Repture melepas “Reconquista”, lagu rilisan tunggal terbarunya, yang dicanangkan sebagai menu pembuka menuju album studio kedua mereka.
Sebuah komposisi yang – menurut tuturan band asal Bekasi, Jawa Barat ini kepada MUSIKERAS – dirancang sebagai epos metal yang brutal dan kolosal.
Menggambarkan sejarah panjang di semenanjung Iberia, sejak awal masuknya pasukan Kekhalifahan Umayyah yang dipimpin oleh komandan Thariq Bin Ziyad sampai dengan keruntuhan Kesultanan Granada.
Gitaris Muhammad Rico (Richo Muhammad) yang membentuk Repture pada 2016 silam, mengungkapkan bahwa ide awal menulis lagu ini berawal dari membaca sebuah literasi.
“Lalu kami tertarik, kemudian dirangkum menjadi sebuah lirik dan diteruskan dengan menyusun riff gitar yang brutal sampai harmoni, menyesuaikan alur cerita yang kami rangkum menjadi sebuah lirik lagu.”
“Reconquista” sekaligus menandai era baru Repture yang membawa pendekatan vokal lebih naratif, berlapis dan sarat tekanan emosional.
Puncak Agresi
Lagu dibuka dengan atmosfer gelap dan tegang, menciptakan nuansa persiapan invasi dan ketidakpastian sebelum perang.
Bagian awal berkembang perlahan dengan tempo yang terkontrol, riff berat yang repetitif dan dinamika yang represif, menggambarkan awal penaklukan Semenanjung Iberia oleh pasukan Umayyah pada tahun 711 Masehi.
Lini vokal ditampilkan lebih dominan dan deklaratif, memperkuat kesan konflik berkepanjangan antara kekuasaan, agama dan wilayah yang berlangsung selama berabad-abad.
Paruh akhir “Reconquista” menjadi puncak agresi. Tempo meningkat, riff menjadi lebih tajam dan padat. Juga permainan dram yang semakin intens, membangun klimaks panjang dan tanpa kompromi.
Bagian ini merepresentasikan fase akhir “Reconquista”, jatuhnya Kesultanan Granada pada tahun 1492 oleh Raja Ferdinand II dari Aragon dan Ratu Isabella I dari Kastilia, menandai runtuhnya kekuasaan Islam terakhir di Iberia.

Elemen Ekstrem
Proses pengerjaan rekaman “Reconquista” yang dilakukan di NPA Music Studio dimulai pada Oktober 2025 lalu. Tapi, kali ini eksekusi rekamannya sedikit berbeda.
Para personel Repture; Richo, gitaris Banyu Dimas Dewanto, dramer Azis Yulistianto, dramer Dede Kusnadi (Degol) dan vokalis Muhammad Agus Mulyanto (Iky) tak hanya merekam instrumen ‘standar’ seperti dram, gitar dan bass. Namun juga menyelipkan penggunaan synthesizer dan violin.
“Tujuannya untuk memperkuat kisah sejarah yang ada di dalam lagu tersebut,” ujar Richo.
Secara keseluruhan, “Reconquista” telah menunjukkan musikalitas Repture yang kini lebih epik, konseptual dan sinematik, tanpa meninggalkan fondasi agresi metal yang menjadi identitas mereka.
Dalam peracikannya, sejumlah referensi dibaurkan menuju sebuah konsep, yang sebagian inspirasinya datang dari paham thrash metal, death metal hingga musik klasik.
“Ada juga beberapa band seperti Kreator dan Yngwie Malmsteen,” cetus pihak Repture lagi.
Kehadiran vokalis tamu Manank Deny memperkuat dimensi cerita dalam lagu ini, menjadikan vokal bukan hanya sebagai elemen ekstrem, tetapi juga sebagai pemandu narasi sejarah.
“Reconquista” yang dirilis via label AMPS Records akan segera tersedia di berbagai gerai penyedia layanan musik digital mulai 1 Maret 2026 mendatang.
Sebelum rilisan tunggal tersebut, Repture telah merilis album mini (EP) “Damage Spiritual” (28 September 2018) dan album penuh “Noxious” (7 Desember 2024) dan aktif tampil di skena ‘bawah tanah’ di Tanah Air.
Bahkan sempat pula ‘menjajah’ beberapa negara, tampil di Kuala Lumpur dan Johor Bahru, Malaysia (11-12 Februari 2018) serta pentas “Beast of the East” di Singapura (7 Oktober 2023).
Pada pertengahan tahun ini, Repture telah mencanangkan bakal merilis album terbarunya, yang kemungkinan besar bakal memuat sembilan amunisi lagu. (mdy/MK01)