena satu player kami mendadak sakit dan terpaksa harus berhenti dan dilanjutkan keesokan hari nya.”
Masalah lainnya juga muncul di lini vokal. Saat mereka kembali ke Gest Audio Labs untuk melanjutkan rekaman sesi vokal, para personel Rottensovl bertemu dengan Bachtiar Ali, rekan sekoridor di ranah hardcore.
Usai mendengarkan sampel lagu keempat tersebut, mendadak terbesit ide untuk melakukan kolaborasi. Sehingga, mereka pun kembali harus bertukar pikiran, membuat lirik tambahan serta mengotak-atik komposisinya lagi agar sesuai dengan karakter vokal Brody.
“Itu pun (kami) terkejar deadline, dimana esok sore harus selesai. Pada saat take vokal pun cukup rumit karena vokalis kami mengganti karakter suaranya sampai ke titik maksimal, sehingga staminanya deras terkuras.”
Akhirnya, perekaman vokal untuk “Keparat” diputuskan dilanjutkan lagi beberapa hari ke depan setelah sang vokalis pulih kembali.

Lebih jauh tentang muntahan lirik di keseluruhan lagu di “Cycle Of Greed”, berikut uraian rinci dari Rottensovl:
“Kingdom”
“”Dahulu, negeri ini adalah sebuah perjamuan agung dimana matahari seolah enggan terbenam. Tanah yang memuntahkan emas, dan sungai yang mengalirkan kemakmuran. Namun, di balik tirai sutra istana, benih-benih ‘Kingdom’ mulai membusuk.”
“Oligarki”
“Otoritas bukan lagi amanah, melainkan warisan meja makan. Mereka membangun singgasana dari tulang punggung rakyatnya sendiri. Mengangkat darah daging mereka ke atas menara gading, sementara hukum hanyalah mainan di tangan para ‘Oligarki’.
Sekelompok elit kecil yang berpesta di atas piring emas, menghisap sumsum bumi hingga kering, tanpa menyadari bahwa pondasi yang mereka pijak mulai retak.”
“Aware”
“Kesejahteraan yang dulu kita kenal, kini hanyalah dongeng pengantar tidur bagi anak-anak yang kelaparan. Sistem yang seharusnya melindungi, berubah menjadi jerat yang mencekik leher ekonomi jelata.
Di tengah sesak nafas itu, sebuah bisikan mulai menjalar – ‘Aware’. Sebuah kesadaran kolektif dari mereka yang tertindas, merajut luka menjadi satu kekuatan yang tak terbendung.”
“Keparat”
“Kesabaran itu ada batasnya. Dan ketika batas itu dilalui, hanya ada satu kata yang tersisa di ujung lidah rakyat: ‘Keparat’! Sebuah makian yang menjadi bensin bagi api kemarahan.”
“Kini, tirai kedamaian telah robek. Tak ada lagi ruang untuk negosiasi. Inilah ‘Resistance’ – sebuah perlawanan terakhir untuk meruntuhkan menara keserakahan, meski harus membakar seluruh kota demi mematikan akar yang sudah terlanjur busuk.”
“Selamat datang di akhir dari segalanya. Selamat datang di ‘Cycle of Greed’.”
Dengarkan keseluruhan lagunya di berbagai gerai penyedia layanan musik digital – termasuk di kanal YouTube – yang sudah tersedia sejak 10 April 2026 lalu. (mdy/MK01)