NAUGHTY HAND Lanjutkan Amarah di Video Musik “Serakah”

Dalam beberapa bulan lagi, pejuang metalcore asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini kembali menjanjikan bakal melepas album perdananya yang bertajuk “Civilization”. Karya rekaman kolektif tersebut, bisa dibilang sudah mulai dipanaskan sejak 2016 lalu, namun sempat terjegal kevakuman selama kurang lebih tujuh bulan, dan baru mulai aktif lagi pada 2019 lalu. 

“Progres dari album kami sudah siap untuk dirilis, sebuah karya yang penuh akan amarah dengan peradaban saat ini,” cetus pihak Naughty Hand kepada MUSIKERAS meyakinkan.

Agar tetap menjadi menu yang hangat, band yang terbentuk pada Maret 2015 ini lantas kembali melepas rilisan, tepatnya sebuah video musik untuk salah satu karya lagu awal mereka yang berjudul “Serakah”. Sebelumnya, awal tahun lalu, Naughty Hand juga sudah memperdengarkan “Tears and Destiny”, salah satu lagu yang juga bakal menjadi amunisi di “Civilization”.

Ahmad ‘Chank’ Husaini (vokal), Rydho (gitar), Decky Andrea (gitar), Reza ‘Eza’ Fauzi (bass) dan Muhammad ‘Kiki’ Rizki (dram) sendiri mengemas video “Serakah” dengan visualisasi yang kental akan unsur budaya tanah Borneo, dimana Naughty Hand berkolaborasi dengan seniman tari tradisional khas Dayak.

Mereka menggambarkan kekesalan terhadap manusia yang punya kuasa lebih dan terus ingin memperkaya dirinya sendiri dengan merusak alam yang ada sejak dulu. Bahwa semakin mereka ambil hasil alam ini maka kehancuran bumi hanyalah tingal menunggu waktu.

.

.

“(Lagu) ‘Serakah’ tercipta karena kerasahan kami sebagai masyarakat, khususnya Kalimantan, yang merasa pulau ini sudah mulai tidak baik-baik saja. Sudah banyak kejadian bencana alam, yang paling sering adalah banjir di mana-mana. Kami meyakini bahwa ini tidak hanya karena Tuhan semata yang melakukannya, tapi karena ada campur tangan manusia-manusia serakah yang tidak bertanggung jawab atas kerusakan alam ini. Pembuatan single ini kami persiapkan dari dua bulan yang lalu, dengan penggarapan  video klip-nya (selama) satu minggu.”

Kali ini, Naughty Hand menerapkan konsep aransemen musik yang sedikit berbeda dibanding “Tears and Destiny”. Susunan riff gitar yang dipilih misalnya, “Serakah” dibuat lebih ringan dan mudah untuk didengarkan ketimbang “Tears and Destiny” yang dieksekusi dengan riff yang cenderung lebih cepat.

“Dari segi breakdown dan untuk ketukan dram juga begitu, dimana lagu ‘Serakah’ agak lebih down-tempo. Lalu penataan ‘Tears and Destiny’ juga lebih banyak mengambil orkestra yang tanpa (penggunaan) efek-efek elektronik modern. Di lagu ‘Serakah’, sudah agak modern yang dibumbui orkestra plus efek-efek elektronik.”

Paham metalcore yang modern memang menjadi urat nadi musikalitas Naughty Hand di lagu-lagunya, termasuk yang sudah diperdengarkan sebelumnya seperti “Will Become Strongers”, “Clown” serta “Into the Dark Hole”. Lalu di sana-sini juga ada imbuhan elemen deatchcore yang kental untuk memperkaya suguhannya, antara lain terserap dari berbagai band dunia yang mereka dengarkan seperti Wage War, Bullet for My Valentine, Whitechapel, I Am Noah, Blessthefall, Miss May I, August Burns Red dan Parkway Drive. (aug/MK02)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.