Jejak Rekam Terakhir SUCKER HEAD Siap Dirilis

Penantian panjang selama 13 tahun bagi para penggemar unit thrash metal legendaris Sucker Head, sejak album terakhir band ini – “Hipertensi” (2004) diluncurkan – akhirnya segera berakhir. Salah satu warisan mendiang Krisna J. Sadrach bersama Sucker Head, yakni sebuah album baru bertajuk “Simphoni Kehidupan” (Armstretch Records) akan dirilis untuk pertama kalinya di ajang akbar festival metal internasional, Hammersonic 2017 pada 7 Mei mendatang di Ecopark, Ancol, Jakarta.

Karya rekaman baru tersebut memuat amunisi 10 lagu, dimana dua lagu di antaranya merupakan versi remix dari lagu lama, “Hak Asasi” dan “Mario (Budak Industri)”. Keseluruhan lagu dimainkan dan direkam oleh formasi terakhir, yakni Krisna J. Sadrach (vokal/bass), Nano Rooseno (gitar), Bakar Bufthaim (dram) dan Medy (gitar).

“Simphoni Kehidupan” yang menjadi judul album juga ditempatkan sebagai nomor pembuka, yang dianggap mewakili gambaran besar keseluruhan materi album. Lagu tersebut melebur elemen classic, groovy, melodic, tight, punchy song, sebuah percampuran antara thrash metal old school dengan sound modern. Dapat dikatakan inilah album terbaik karya Sucker Head yang matang dari segala sisi, baik dari segi teknik rekaman maupun komposisi lagu dan aransemen.

Sedikit mundur ke belakang, proses rekaman “Simphoni Kehidupan” dimulai pada 2012 silam, tepatnya di Studio Delta, yang hanya menghabiskan waktu sekitar satu hingga dua bulan lamanya. Dalam proses kreatif dan rekaman; semua dikerjakan secara spontanitas di sana.

“Wah, gue ingat banget, Nas,” ujar Medy kepada Anasthasia R.Y. Sadrach – istri Krisna yang kini menjadi pewaris dan penanggung jawab perilisan album baru Sucker Head – mengenang. “Waktu gue kasih basic intro lagu ‘Menunggumu’ ke Krisna, cuma gue kasih begitu dan seperti bimsalabim, Almarhum meramunya menjadi sebuah lagu heavy ballad yang enak tanpa meninggalkan kesan melankonis berlebih. Tetap sangar, tetap garang, tetap Sucker Head. Betapa beliau memiliki telinga ajaib. Sementara untuk isian gitar di lagu lainnya gue cuma main simpel.”

“Kenapa sounds album ini berasa lebar, heavy, dan lainnya? Karena saat take bass atau pun gitar, kami nggak main (efek suara) virtual, semua dari ampli,” imbuh Nano seraya menambahkan, “Bahasa sederhananya adalah, ‘Simphoni Kehidupan’, album kami, heavy namun tetap enak didengar semua telinga. Tak terbatas.”

Buat penggemar Sucker Head yang merindukan versi “The Head Sucker” (1995), bisa mendapatkan greget itu lagi di lagu berjudul “Orang Gila” yang ditempatkan pada trek ketiga album “Simphoni Kehidupan”. “(Di lagu) itu karakter vokalnya Krisna banget, powerful,” timpal Bakar yang juga membantu menuliskan lirik pada lagu tersebut. “Selebihnya ya Krisna J. Sadrach yang nulis, composing, dan mengaransemen seluruh lagu. Aku, kami ngikut saja.”

Termasuk ketika lagu “(Mario) Budak Industri” (1995) dan lagu “Hak Asasi” (2004) dibuat versi remix dengan sampling drum heavy beat dimasukkan ke dalam album ini. Di sini akan terdengar sekali kekuatan  tangan dingin seorang Krisna, yang memberi sentuhan akustik di album-album pop  garapannya dan memberikan ‘kekerasan’ untuk lagu-lagu Sucker Head.

