AVHATH: Album Debut, Titik Baru

Usai lewati perjalanan karier selama lebih dari satu dekade, dengan lampiasan 16 rilisan, akhirnya Avhath mempersembahkan album debut pertamanya.
avhath
AVHATH (Foto oleh Meidiana Tahir)

Avhath menyimpulkan lebih satu dekade perjalanan kariernya dengan melepas sebuah album penuh bertajuk self-titled.

Sebelumnya, kuintet hardcore/metal asal Jakarta Selatan ini telah memperdengarkan lagu rilisan tunggal berjudul “amassed” pada 10 September 2026 lalu untuk mencicipi representasi album perdana itu.

“Karena ‘amassed’ terasa cukup berbeda dan fresh dibandingkan rilisan atau single Avhath sebelumnya,” tutur pihak band kepada MUSIKERAS mengungkap alasan memulai langkah perkenalan albumnya dengan lagu tersebut.

“Lagu ini punya nuansa old-school death metal yang lebih kental, tetapi tetap kami olah dengan karakter Avhath sendiri,” lanjutnya.

Avhath yang masih diperkuat formasi vokalis Rezky Prathama Nugraha (ekrig), gitaris Reynir Fauzan dan Sukma Prana Yudha (Yudha), bassis Indra Darmawan Purba serta drumer Insan Fernaldi Lubis merasa menarik untuk membuka album lewat sesuatu yang mungkin sedikit di luar ekspektasi pendengar.

Lagu “amassed” menjadi semacam pernyataan bahwa di album ini mereka tidak ingin sekadar mengulang apa yang sudah pernah dilakukan sebelumnya.

“Spektrum musik Avhath sekarang menjadi lebih luas, dan lagu ini adalah salah satu representasi paling jelas dari perkembangan tersebut.”

Panggilan Kolektif

Lewat kesempatan ini, Avhath mencoba mengambil kendali lebih jauh atas proses kreatif mereka sendiri. Tanpa didampingi produser tamu.

Hampir seluruh proses penggarapan musik dikerjakan secara internal, dengan minimnya keterlibatan pihak eksternal.

Mereka banyak belajar hal baru yang sebelumnya awam buat mereka. Mulai dari proses rekaman, persiapan produksi hingga penyelesaian produksi final.

“Kali ini gue coba duduk di kursi produser dan mengepalai proyek ini,” ujar Reynir, gitaris sekaligus komposer utama di album ini.

Album ini menjadi ruang bagi Avhath untuk menengok kembali perjalanan mereka sejak awal terbentuk. Segala pengalaman, perubahan, dan proses yang telah dilewati selama bertahun-tahun terangkum di dalamnya.

Namun, Avhath bukan sekadar melihat kembali apa yang telah mereka lakukan. Album ini justru menjadi titik baru sebagai pencarian dan penajaman bentuk Avhath selanjutnya.

“Proses membuat album ini juga membuat kami jauh lebih memperhatikan keputusan-keputusan kecil dalam produksi.”

Terkadang, tantangan yang mereka hadapi bukan tentang memainkan bagian yang paling rumit, tetapi menentukan kapan sebuah bagian harus terdengar besar, kapan harus diberi ruang, atau justru kapan sesuatu sebaiknya tidak dimainkan sama sekali.

“Buat kami, proses itu sama pentingnya dengan kemampuan teknis ketika merekam sebuah lagu.”

Yang menarik, sejak terbentuk pada 2012 silam, baru kali ini Avhath melahirkan album penuh. Bahkan menjadi rilisan mereka yang ke-17, setelah sebelumnya memberondong dengan sejumlah lagu rilisan tunggal, album split serta beberapa album mini (EP).

“Sebenarnya tidak pernah ada rencana untuk Avhath ‘harus’ membuat album, prosesnya justru cukup organik,” cetus mereka mengklarifikasi.

Setelah beberapa rilisan sebelumnya, materi baru mulai terkumpul dan perlahan, mereka merasa seperti ada sesuatu yang lebih besar yang ingin disampaikan dalam satu kesatuan.

Pada akhirnya, membuat album penuh terasa lebih seperti sebuah panggilan kolektif daripada sesuatu yang direncanakan atau diwajibkan.

“Setelah lebih dari satu dekade berjalan bersama, rasanya ini waktu yang tepat untuk mendokumentasikan Avhath sebagaimana adanya hari ini, sekaligus membuka jalan menuju apa yang ingin kami lakukan berikutnya.”

avhath

Parasit Eksplisit

Berisikan sembilan trek, album “Avhath” diawali dengan “Genesis.”, sebuah komposisi instrumental yang menjadi pintu masuk menuju dunia yang dibangun sepanjang album.

