COCKPIT Menolak Punah, Dilanjutkan COCKPIT+

Band rock cover version yang konsisten sejak terbentuk awal era ’80-an, Cockpit kini berinkarnasi lewat penerus biologisnya, Cockpit+.
cockpit
Formasi COCKPIT+

Cockpit belum usai.

Karier panjang band rock legendaris Tanah Air ini akhirnya diputuskan berlanjut, setelah degup jantungnya sempat dinyatakan berhenti secara klinis. Khususnya setelah pendiri serta para personel orisinalnya satu per satu berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa.

Sejak awal terbentuk pada 1983 silam, Cockpit dipahami langsung memilih spesialisasi membawakan lagu-lagu karya band rock progresif legendaris asal Inggris, Genesis di panggung.

Nyaris tidak menyentuh dapur rekaman. Tercatat hanya sempat merilis lagu tunggal bertajuk “Diana” yang termuat di album kompilasi “10 Top Rank Super Group” rilisan Logiss Records pada 1991 silam.

Rekaman lagu ini dieksekusi formasi vokalis Frederick ‘Freddy’ Tamaela, gitaris Aumar Naudin ‘Odink’ Nasution, dramer Yahya Karya Konsepsianto alias Yaya Moektio serta bassis Gusti Firizal Ridwansyah ‘Raidy’ Noor yang sekaligus memainkan kibord.

Dengan entitas ‘Genesis Tribute’ itulah, plus kemampuan musikalitas yang bukan ‘kaleng-kaleng’, band ini mampu bertahan hingga hari ini, dengan penggemar setia yang tersebar di seluruh pelosok Tanah Air.

The Journey Continues…

Untuk menegaskan eksistensi lanjutan itu, sebuah pertunjukan khusus bakal digelar di Glitz Inclusive Lounge, Kuningan City Mall, Jakarta, pada 1 Mei 2026 mendatang.

Dalam sebuah konser bertajuk “The Journey Continues Cockpit+ Band” yang digagas oleh promotor Busan Production tersebut, generasi baru Cockpit+ (baca: Cockpit Plus) akan membawakan lagu-lagu fenomenal Genesis serta katalog solo terbaik dari Phil Collins, dramer dan vokalis Genesis.

Penggagas kisah lanjutan ini, digiatkan oleh dua musisi penerus biologis band ini. Mereka tak ingin nama sang legenda menghilang dari radar.

Adalah dramer Rama Yaya Seputra Moekti (putra Yaya Moektio) serta gitaris Nada Noor (putra Raidy Noor) yang memutuskan meneruskan tongkat estafet Cockpit. Keduanya lantas didukung beberapa musisi yang selama ini, bisa dibilang telah menjadi bagian dari keluarga band tersebut.

Barisan formasinya diperkuat kibordis Krisna Prameswara, yang sejak era 2000-an telah beberapa kali mengawal Cockpit menggantikan Zahrun Hafni ‘Roni’ Harahap, bergantian dengan Dave Lumenta yang kini memilih profesi sebagai antropolog.

Sementara di lini vokal, ada trio Jimmo Putra Petir dan Judy Kartadikarya, serta Denni ‘Chaplin’ Pratomoaji yang bakal berbagi tugas, sesuai kebutuhan pentas.

Sementara untuk pengisi posisi lowong yang ditinggalkan mendiang Raidy, disepakati memilih Henry, bassis yang selama ini merupakan session player untuk penampilan panggung KLa Project.

Satu hal yang terpenting, Rama dan Nada menyadari betul akan segala hal pencapaian dari kedua ayah mereka dalam membesarkan Cockpit. Terlalu besar untuk digantikan oleh mereka berdua, pun walau mereka adalah anak-anak kandungnya.

“Kami sebagai anak-anaknya sangat menghormati dan menyanjung dan begitu bangganya terhadap ayah kami. Kami berdua memang bukan untuk menggantikan, tentu sulit sekali. Tapi kami hadir untuk meneruskan energi positif bermusik dari kedua ayah kami,” ucap Rama, diiyakan Nada.

Lantas kemudian adalah seorang Budi Santosa, dengan bendera Busan Production-nya, yang memberi respek dan apresiasi tinggi terhadap Rama dan Nada. Sama seperti penghargaan, kekaguman dan segala hormatnya untuk kedua ayahnya mereka itu, Yaya dan Raidy.

“Saya sekian waktu juga telah bekerja sama dengan sangat baik dengan Cockpit,” ujar Budi. “Saya tentu saja bersedih dengan kepergian kedua sahabat baik itu, Yaya maupun Raidy. Tetapi kemudian saya juga berpikir, lalu Cockpit selesai?”

