Memanfaatkan kelangkaan pengibar deathcore di kotanya, unit cadas asal Palopo, Sulawesi Selatan ini pun bertekad terus bereksplorasi di kubangan tersebut. Sudah beberapa rilisan single yang mereka lepas untuk menancapkan eksistensinya, di antaranya lagu “Pendosa”, “The Eyes” dan “Suffering”. Dan yang paling baru adalah album debut bertajuk “Alienation”, yang secara resmi dirilis sejak 20 November 2020 lalu.
“Kami memilih genre deathcore dikarenakan di daerah kami memang belum ada, (jika) dibandingkan genre underground lainnya seperti post-hardcore dan metalcore. Kalau berbicara luasnya, deathcore di Indonesia mungkin hanya beberapa band saja, bahkan masih bisa dihitung jari band yang sudah mempunyai rilisan fisik berupa album khusus deathcore ini,” urai Prince the Death kepada MUSIKERAS, mengemukakan alasannya.
Lalu dengan tekad merilis album, bagi band yang dihuni formasi Moch. Qaiz Raihan (vokal), Moch. Aidil Fatwal (bass), Affan Topan (gitar), Hamsa Haz (gitar) dan Wahyu Andika (dram) ini, mereka juga ingin mencari peluang untuk bisa dikenal lebih luas lagi, di luar lingkaran maraknya band ber-genre lain seperti death metal hingga modern rock.
“Kami mempunyai ciri khas dalam musik, yaitu menggabungkan musik orkestra yang memberi nuansa dark dan metal sebagai akar kami yang kami sebut (dengan istilah) ‘horronic deathcore’.”
Band-band luar seperti Bertraying The Martyrs, Design The Skyline, Lorna Shore, Enterprise Earth, Bring Me The Horizon dan Chelsea Grin adalah sumber referensi Prince The Death dalam meramu formula musiknya. Mereka menghadirkan deathcore dengan nuansa dan atmosfer kengerian, sehingga menjadikan ranah deathcore di Tanah Air semakin variatif.
“Alienation” sendiri memuat 11 amunisi lagu yang dikerjakan selama kurang lebih setahun, sejak Maret 2019 hingga Mei 2020. Prince the Death merekamnya di Athena Annihilator Records, termasuk tahapan pemolesan mixing dan mastering yang ditangani oleh pembetot bass Prince the Death sendiri, yang juga merupakan pemilik studio.
Salah satu lagu di album “Alienation” yang bertajuk “Halusinasi”, di mata band, merupakan salah satu karya yang sangat membanggakan bagi mereka dari segi teknis maupun musikalitas. Karena secara teknis, komposisi serta pengolahan aransemennya, “Halusinasi” terbilang agak sulit jika dibandingkan lagu-lagu lainnya.
“Karena di awal lagu disuguhkan petikan bass serta ditambahkan suara orkestral yang memberi kesan yang lebih padat, apalagi pas di bagian melodi gitarnya yang menurut kami sangat berisi dan heavy,” seru mereka menegaskan.
“Alienation” sendiri didistribusikan oleh Kenewae Merch asal Tanjung Morawa, Sumatera Utara. Sebelumnya, Prince the Death yang terbentuk pada 5 Mei 2018 juga pernah berpartisipasi dalam album kompilasi “Spirit Crusher” (2020) garapan Aincard Records asal Jakarta dan “Kota Kita Compilation” (2020) rilisan Kenewae Merch. (aug/MK02)
.