Undimension sebelumnya telah memperkenalkan eksistensinya lewat peluncuran lagu tunggal debut yang bertajuk “Antitesis” pada 12 Desember 2022. Beberapa bulan setelah resmi dibentuk.
Tapi di tahun berikutnya, terjadi perubahan formasi di lini dram, dimana Ferry Tomo keluar dan digantikan oleh Ardian. Sementara personel lainnya, masih diperkuat oleh vokalis Rizky Al Anshary, gitaris Gambino Gosal dan Lukman Hakim serta bassis Nanda Milhan.
Formasi inilah yang menggarap “Dogma Karsa Petaka”, lagu baru yang merupakan satu dari tujuh amunisi berdurasi total 30 menitan yang bakal menjejali album “Imperium Manifestopia”.
Rencananya dirilis pada Mei tahun ini, via label In Blood Records.
Undimension yang dibentuk di Jakarta dikenal akan warna musik death metal yang kental akan pendekatan progressive dan technical. Pengaruh mereka datang dari band-band mancanegara seperti Necrophagist, Obscura, Beyond Creation, Psycroptic, Gorod, Origin, Archspire, The Faceless hingga Lorna Shore.
Tidak hanya terpaku pada death metal, tapi unsur nada yang diterapkan di komposisi lagunya turut teradopsi dari berbagai elemen musik lintas genre.
Dengan kompleksitas nada yang dinamis menjadi sebuah atmosfer yang akan menciptakan nuansa lagu yang terdengar sinematik dan konseptual.
Brutal, Sinematik
Lebih rinci, secara keseluruhan “Dogma Karsa Petaka” tidak hanya hadir sebagai komposisi musik, namun juga sebagai medium ekspresi emosional yang kuat. Ia mewakili kemarahan, kecemasan serta peringatan yang tersirat dalam liriknya.
Undimension menghadirkan elemen scoring sound yang memperkuat atmosfer “Dogma Karsa Petaka”. Pendekatan ini menciptakan ruang dengar yang tidak hanya brutal, tetapi juga sinematik.
Peracikan produksi suaranya dibantu oleh Cristian Wailan Mamuaya sebagai produser, dari Chriswama Creative Works. Ia juga bertanggung jawab dalam pemolesan mixing dan mastering.
Pendekatan teknis yang ia terapkan mampu menangkap serta mengolah esensi scoring sound secara presisi, sehingga menghasilkan kualitas audio yang solid dan sinematik.
Seolah membawa pendengar masuk ke dalam narasi yang gelap dan intens. Musik di dalam lagu ini berperan sebagai perpanjangan emosi, bukan sekadar pengiring.
“Secara musikal, ada pergeseran yang cukup signifikan,” cetus pihak Dimension kepada MUSIKERAS, meyakinkan.

Karena di karya rekaman mereka sebelumnya, para personel band ini masih banyak mengeksplorasi agresi secara spontan dan lebih langsung menghantam. Namun di “Dogma Karsa Petaka” serta keseluruhan konsep album “Imperium Manifestopia”, pendekatannya jauh lebih terstruktur dan konseptual.
“Kami mulai membangun komposisi dengan pendekatan yang lebih sinematik. Tidak hanya sekadar riff dan intensitas, tapi juga atmosfer, dinamika dan storytelling yang menyatu dari lagu pertama sampai akhir.”
Kata mereka, elemen teknikal tetap menjadi fondasi, tapi sekarang dibalut dengan lapisan suara yang lebih kompleks. Disonansi yang lebih terarah, transisi yang lebih tajam serta penggunaan ambience dan scoring yang memperkuat narasi.
“Secara esensi, musik kami bukan cuma soal ‘keras’, tapi juga soal tekanan psikologis dan pengalaman mendalam yang ingin kami sampaikan. Bisa dibilang, ini adalah fase dimana kami mulai benar-benar menyusun identitas sound yang lebih matang dan ideologis.”
Olahan itu, melengkapi makna di penulisan lirik, yang digarap oleh Rizky Alanshary, dimana ia menerjemahkan konsep besar lagu ke dalam bentuk narasi yang tajam dan penuh makna.
Sebuah kritikan tajam terhadap radikalisme, manipulasi agama serta distorsi ajaran yang digunakan oleh oknum-oknum tertentu untuk mencapai kekuasaan atau supremasi kelompok.
Pesan utamanya adalah waspada terhadap fanatisme buta. Undimension mencoba membedah bagaimana sebuah ‘karsa’ (keinginan/kehendak) yang salah bisa berubah menjadi teror yang menghancurkan tatanan sosial dan mencoreng kesucian ajaran itu sendiri.
Kesatuan Naratif
Sejauh ini, persiapan menuju perilisan album “Imperium Manifestopia” dikabarkan Undimension sudah sampai di tahap yang cukup solid dan sudah siap secara keseluruhan.
Mereka benar-benar memberi perhatian besar di setiap detail, karena album ini mereka anggap sebagai representasi utuh dari visi musikal Undimension.
Benang merah “Imperium Manifestopia” terkonsep saling terhubung. Bukan sekadar kumpulan lagu, tapi sebuah perjalanan. Sejak lagu pertama digulirkan hingga akhir, baik secara musikal maupun secara naratif.
“Kami juga sedang mempersiapkan beberapa elemen pendukung seperti artwork, visual dan konsep rilisan agar semuanya terasa satu kesatuan. Dan akan kami kerjakan selesai di akhir bulan April ini.”
“Target kami bukan hanya merilis album, tapi menciptakan sebuah pengalaman yang bisa dirasakan secara penuh oleh pendengar!”
Sejak 3 April 2026, “Dogma Karsa Petaka” sudah dapat digeber via berbagai gerai penyedia layanan musik digital. Termasuk di kanal Bandcamp. Sementara untuk visualisasi pendukung berupa video lirik juga telah tersedia di tautan kanal YouTube ini. (mdy/MK01)