Pertanyaan itu terjawab oleh Rama dan Nada yang bersepakat untuk melanjutkan warisan Cockpit. Tentu saja Budi menyambut hangat, dan bahkan menyiapkan beberapa konsep pertunjukan.

Tak hanya di Jakarta, tapi juga ada rencana menggelarnya di luar kota, seperti Yogyakarta dan Solo. 

“Antusias penggemar Cockpit ternyata masih banyak. Makanya (band ini) ingin diterusin. Kami ingin menjalankannya tahun ini, dan menjalankannya dengan hati. Hanya, sekarang kami juga ingin memilih lagu-lagu (Genesis dan Phil Collins) yang lebih gampang diterima publik,” seru Rama, semangat.

Buka Botol

Geliat Cockpit dimulai dengan terbentuknya Batara Band. Band ini digerakkan vokalis kelahiran Belanda berdarah Maluku bernama Freddy Tamaela, bersama bassis Harry Judo Sriakto Minggoes, gitaris Odink Nasution, Debi Murti ‘Debby’ Nasution dan dramer Yaya Moektio.

Kibordis Roni Harahap lalu masuk menggantikan Debby, dan nama Batara pun diubah menjadi Cockpit. Tapi Odink menggambarkan bahwa sejatinya kibordis Cockpit terawal itu sempat disinggahi Harry Anggoman. Masuk sejenak, lalu digantikan Roni Harahap.

Dari beberapa literasi, tersebut pula musisi bernama Dadan Muchtar dan Joseph Martam yang sempat mengisi sejarah awal band ini.

Pada 1984, berdekatan dengan masuknya Roni, masuk juga Raidy Noor menggantikan Harry Minggoes. Dan saat muncul, langsung merampas perhatian khalayak ramai, para penggemar musik.

Konser mereka langsung ramai, memantik jumlah penggemar yang terus menanjak secara signifikan. Terutama di ibukota era awal itu. Sebutlah di Balai Sidang Senayan atau di Kartika Chandra Theatre, atau di Stadion Menteng. Selalu ramai.

Kiprah Cockpit terus berjalan, tak pernah berhenti. Pun ketika Freddy Tamaela wafat pada 1990 silam.

Setelah bertemu vokalis Ari Safriadi alias Arry Syaff, roda band kembali bergulir meneruskan perjalanannya. Dari bermain di outdoor, stadion atau hall lebih besar.

Kemudian juga merambah, bahkan seolah ‘menguasai’ berbagai event di café atau clubs. Mereka bisa dibilang, tak pernah kehilangan penontonnya. Itu semacam kesaktian Cockpit. Ajaib!

Mereka menjelma menjadi grup musik entertainer ataupun cover-band yang tersukses selama sekian waktu. ‘Langganan’ grup yang menyenangkan dan membahagiakan promotor atau pelaku event, sampai pada pihak café atau clubs.

Penjualan tiket selalu sold-out dan para penontonnya tak segan merogoh kocek lebih dalam untuk… buka botol! Everybody happy!

Tapi dalam perjalanan selanjutnya, mereka harus melalui kisah sedih. Satu demi satu pendukung mereka pergi, untuk tidak akan pernah kembali. Odink Nasution wafat karena sakit komplikasi pada 27 Februari 2020.

Lalu berikutnya Arry Syaff meninggal dunia pada 12 Desember 2020. Setelah itu, Roni Harahap setelah sekian lama terbaring sakit dan memang sudah lama juga absen mendukung Cockpit, meninggal dunia pada 13 Juni 2022.

Off The Record

Walau tidak pernah melahirkan karya lagu atau album rekaman orisinal, namun bukan berarti karena Cockpit merasa terlalu nyaman sebagai cover band.

Tapi justru karena para personelnya, terbilang sudah kenyang akan pengalaman rekaman di band-band mereka lainnya.

Freddy Tamaela misalnya. Namanya sempat menembus pasar komersil lewat lagu “Haruskah Aku Berlari”, yang termuat di album “Ratna Sari Dewi” rilisan label Union Artis/Ria Cipta Abadi pada 1984.

Olahan musik untuk album ini digarap oleh Jusuf Antono Djojo aka Ian Antono, gitaris God Bless.

Sementara personel lainnya, antara lain pernah tergabung di proyek rekaman Guruh Gypsy, Prambors Band, Staff, Gang Pegangsaan, God Bless hingga Gong 2000.

Tapi Cockpit, bisa dibilang satu-satunya band rock cover version yang konsisten sejak terbentuk pada awal era ’80-an, dan tetap dicintai penggemarnya hingga hari ini. (mdy/MK01)

Penampilan live Cockpit membawakan lagu-lagu milik Genesis dan Phil Collins bisa disaksikan di tautan kanal YouTube DSS Music ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts