WOUNDMVRK: “Kami Tidak Mengejar Breakdown atau Tempo Cepat!”

Usai perdengarkan nomor perkenalan bertajuk “Break These Chain” pada 26 September 2025 lalu, kini Woundmvrk rilis lagu kedua yang menghantam.
woundmvrk
WOUNDMVRK

Woundmvrk telah meluncurkan “Static Under Skin”, lagu rilisan tunggal keduanya pada 13 Februari 2026 lalu. Karya kedua dari tiga lagu yang menjadi nomor ‘penggoda’ sebelum pelepasan album penuh, pertengahan tahun ini.

Dengan kendaraan hardcore yang agresif dan menghantam, “Static Under Skin” menangkap kondisi ketika pikiran dipenuhi gangguan konstan: overthinking, kecemasan serta amarah yang tertahan.

Lagu itu sendiri bermain di wilayah kontras. Dari luar tampak ‘baik-baik saja’, namun di dalam terjadi tekanan dan kekacauan yang terus bergerak.

Tema utamanya berangkat dari pengalaman hidup dengan ‘noise’ internal yang tak pernah benar-benar padam. Suara di kepala yang terus aktif, memicu gelisah, memadatkan emosi dan menggerus ketenangan.

Atmosfer tersebut diterjemahkan Woundmvrk lewat komposisi berat, tensi ritmis yang ketat namun tetap modern, serta konsistensi vokal clean yang kembali dipertahankan di rilisan kedua ini.

Emosi Mentah

“Static Under Skin” semakin mempertegas arah musikal band yang dihuni kolaborasi vokalis Monoserus, Giovano Caesar Calvino, Kevin Pangestu (gitaris Jimjack), gitaris Fadel Ahmed Faizal, dramer Ary ‘Argon’ Gusman serta bassis Ashari Aulia (juga tergabung di grup pop, Geisha).

Intens, emosional dan konfrontatif.

“Hardcore intens yang dimaksud kuat secara energi dan emosi, terasa padat dan menekan secara perasaan, jadi bukan yang santai atau ringan,” cetus Woundmvrk kepada MUSIKERAS mendeskripsikan.

Secara musikal, lanjut mereka, “Static Under Skin” adalah manifestasi dari tekanan yang tak pernah benar-benar hilang. Perasaan yang banyak dialami orang… pikiran kacau atau kalut yang memicu amarah atau trauma masa lalu di momen-momen tertentu.

“Kami membangun lagu ini bukan sekadar untuk dinyanyikan, tapi juga diteriakkan seperti pelepasan emosi yang sudah lama dipendam.”

Secara emosional, “Static Under Skin” lahir dari konflik internal amarah yang tak selalu terlihat di permukaan, tapi terus bergetar di bawah kulit.

“Lirik dan vokalnya kami dorong sampai ke titik paling mentah, supaya yang keluar bukan sekadar kata-kata, tapi nunjukin rasa yang emang nggak nyaman.”

Saat meracik komposisi dan aransemen “Static Under Skin”, para personel band yang terbentuk di Jakarta ini berangkat dari satu tujuan: bikin lagu yang terasa menekan sejak detik pertama. Bukan sekadar cepat atau keras, tapi benar-benar mencekik dan konfrontatif.

“Kami nggak cuma mengejar breakdown atau tempo cepat. Kami fokus ke atmosfer lagu dan ketegangan. Kami ingin pendengar merasa terjebak di dalam lagu, bukan cuma mendengarkannya.”

Secara teknis, Woundmvrk mengeksplorasi penalaan (tuning) rendah, tekstur gitar yang lebih tebal dan kasar, serta rhythm section yang solid. Referensinya antara lain datang dari band-band mancanegara macam END, Knocked Loose, Kublai Khan TX serta sedikit campuran Deftones.

Sound kami mungkin tetap berakar di metal hardcore, tapi kami banyak bermain di tekstur, layering dan dinamika yang lebih sinematik tanpa kehilangan ke-chaos-annya.”

woundmvrk

Sembilan Lagu

Proses kreatif penggarapan “Static Under Skin” dijalani Woundmvrk selama sekitar satu minggu, sejak penyusunan komposisi awal hingga master final.

Fondasi lagunya dimulai oleh Kevin dan Argon. Kemudian setelah draft awal terbentuk, mereka berlima melakukan workshop untuk membedah lagu tersebut lebih dalam.

“Bagian-bagian mana yang butuh punch lebih keras, part mana yang dibikin lebih catchy, bagian reff dan lainnya. Di fase inilah identitas ‘Static Under Skin’ benar-benar dikunci.”

Penulisan lirik dan rekaman vokal dilakukan dan direkam secara independen di apartemen sang vokalis. Di bagian ini, mereka sengaja mempertahankan rasa mentahnya agar emosi yang keluar tidak terdengar dibuat-buat. Lebih seperti amarah yang sudah tertahan lama dan baru dilepaskan saat itu.

Usai merampungkan rekamannya, lanjut ke tahapan mixing dan mastering yang dipercayakan kepada Arif Hardianto, yang membantu memoles keseluruhan sound tanpa menghilangkan karakter kasarnya, tetap keras dan menghantam.

“Lagu ini menjadi tanda bahwa kami tidak datang untuk bermain aman, tapi untuk meninggalkan bekas.”

Lagu ketiga sebelum merilis album rencananya bakal diperdengarkan Woundmvrk bulan depan. Untuk albumnya sendiri, ditargetkan beramunisikan sembilan lagu. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
itami
Read More

ITAMI: Metal Modern yang Lebih Luas

Lewat sepasang rilisan tunggal bertajuk “Oblivion” dan “Remembrance”, ITAMI memadukan keganasan metalcore dengan agresi presisi dari pengaruh djent.
repture
Read More

REPTURE: Epos Metal yang Brutal dan Kolosal

Terinspirasi konflik historis dan narasi panjang, Repture lepas karya baru, sambil pertahankan fondasi metal ekstrem yang brutal dan tanpa kompromi.
konn
Read More

KONN: Powerviolence di Atas Kebohongan

Menyambut perilisan album penuhnya pada Maret 2026 mendatang, KONN melepas tiga lagu kritis sebagai pengantar sekaligus pemanasan.