Profan yang baru dibentuk tahun ini merupakan pondasi ulang dari puing-puing Kepal, band yang mati suri sejak 2017 silam.
Kepal sempat melepas lagu tunggal berjudul “Si Preman” yang termuat di album kompilasi “Primal Decay”, rilisan Grimloc Records, Bandung pada 7 Februari 2020 silam.
Lalu personelnya, vokalis Noerba Alamsyah, bassis Java Anggara dan gitaris Bani Hakiki kembali diperkuat dramer Varian Setya, yang akhirnya mengarahkan mereka ke keputusan untuk mengeset ulang setelan pabrik Kepal ke formasi awal.
“Kami merasa nama ‘Kepal’ membawa sial. Perlu waktu bertahun-tahun untuk melanjutkan proyek ini, akhirnya baru bisa jalan lagi sekarang,” ujar Java mengungkap pemicu reinkarnasi tersebut.
Merangsek dari nisan hancur kuburan thrash, Profan pun melepas karya lagu rilisan tunggal debutnya, berjudul “Sangkar” pada 26 Maret 2026 lalu.
Tak ada yang dijanjikan perihal rilisan ini, hanya sebuah manifesto tancap panji untuk etape baru. Pula, akumulasi kekesalan para kolaborator yang terpaksa menunggu hampir satu dekade.
Dalam departemen lirik “Sangkar” digarap oleh Java, yang lantas dipoles dengan bengis oleh Nurba.
Ide dasar lagu “Sangkar” ditulis setengah jadi oleh Java pada awal 2020, termasuk sebagian riff-nya. Dalam penulisan liriknya, Java dibantu Noerba yang lantas memolesnya dengan bengis.
Mereka berbicara tentang individu-individu yang dikriminalisasi, utamanya para tapol aksi Agustus silam dan masih diburu sampai detik ini, serta individu kena jerat busuknya pasal-pasal penyalahgunaan narkotika.
Singkatnya, praktik kotor bisnis dalam sebuah institusi, khususnya perkara komersialisasi Lapas sejak zaman purba hingga hari ini.
“Kami tak butuh ‘war on drugs’, mungkin kawan-kawan yang lain pun sama. Yang dibutuhkan dari orang-orang yang haknya dirampas hingga diperas ini adalah ‘harm reduction’. Dalam realisasinya, penjara adalah bisnis dan ini berlaku untuk semua kasus kriminalisasi,” seru Noerba diplomatis.
Proses peracikan “Sangkar” selanjutnya digarap ulang melalui respon instrumen lainnya dan direkam pada 2025 lalu di Red Studio, Bandung.
Penggarapan rekamannya dikerjakan bersama produser pendamping sekaligus pengolah teknis, Hadiyan Fazari yang biasa menukangi pengolahan suara The Panturas, Alkateri, Tiga Pagi serta beberapa nama lainnya.
Sementara untuk pemolesan mixing dan mastering dipercayakan kepada Ade ‘Tonefreak’ Syaepudin.
“Kalau dibilang stok lama sih enggak juga, karena secara musikal cukup drastis berubah dari blue print awal, terutama setelah kembali bergabungnya Varian,” ucap Noerba kepada MUSIKERAS.

Loncat-loncat
Dalam mengeksekusi “Sangkar”, Profan menggeber ‘not so thrash riffs’ dengan mengoplos segala bentuk era kejayaan heavy metal pada konteks ekstrem; death metal, grindcore dan sludge metal.
Para personelnya, buka kartu soal referensi yang lumayan meresapkan pengaruh di peracikan komposisi serta aransemen “Sangkar”.
Java membeberkan, ia saat itu banyak menyimak album “Emperor of Sand” (Mastodon) serta “Reign In Blood” (Slayer). Lalu Bani sedang tersihir album “Electric Messiah” (High On Fire) serta “Time Waits for No Slave” (Napalm Death).
Sementara Varian, menyebut band Rage Against the Machine dan Power Trip sebagai sumber inspirasi permainannya.
Dengan mengoplos berbagai elemen dari musik keras, Profan merasakan tantangan tersendiri dalam pengeksekusiannya. Satu hal yang paling menonjol adalah, kini mereka menyadari bahwa ada perbedaan antara apa yang mereka mau dan apa yang karya itu butuhkan.
“Kadang perubahan-perubah musikal justru karena karya itu sendiri, bukan apa yang kami inginkan sebelumnya,” cetus Varian.
“Riff-riff yang bervariasi dan cenderung loncat-loncat kadang sulit dimainkan dalam sebuah lagu padat tanpa basa-basi yang bertempo cenderung ngebut,” seru Java menambahkan.
Sambil mempromosikan “Sangkar”, Profan kini telah menyiapkan beberapa lagu susulan sebagai rilisan selanjutnya. Menurut Noerba, ada kemungkinan lagu-lagu tersebut bakal dikompilasikan dalam sebuah rilisan fisik sebagai bentuk perkenalan Profan.
“Nantinya kami proyeksikan menjadi jembatan menuju (perilisan) album penuh pertama kami, semoga bisa pada tahun yang sama.”
Lagu “Sangkar” telah disemburkan ke berbagai gerai digital secara mandiri, termasuk di kanal Bandcamp dan YouTube. (mdy/MK01)