Regu Pemburu luncurkan “Labirin Pikiran” setelah sebelumnya menembakkan peluru panas perdananya lewat lagu rilisan tunggal bertajuk “Protest” pada 23 Januari 2026 lalu.
Tapi kali ini, unit ‘rock militer’ asal Jakarta ini bukan untuk melawan dunia luar, tapi sesuatu yang jauh lebih dekat dan lebih berbahaya: isi kepala sendiri.
Tidak ada bentuk yang pasti di dalam kepala. Itu yang coba diterjemahkan lewat visual animasi liar, cair dan tidak tunduk pada logika.
Bukan sekadar ilustrasi, tapi representasi dari ruang yang terus berubah, retak, dan berputar tanpa henti. Sebuah dunia yang terasa nyata, tapi tidak bisa disentuh.
Terinspirasi dari pengalaman personal sang vokalis/gitaris Dionisius Raditya Prabowo aka Dion Radke menghadapi insomnia.
“Labirin Pikiran” adalah tentang malam yang tidak pernah benar-benar selesai. Tubuh berhenti, tapi pikiran menolak diam. Pertanyaan datang tanpa diundang. Keraguan berulang tanpa jeda.
Liriknya bergerak seperti lingkaran yang repetitif, reflektif, dan menyesakkan. Setiap upaya untuk keluar justru membuka lorong baru yang lebih dalam. Tidak ada pintu keluar yang jelas. Tidak ada titik akhir.
Jika “Protest” adalah ledakan, maka “Labirin Pikiran” adalah tekanan yang perlahan membunuh dari dalam.
Regu Pemburu mengungkapkan kepada MUSIKERAS, bahwa lagu terbaru mereka ini memang diawali dari keresahan Dion tentang gangguan insomnia yang dialaminya.
Namun ketika dibawa ke studio dan membedah liriknya, gitaris Zhen Rezky Suhendi rupanya melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
Ia melihat lagu tersebut sebagai PTSD (Post Traumatic Syndrome Disorder), dimana banyak dialami oleh veteran-veteran perang sepulang dari medan tempur.
“Prosesnya ditulis oleh Dion dalam semalam aja, terus di weekend-nya dibawa ke studio dan langsung jadi,” cetus band ini meyakinkan.

Mala Bahaya
Kendati demikian, proses produksi “Labirin Pikiran” tidak berjalan mulus. Rekaman dilakukan di tiga tempat, antara Sonic Garage, Sonic Bloom dan Studio Satu. Mengikuti ritme yang tidak stabil.
Teknis perekaman dibantu oleh Reney Karamoy (Scaller) dan Ollie Lazuardi, sementara untuk pemolesan mixing dan mastering dipercayakan kepada I Gusti ‘Viki’ Vikranta (Kelompok Penerbang Roket / PLP Studio) yang menjaga agar karakter suara tetap mentah, namun tajam dan terarah.
Tapi jika dibandingkan dengan “Protest”, lagu terbaru dari band yang juga diperkuat oleh bassis Rizki Devandi Ekaputra serta dramer Sebryan Yosvien Sjaawalz ini, peracikan konsep musiknya sedikit berbeda.
“Dari segi musikalitas mungkin terdengar lebih ‘rock Indonesia’ kali ya? Dengan instrumen yang repetitif juga menguatkan si ‘Labirin Pikiran’ yang kami percaya bahwa nggak semua jalan tuh ada ujungnya,” seru mereka, menjelaskan.
“Beda banget dari single pertama yang menggebu-gebu dan terdengar agresif. Di ‘Labirin Pikiran’ emang mau dibikin terdengar lebih santai tapi bikin tersesat.”
Dalam peracikannya, band bentukan 2025 lalu ini juga memastikan bahwa tidak ada spesifikasi referensi tertentu yang dijadikan acuan secara musikalitas.
Akan tetapi, saat penulisannya, Dion lagi banyak mendengarkan lagu-lagu dari band rock Indonesia. Dari beberapa album kompilasi. Salah satunya dari album “Those Shocking Shaking Days: Indonesian Hard, Psychedelic, Progressive Rock and Funk: 1970-1978” rilisan 2010 silam, dari label rekaman independen asal AS, Now-Again Records.
Sebuah album yang memuat lagu-lagu rock Indonesia masa lampau, dari band-band seperti Panbers, Rollies, Shark Move, AKA, Super Kid, The Gang of Harry Roesli, Freedom of Rhapsodia hingga Duo Kribo.
Namun dibanding band-band bising berkonsep ‘distorsi kotor’ lainnya, satu hal yang menjadi pembeda di terapan konsep keseluruhan adalah visual dan tema.
“Kayaknya cuman Regu Pemburu deh sekarang yang menggabungkan musik rock dengan tema ‘millitary’, mulai dari nama, logo, fashion dan juga lirik.”
Setelah “Labirin Pikiran”, Regu Pemburu sudah menyiapkan karya selanjutnya yang berjudul “Mala Bahaya”. Lalu pada Juli mendatang, akan disusul perilisan album yang bakal disesaki 10 amunisi lagu.
Sejauh ini, keseluruhan proses rekaman sudah selesai digarap sejak November tahun lalu. Begitu juga dengan tahapan mixing dan mastering.
“Ya, layaknya perang,” ucap Dion setengah bercanda, “sebelum terjun ke medan tempur peluru serta amunisi harus sudah tersedia bukan?”
Dengarkan “Labirin Pikiran” yang diedarkan via Pelatar Records sejak 17 April 2026 lalu di berbagai gerai penyedia layanan musik digital. Untuk video musiknya bisa disaksikan di tautan kanal YouTube ini. (mudya/MK01)