MATRA: Eksplorasi Metalcore yang Personal

Sebuah lagu rilisan tunggal bertajuk “Breathing Through The Break” menjadi karya debut MATRA, sebuah proyek musikal dari mantan gitaris Sister Murder.
matra
MATRA (Levita Damaika Anggriani) Feat. Siska Ade Zenobia dan Dewi Nawang Wulan

MATRA adalah sebuah proyek musik yang digagas oleh Levita Damaika Anggriani (Levi), mantan gitaris unit metal asal Malang (Jawa Timur), Sister Murder. Di sini, ia ingin merangkum eksplorasi musiknya secara lebih bebas.

Secara filosofis, kata ‘matra’ sendiri bisa diartikan sebagai ruang berbagai dimensi hidup bertemu. Namun juga bisa dimaknai sebagai ‘ruang peralihan’, titik dimana manusia berada di antara runtuh dan bangkit.

Pada 14 Februari 2026 lalu, MATRA pun menegaskan kehadirannya di skena musik keras Tanah Air lewat karya rekaman debut bertajuk “Breathing Through The Break”.

Sebuah lagu rilisan tunggal yang lahir dari pergulatan emosi yang dalam tentang kemarahan, keputusasaan dan perjalanan batin menuju pemahaman diri. Lagu ini berangkat dari titik paling rapuh dalam kehidupan manusia, ketika amarah dan rasa hampa terasa begitu nyata.

“Breathing Through The Break” menangkap momen ketika seseorang berada di ambang kehancuran, saat segala yang diyakini mulai retak, dan dunia terasa kehilangan arah.

Namun di balik kegelapan dan rasa keputus asaan, justru dari celah-celah retakan tersebut MATRA menggambarkan proses bernapas kembali. Sebuah simbol dari keberanian untuk bertahan, menerima luka dan perlahan menemukan makna baru dalam hidup.

Eksplorasi Intuitif

Proses kreatif penggarapan “Breathing Through The Break”, menurut tuturan Levi kepada MUSIKERAS, sebenarnya berangkat dari hal yang cukup sederhana.

Mengisi jeda yang ia rasa cukup panjang setelah memutuskan berhenti dari Sister Murder, lantaran lelah dan sedang mencoba memahami arah dan diri sendiri.

“Ide ini kemudian diterjemahkan ke dalam eksplorasi suara dan emosi yang cukup personal, sehingga prosesnya tidak terburu-buru dan cenderung intuitif.”

Dalam pengembangannya, materi lagu tersebut melalui beberapa tahap. Mulai dari pencarian mood, penulisan hingga eksplorasi aransemen yang terus berubah mengikuti rasa yang ingin disampaikan.

Pengerjaannya berlangsung selama kurang lebih tiga bulan, mulai dari proses rekaman hingga mixing dan mastering. Levi merekamnya di Virtuoso Music Studio, dan dibantu oleh Laga Underflagpole sebagai operator.

Dialog Musikal

MATRA kini berkembang menjadi laboratorium bunyi yang mempertemukan berbagai karakter vokalis dari kotanya, dalam satu spektrum musikal yang cair dan dinamis.

Dalam mengeksekusi “Breathing Through The Break”, ia juga melibatkan dua vokalis, yakni Siska Ade Zenobia (Sister Murder) dan Dewi Nawang Wulan (Ravage dan Hallam Foe).

Di sini, Levi tidak sekadar berkolaborasi, tapi ia merancang pengalaman. Setiap vokalis yang terlibat tidak ditempatkan sebagai pengisi suara semata, melainkan sebagai identitas utama dalam setiap karya.

Karakter, warna, emosi, dan latar musikal mereka dijadikan fondasi untuk menciptakan komposisi yang membawa mereka keluar dari zona nyaman, memainkan musik di luar genre yang biasa mereka bawakan.

Levi menegaskan, MATRA bukan tentang siapa yang paling dominan, melainkan tentang dialog. Tentang bagaimana perbedaan latar musikal bisa bertemu tanpa kehilangan identitas.

Tentang bagaimana suara-suara yang terbiasa berjalan sendiri, kini berdiri berdampingan dalam satu komposisi yang utuh.

matra

Mengapa harus mengajak beberapa kolaborator?

Levi menegaskan, ia sadar bahwa tentunya ada hal-hal yang tidak bisa ia capai sendirian. Kapasitas dirinya adalah seorang gitaris yang hanya bisa membuat konsep lagunya.

“Namun untuk vokal, isian dram jelas sekali, potensi teman-teman di Malang tak dapat diragukan. Karena mereka juga akhirnya membawa warna, sudut pandang dan energi yang berbeda.”

Dari situ, lanjut Levi lagi, aransemen musiknya jadi lebih kaya dan tidak terasa satu arah. Selain itu, proses kolaborasi itu juga sekaligus menjadi ruang untuk saling bertukar rasa dan interpretasi terhadap lagunya.

“Jadi bukan hanya membantu secara teknis, tapi juga memperdalam makna dari ‘Breathing Through The Break’ itu sendiri.”

Untuk MATRA, Levi mendeskripsikan konsep musik yang ia terapkan di “Breathing Through The Break” masih berakar dari apa yang ia dengarkan sejak awal, yakni classic metalcore.

Tapi kali ini, ia tidak ingin hanya mengulang formula yang sudah ada. Ia mencoba membuatnya terasa lebih ruang, lebih emosional dan memberi napas di beberapa bagian agar yang mendengarkan benar-benar bisa ikut masuk ke suasana yang ingin dibangun.

“Dengan riff manis, beat hardcore dan part solo yang tenang dengan sedikit poems ala clasic metalcore 2007-an yang sudah jarang sekali teman-teman menggunakannya. Aku rasa masih sangat nyaman di telinga untuk didengarkan.”

Untuk peracikan komposisi serta aransemennya, sedikit banyak Levi menyerap inspirasi dari musik-musik yang ia dengarkan sejak lama. Khususnya dari era metalcore tahun 2000-an.

Levi menyebut beberapa di antaranya adalah As I Lay Dying, Dying Wish dan Walls Of Jericho. “Atau mungkin Underoath di fase awal mereka,” ujar Levi menambahkan.

Feminin Emosional

Sebelum mengibarkan MATRA, Levita Damaika telah dikenal sebagai seorang musisi, kreator dan penggerak di ranah kreatif independen yang berasal dari Malang, Jawa Timur.

Dalam perjalanan karir musik yang ia rangkai sejak 2007 silam, Levi telah menjadi bagian aktif dari denyut skena musik ‘bawah tanah’ di daerahnya.

Perjalanannya dimulai bersama band screamo pertamanya, Childist Syndrome, lalu beralih ke peraung death metal Sanctuary Sins dalam eksplorasi belajarnya dalam bermusik.

Fase inilah yang menjadi fondasi awal pembentukan karakter musikalnya yang keras, jujur dan penuh determinasi.

Eksplorasinya berlanjut bersama unit hardcore metal Last Breath of Jasmine yang memperlihatkan sisi yang lebih feminin dan emosional. Ia juga dikenal sebagai bassis di unit hardcore punk Throw It All yang telah melahirkan karya album mini (EP) berjudul “Through The Way” (19 Juni 2022).

Terakhir, Levi tercatat sebagai gitaris di unit metal yang seluruh personelnya wanita, Sister Murder sepanjang periode 2023 – 2025. Di band ini, ia sempat terlibat di penggarapan album “Ressurecting The Wounded Psyche” (8 Maret 2025).

Setelah perilisan “Breathing Through The Break”, Levi berencana merilis beberapa lagu lagi untuk proyek MATRA, dan berharap bisa menghasilkan EP dan merilisnya awal tahun depan.

Saksikan video lirik “Breathing Through The Break” di tautan kanal YouTube ini. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
undimension
Read More

UNDIMENSION: Kini Death Metal yang Sinematik

“Dogma Karsa Petaka”, rilisan tunggal terkini Undimension menjadi penanda penting menuju peluncuran album penuh perdana mereka, “Imperium Manifestopia”.
scylla
Read More

SCYLLA: Antara Polyrhythm Djent dan Metalcore

Panaskan jalan menuju perilisan albumnya, Scylla perdengarkan rilisan tunggal terbarunya yang lebih modern, namun tetap punya identitas mereka yang kuat.
profan
Read More

PROFAN: Buang Sial di Oplosan Metal

Merasa nama lama bandnya membawa sial, Profan pun dicetuskan untuk sebuah semangat baru, memutus kebuntuan selama hampir satu dekade.