OCEAN kembali ke medan perang skena dengan mesin baru. Kini unit metalcore asal Surabaya, Jawa Timur ini berkolaborasi dengan label independen Holocavst Dept untuk karya-karya rekaman terbaru.
Sekaligus, menyiapkan album terbaru sambil membawa warna musikal berbeda dari karya-karya sebelumnya.
Sebagai pemanasan, vokalis M Asyiqun Nahdli (Asyiqun), bassis Dwi Setiawan (Dwi), drumer Condro Adi Atmojo (Jho), gitaris Dwiki Alvian Rachman (Kiki) dan RM Muh Fertino (Tino) telah meluapkan karya maxi-single bertajuk “Trinitas Berkarat”.
Berisi dua trek berjudul “Trinitas” dan “Jerat Berkarat”, yang merupakan representasi langsung dari perubahan karakter musik OCEAN saat ini, dimana mereka melebur agresi grindcore, atmosfer gelap blackened hardcore dengan fondasi metalcore yang agresif.
Eksplorasi tersebut menjadi sebuah bentuk baru yang lebih liar, gelap, brutal dan eksperimental. OCEAN bertekad untuk terus mendobrak batas musikal mereka.
Mengembangkan identitas tanpa kompromi, serta menciptakan karya yang mampu menyampaikan keresahan dan energi kolektif kepada pendengarnya.
Bagi OCEAN, evolusi bukan sekadar perubahan suara, tetapi sebuah proses untuk menemukan bentuk baru dari kemarahan, kegelisahan dan keberanian-mengubah setiap luka dan konflik menjadi suara yang hidup.
Firman Palsu
Alur teknis proses penciptaan “Trinitas” dan “Jerat Berkarat” sendiri dimulai dari Fertino yang membuat aransmen penuh, yang lantas dilanjutkan oleh Dwi dan Jho dan disempurnakan oleh Dwiki untuk persiapan proses rekamannya.
Terakhir, Asyiqun menciptakan nada-nada vokal yang dilengkapi lirik-lirik dari Fertino.
“Ide dasar lagunya ini adalah berawal dari keresahan kami tentang doktrin salah satu kelompok ‘karismatik’ yang dipimpin oleh seseorang,” tutur OCEAN kepada MUSIKERAS menerangkan pemikiran di balik liriknya.
Asal doktrin yang memang sudah dirancang sejak Konsili Nikea, pertemuan para uskup sedunia yang diselenggarakan pada tahun 325 Masehi di kota Nikea (sekarang İznik), Turki.
Doktrin yang diciptakan untuk kepentingan kontrol sosial massa dan penyelewengan kitab perjanjian lama ke baru yang memang sudah dimanipulasi sejak awal.
“Dan para pimpinan (pastor) masa sekarang pada akhirnya meneruskan doktrin tersebut yang diamini oleh para pengikutnya. Adapun para umatnya selalu agresif dalam mempersuasi sosial di sekitarnya.”
Secara tematik, “Trinitas” mengangkat narasi konfrontatif terhadap kemunafikan, doktrin dan praktik keagamaan yang digambarkan melalui simbol ‘firman palsu’, ‘gembala’, dosa, pengampunan dan ‘surga yang berkarat’.
Sementara di “Jerat Berkarat”, OCEAN membawa tema tersebut semakin dalam melalui gambaran tentang sakramen yang dibungkus dusta, manipulasi spiritual, jeratan perpuluhan, dendam, kehancuran, dan manusia yang terperangkap dalam belenggu keyakinan.
Dengan bahasa yang keras, gelap dan penuh simbol religius, kedua lagu tersebut membentuk satu rangkaian narasi tentang konflik terhadap kuasa, kemunafikan dan keyakinan yang telah kehilangan maknanya.

Akar Converge
Dalam penyampaiannya, hibrida metalcore, blackened hardcore dan grindcore menjadi bahan bakar untuk memperkuat atmosfer gelap dan sisi emosional lagunya.
Lalu semuanya disemburkan dengan terapan tuning di frekuensi 432Hz untuk mendramatisir psikis audiens.
Tapi untuk menerapkan formula baru ini, OCEAN harus merancang aransemen yang mengurangi kebiasaan lama mereka di permainan ‘djent’ dan metalcore modern. Melainkan lebih ke akar metalcore yang mengarah ke band seperti Converge.
“Kami memasuki babak baru ketika mulai mempelajari grindcore dan blackened hardcore. (Kami) Mengurangi isian instrumen elektronik pada sequenser dan mengulik penggunaan tuning yang lebih low lagi.”
Dalam peracikannya, mereka mengarah kepada beberapa komposisi scoring film horor sebagai referensi. Di antaranya menyerap pengaruh dari film “The Nun”, “Conjuring”, “Insidious”, “Kuasa Gelap”, “Midsommar” dan “The Wicker Man”.
“Karena seolah-olah kami mengiringi adegan-adegan di film tersebut
dan genre metalcore ala Converge serta dua sub-genre seperti grindcore dan blackened hardcore.”
Keseluruhan proses penggarapan rilisan “Trinitas Berkarat” membutuhkan waktu selama kurang lebih lima bulan. Karena OCEAN mengerjakan dengan meraba karakter warna barunya.
Proses rekamannya dilakukan secara mandiri di Keire Audio, studio milik Dwiki serta perekaman vokal di Moondini Music Record.
Setelah perilisan “Trinitas Berkarat”, selanjutnya OCEAN bakal menyiapkan album mini (EP) baru yang ditargetkan memuat enam trek, dan bakal rilis tahun depan. (@mudya_mustamin/MK01)
