Heri Batara – atau kerap disapa Ucok – kembali perdengarkan karya baru. Lebih dari lima tahun sejak meluncurkan “Jungle Beat”, versi daur ulang dari lagu Edane, band rock yang pernah ia perkuat pada periode 1993–2002 silam.
Lagu itu awalnya termuat di album “Jabrik” rilisan Juni 1994, kemudian dinyanyikan ulang oleh Heri Batara dengan aransemen baru yang lebih modern, dan diedarkan di ranah digital pada 11 September 2020 (selengkapnya baca di sini).
Kini, Heri Batara hadir mempersembahkan karya terbarunya, “We Are Not Fall In” yang diproduksi di bawah bendera Rock On Music, bekerja sama dengan Cadaazz Pustaka Musik.
Tetap dengan kontur musik yang memekakkan telinga, yang diluncurkan sekaligus sebagai pembuktian diri bahwa Heri Batara masih eksis dan masih punya nafas panjang di industri musik rock nasional.
“Ya gue memang lama nggak muncul alias istirahat dari proses kreatif sebagai penyanyi dan penulis lagu,” ucapnya mengakui.
Namun setelah mendapatkan banyak masukan dari beberapa rekan dan sahabatnya, yang mendorong Heri Batara untuk kembali berkarya, ia pun memutuskan untuk kembali merilis karya lagu.
“Selain itu, gue juga punya pertimbangan kalau gue itu berasa masih bisa,” cetusnya lagi, meyakinkan.
Lagu rilisan tunggal “We Are Not Fall In” sendiri bisa diinteprestasikan bahwa kita harus bisa ‘move on’ dari hal yang tidak bagus sebelumnya.
Sebuah lagu yang bercerita tentenag banyaknya ‘omon-omon’ di multi sektor yang bikin kita bertanya, ‘Bener gak sih yang diomongin atau dijanjikan? Bakalan kejeblos lagi nggak kita? Salah pilih jalan yang itu lagi gak?’
“We Are Not Fall In” tidak saja mempertahankan citra Heri Batara sebagai penyanyi berpaham rock yang punya warna sendiri di industri musik Indonesia.
Melainkan, juga memperlihatkan sosok Heri yang tetap garang, liar dan maskulin, seperti saat dia memperkuat formasi Edane di album “Jabrik” dan “Borneo” (Juli 1996).
“Kalo soal genre, gue agak nggak peduli karena memang gue nggak tahu banyak nama setelah hard rock, heavy metal dan thrash metal.”
“Intinya bikin aja, mainin yang kita bisa dan ngerti, bukan cuma ikut-ikutan, sambil lihat juga situasi dan kondisi musik sekarang,” urainya.
Lintas Generasi
Saat peracikan komposisi serta aransemen musik di “We Are Not Fall In”, Heri Batara tidak bekerja sendiri. Ia didampingi tim kreatif, berbakat dan penuh semangat dalam menggarap karya-karya terbarunya.
Di bagian aransemen ada Kevin Mevlana (Mev) yang dipercaya punya kapasitas itu mengerjakannya. Heri hanya memantau dan memberikan masukan arah musiknya.
Dari situ lantas dikombinasikan dengan seluruh ide yang muncul, termasuk ide dari dramer Kemalfasya serta gitaris William Agathan. Proses yang lumayan lama karena harus menyelaraskan visi lintas generasi. Tepatnya mempertamukan Gen X dan Gen Z.
“Intinya semuanya adalah kerja tim. Kami ngerjainnya bareng-bareng, dalam arti kalo ada ide dia (Mev) kasih denger ke gue bagannya,” tutur Heri kepada MUSIKERAS.

“Dari situ kita saling kasih masukan ide atau malah bisa juga di-skip dulu, ganti, bikin lagi kalo dirasa belum atau kurang. Dari situ baru dengerin ke anggota yang lain biar tambah input.”
Sementara untuk referensi musik yang dijadikan acuan, Heri Batara mengaku lumayan mendengarkan musik-musik baru yang direkomendasikan Mev, yang memang sangat mengikuti musik jaman sekarang. Bahkan sampai ke musik-musik video game.
“Selain yang lama-lama, gue juga monitor atau denger musik-musik yang agak ke sini. Kalo harus nyebut nama, mungkin (band seperti) Architects atau Ghost, disamping beberapa yang lain juga.”
“Gue suka lagu (baru) ini dari sisi musik, berasa seru bawain yang agak berbeda. Di sini gue bukan berubah tapi berkembang.”
Dari awal, Heri mengakui memang sudah merasa tidak mungkin jika kembali bernyanyi atau membuat musik dengan patokan pola yang masih seperti dulu.
“Udah nggak tau lagi eksplor musiknya gimana kalo plek seperti dulu, disamping sikonnya udah nggak sama. Gue nggak kagok tapi lebih ke belajar, saling kasih masukan harus gmn enaknya.”
Sebagai mantan personel sekaligus manajer Edane, Heri Batara mengaku tidak terlalu terbebani dengan masa lalunya di band tersebut. Ia justru mengaku terpacu untuk melahirkan karya-karya terbaiknya di proyek solonya ini.
Secara sederhana, ia menyebut pengalaman masa lalu menjadi masukan agar bisa lebih bagus dalam bekerja sehingga dapat mengeluarkan hasil karya yang bagus juga.
“Prinsipnya dulu pernah terlibat dengan band bagus, sekarang bikin sendiri harus bagus juga atau kalau bisa harus lebih bagus. Bukan sebaliknya,” ujarnya diplomatis.
“We Are Not Fall In” sendiri direkam di Funhouse Project Studio dengan polesan mixing dan mastering oleh Tatang ‘Oteng’ Sumantri (Forgotten).
Fransiscus Eko dari Cadaazz Pustaka Musik selaku label partner menjamin bahwa proyek Heri Batara ini bakal mengobati kerinduan para pecinta musik rock metal Tanah air terhadap sosok Heri Batara.
“Fans Edane, fans musik rock dan metal Indonesia itu sangat kangen dengan sosok Heri Batara, semoga lewat single ini kerinduan mereka bisa terobati dan semoga mereka bisa hadir men-support Heri saat on the stage nanti,” ujarnya.
Sejak 24 April 2026 lalu, “We Are Not Fall In” sudah tersedia di berbagai gerai digital. (mudya/MK01)