Delapan lagu setelahnya bergerak melalui sudut pandang yang berbeda terhadap sebuah kehadiran parasitik, yang dimaknai secara luas, baik secara harfiah maupun metaforis.

Ekrig, sebagai penulis lirik di album ini, memilih untuk tidak menjelaskan keberadaan parasit tersebut secara eksplisit.

“Supaya orang-orang tidak terpaku hanya pada penjelasan gue saja. Gue pengin mereka bisa membayangkan sendiri dan punya persepsi serta perspektif personal ketika menyelami album ini,” ujarnya.

Sementara dari sudut pandang musikal, para personel Avhath selalu mempunyai dorongan untuk berkembang mengikuti bagaimana mereka sendiri berkembang sebagai individu.

“Jadi evolusinya tidak pernah benar-benar direncanakan berdasarkan formula tertentu. Selera musik dan referensi bisa bertambah, kemampuan teknis dan menulis lagu berkembang, dan sebagainya,” tutur mereka memperjelas.

Album debut ini sebenarnya masih membawa banyak elemen yang familiar dari rilisan-rilisan Avhath sebelumnya. Jadi pendengar lama kemungkinan masih akan mengenali karakter mereka.

Bedanya, menurut mereka, kali ini Avhath merasa lebih nyaman untuk memperluas spektrum tersebut. Ada bagian yang lebih agresif, atmosferik, melodik, bahkan lebih sederhana ketika lagunya memang membutuhkan itu.

“Kami tidak melihat album ini sebagai formula baru yang kemudian harus kami ikuti untuk 10 tahun berikutnya. Justru sebaliknya.”

“Album ini seperti kulminasi dari apa yang sudah kami alami bersama sampai titik ini, sekaligus memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai ke mana Avhath bisa bergerak selanjutnya.”

rekamkamar

Proses penggarapan album berlangsung di dua tempat, dijalani sejak Januari 2026.

Tahapan saling bertukar pikiran dan produksi awal dilakukan di kediaman Reynir. Sementara proses rekaman berlangsung di studio rekamkamar, dibantu Rama Harto dalam urusan teknis.

“Recurrence” mungkin menjadi salah satu trek yang paling menantang bagi Avhath saat menjalani proses rekaman album keseluruhan.

Bukan hanya dari sisi permainan, tetapi juga bagaimana semua instrumen seperti drum, bass dan gitar harus bekerja sebagai satu kesatuan.

Cukup banyak detail kecil dalam aransemen, dinamika, layering dan sound yang ketika berdiri sendiri mungkin terdengar sederhana.

“Tetapi semuanya harus berada di tempat yang tepat supaya lagunya bekerja seperti yang kami bayangkan.”

Pemolesan mixing dikerjakan kolektif oleh Rama Harto, Reynir dan Ekrig. Sementara proses mastering dipercayakan kepada dua pihak untuk format yang berbeda.

Untuk kebutuhan rilisan digital ditangani oleh Will Killingsworth di Dead Air, sedangkan format kaset pita, CD dan juga piringan hitam (vinyl) dieksekusi oleh Colin Marston di Menegroth, The Thousand Caves.

Lalu ada sampul album yang menggunakan potret berjudul “Let There Be Red” karya Yogi Kusuma, yang dibuat pada 2021. Dan foto rilis resmi Avhath di album ini digarap oleh Meidiana Tahir.

Temukan karya-karya Avhath di berbagai kanal digital seperti Apple Music, YouTube hingga Bandcamp. (@mudya_mustamin/MK01)

Susunan Lagu:

  1. Genesis.
  2. Manic Visions
  3. Cynic
  4. Constant Departure
  5. Recurrence
  6. Clawed Skins
  7. This Forlorn Being
  8. amassed
  9. Cinereal Gaze
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
theo nugraha
Read More

THEO NUGRAHA: Tembus Radar Legenda Dunia

Samarinda dalam frekuensi global! Melalui label asal Spanyol, Drama Recorder, Theo Nugraha lepas proyek album yang melibatkan Iggor Cavalera (eks Sepultura).
inheritors
Read More

INHERITORS: Luapkan Terapi Moshpit

Thrash metal yang dibubuhi energi hardcore dan punk disemburkan Inheritors lewat “Intoksikasi”, menandai era baru, sekaligus pemanasan menuju album.