Sedikit menengok ke belakang, warga dunia maya (terutama para musisi dari berbagai aliran musik) mendadak gempar pada 2 Agustus 2016 lalu. Berbagai ucapan bela sungkawa dan rasa kehilangan mereka tuliskan dalam status pikiran di media sosial. Beragam media dunia hiburan pun tak kalah ramai mengungkapkan duka cita mereka yang spontan segera menaikkan berita berpulangnya pentolan, motor penggerak band Sucker Head yang sekaligus tokoh pergerakan musik bawah tanah Tanah Air (pun produser bertangan dingin genre pop) – Krisna J. Sadrach yang menghembuskan napas terakhirnya pada hari itu.

Kini, wasiat tongkat estafet dari ‘Sang Legenda Metal’ berada di tangan sang istri, yang dengan sekuat tenaga setelah beberapa waktu larut dalam kesedihan, mencoba bangkit kembali. Terutama begitu melihat dan menerima derasnya aliran doa dan semua pesan motivasi diri dari mereka, dari para pecinta musik tanah air. Dan berawal dari semua itu, sebuah master rekaman album studio Sucker Head milik Almarhum yang sempat tak tersentuh selama lima tahun pun telah diwariskan.

“Semuanya kutinggalkan untuk kamu, kamu yang urus – aku sudah tidak peduli lagi, aku akan pergi. Aku percaya kamu bisa mengurus semuanya. You’re the only person that I trust,” pesan Almarhum kepada Anasthasia.

“Saya tak merasa sendiri dalam kerinduan yang meradang. Ini membuat saya bersama para personel Sucker Head yang tersisa bertekad bulat untuk mempersembahkan jejak rekam terakhir milik Krisna J. Sadrach bersama bandnya untuk mereka semua; para metalheads. Sebuah ‘Simphoni Kehidupan’ yang telah dilakoninya sepanjang hidupnya.”

Cikal bakal kelahiran Sucker Head (nama terinspirasi tulisan merk dagang kotak korek api batang cap koin yang bertuliskan “Sakerhets-Tandstickor”) dimulai pada 1989 silam, yang digerakkan oleh formasi Irfan Sembiring (gitar), Krisna J. Sadrach (bass), Yachya Wacked (vokal), Nano (gitar) dan Doddy (dram). Band thrash metal ini lahir dari pertemanan di sebuah komunitas penggemar musik metal di Pid Pub, sebuah pub kecil di kawasan Metro Pondok Indah yang lantas melahirkan beberapa band metal, termasuk Sucker Head. Sepanjang perjalanan karirnya, kerap terjadi perubahan di susunan formasi Sucker Head. Sejak akhir 1990, tercatat beberapa nama yang pernah menghuni Sucker Head. Selain Yachya, Irfan dan Doddy, dramer Alfredo dan mendiang Robin Hutagaol pernah mengawal band ini. Juga gitaris Untung dan Raden Mas Sri Seto Cokro. Irfan Sembiring sendiri lantas membentuk Rotor setelah hengkang dari Sucker Head. Sebelum dinyatakan bubar, Sucker Head telah merilis album “The Head Sucker” (1995), “Manic Depressive” (1996), “Paranatural” (1998), “10 th Agresi” (1999) dan “Hipertensi” (2004).

Susunan lagu “Simphoni Kehidupan”: 1) Simphoni Kehidupan – 2) Overdosis Cinta – 3) Orang Gila – 4) Pasang Musik Keras – 5) Tak Terkendali – 6) Menunggumu – 7) Sakit Hati – 8) Sang Pendusta – 9) Hak Asasi (remix) – 10. Mario (Budak Industri) (remix)

Kredit foto: Koleksi pribadi Sucker Head

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
romo
Read More

ROMO: Sosok Berblangkon dalam Ranah Metal

Lagu kedua dari solois metal berblangkon, ROMO telah diluncurkan ke berbagai gerai digital, dengan konsep musik yang lebih galak, jujur dan gelap.
heri batara
Read More

HERI BATARA: Dari Edane ke Architects?

Heri Batara turun gunung luncurkan lagu rilisan tunggal terbaru bertajuk “We Are Not Fall In” yang berkontur rock modern, sebagai pembuktian eksistensi.
catalise
Read More

CATALISE: Metalcore ‘Ramah’ yang Menyihir

Terinspirasi beberapa band metal masa kini, Catalise jajal tantangan seru, meracik komposisi lagu metalcore baru yang ‘bersahabat’ di kuping banyak orang.