PANIC DISORDER: Lebih Gelap dan Ideologis

Kebrutalan death metal yang dimuntahkan Panic Disorder di karya rekaman terbarunya, mengusik runtuhnya iman dan ketakutan kosmik.
panic disorder
PANIC DISORDER

Panic Disorder kembali menciptakan kepanikan lewat “Eternal Dread”, lagu rilisan tunggal mereka yang diedarkan via label AMPS Records.

Masih dengan pendekatan brutal, teknis dan tanpa kompromi, yang terbentuk dari pengaruh kuat band mancanegara macam Dying Fetus. “Eternal Dread” adalah pernyataan tentang kehancuran spiritual, kepercayaan buta dan ketakutan yang bersifat permanen.

Unit death metal asal Jakarta ini membangun “Eternal Dread” di atas riff death metal yang padat dan presisi, tempo agresif yang bergeser cepat, serta vokal berteknik guttural yang menekan.

Menciptakan atmosfer opresif dan tidak memberi ruang bagi rasa aman. Lagu ini tidak menawarkan katarsis atau harapan, melainkan menggambarkan dunia yang terseret menuju kehampaan total.

Di lini lirik, “Eternal Dread” mengeksplorasi runtuhnya sistem kepercayaan dan mitologi melalui simbol kehancuran kosmik.

Langit yang membiru berubah menjadi abu, petir membelah kehampaan, dan para dewa hanya tersisa sebagai nama-nama yang terlupakan.

Baris seperti ‘Crushed beneath this world’s disease / Swallowed whole by blind beliefs’ menegaskan kritik terhadap dogma dan ideologi yang menelan manusia hidup-hidup.

Referensi terhadap Nirvana, Valhalla dan figur-figur Ilahi tidak dimaknai sebagai tujuan spiritual, melainkan sebagai sisa-sisa mitologi yang gagal memberi keselamatan.

Dalam semesta “Eternal Dread”, tidak ada Tuhan yang hadir sebagai penebus. Hanya dunia yang membusuk dan ketakutan yang terus berulang tanpa akhir.

Pun, visual artwork lagu tersebut memperkuat narasi tadi: reruntuhan bangunan menyerupai katedral atau kuil, dikelilingi struktur gelap menyerupai duri atau cakar, dengan satu sosok manusia kecil di hadapan cahaya yang ambigu.

Cahaya tersebut bukan simbol keselamatan, melainkan ilusi terakhir dari iman yang telah mati—sejalan dengan tema anti-dogma dan nihilisme kosmik yang diusung Panic Disorder.

panic disorder

Rekam Ulang

Terjegal kesibukan masing-masing personel – bassis Budy Gede Arya, dramer Qory Ariyanto, vokalis Nizar Bagas Rumekso serta gitaris Dion Eka Putra dan Muhammad Rizky – membuat perampungan “Eternal Dread” menjadi lumayan lama.

Walau sebenarnya, sudah selesai sejak lama. Namun belakangan, mereka melakukan perubahan di bagian lirik sehingga harus direkam ulang, yang dieksekusi di Venom Studio, Jakarta.

Sebagai penganut death metal, Panic Disorder sekali lagi menegaskan bahwa konsep racikan yang diterapkan di “Eternal Dread”, mereka yakini menghasilkan ciri dan karakter yang berbeda dibanding band-band sejenis.

“(Karena) kebetulan semua personel memiliki selera yang beda-beda, sehingga kami satukan semua referensi tersebut dan menjadikan warna musik yang beda dan modern,” urai pihak band kepada MUSIKERAS meyakinkan.

Perjalanan dan pengalaman panjang yang telah dilalui, sejak terbentuk pada 1994 silam, membuat Panic Disorder merasa tak menemui hambatan yang berarti dalam proses rekamannya.

“Untuk masalah teknis, sejauh ini belum ada yang terlalu mempersulit proses rekaman. Semua bisa di-handle oleh masing-masing personel.”

“Eternal Dread” sendiri menjadi langkah penting bagi Panic Disorder bersama AMPS Records, sekaligus penanda arah musikal dan konseptual band ke wilayah death metal yang lebih gelap, teknis dan ideologis.

Sebagai kelanjutan dari perilisan ini, Panic Disorder sedang menyiapkan sebuah album mini (EP) terbaru yang direncanakan rilis pada Mei 2026 mendatang. Sejauh ini proses rekamannya sudah mencapai 80% dari keseluruhan produksi.

Selain itu, mereka juga membeberkan rencana tur ke Kalimantan pada medio 2026. Rencana perjalanan tersebut dirancang untuk menjangkau skena death metal dan musik ekstrem di luar Pulau Jawa.

Juga untuk memperkuat kehadiran band di wilayah-wilayah dengan basis pendengar musik ekstrem yang terus berkembang.

Dengarkan “Eternal Dread” di berbagai gerai penyedia layanan musik digital mulai 1 Maret 2026 mendatang. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
itami
Read More

ITAMI: Metal Modern yang Lebih Luas

Lewat sepasang rilisan tunggal bertajuk “Oblivion” dan “Remembrance”, ITAMI memadukan keganasan metalcore dengan agresi presisi dari pengaruh djent.
repture
Read More

REPTURE: Epos Metal yang Brutal dan Kolosal

Terinspirasi konflik historis dan narasi panjang, Repture lepas karya baru, sambil pertahankan fondasi metal ekstrem yang brutal dan tanpa kompromi.