ROMO (atau ditulis RØMO) kembali merapalkan ‘mantra’ puitis yang tajam dan simbolik di lagu rilisan tunggal terbarunya yang bertajuk “Ambisi”. Sebuah lagu berbalut alternative metal yang sedikit berbeda dibanding “Adiksi”, rilisan sebelumnya, pada 2 Januari 2026 lalu.
Dari segi musikal, entitas berblangkon ini mendeskripsikan konsep musik serta terapan riff yang membalut “Ambisi” berkontur lebih galak dan emosional, plus imbuhan vokal scream yang mencekam.
“Lirik-lirik ‘Ambisi’ lebih gelap namun jujur dan lebih banyak memberikan pesan moral dalam sisi hitam manusia dibanding ‘Adiksi’ yang lebih ringan, yaitu cinta,” seru ROMO kepada MUSIKERAS.
O ya, ROMO sendiri merupakan proyek alter ego dari Hardi Arief Pambudi alias Dimensi Hardi, yang berkolaborasi dengan adik kandungnya, Candra Riadiyanto (Candra Kim) yang bertindak sebagai produser.
Kedua musisi ini, sebelumnya juga dikenal sebagai personel band rock asal Bekasi, Peraukertas.
Mistis, Filosofis
Lewat “Ambisi”, Hardi menegaskannya sebagai sebuah karya yang tidak sekedar untuk didengar, tetapi dirasakan hingga ke dalam ruang paling sunyi manusia yaitu batin.
Dengan balutan lirik puitis yang tajam dan simbolik, ROMO menggambarkan bagaimana manusia sering terjebak dalam ilusi pencapaian.
Mahkota yang diidamkan, singgasana yang dikejar, semuanya tampak megah di permukaan, namun menyimpan kehampaan yang menggerogoti dari dalam.
Perpaduan bahasa Indonesia dan Jawa dalam lagu “Ambisi” memperkuat nuansa mistis sekaligus filosofis. Bagian ‘Dalang’ menjadi titik klimaks naratif seolah suara batin yang akhirnya berbicara jujur, tanpa topeng, tanpa pembenaran.
“Ambisi” menjadi penguat dari perjalanan ROMO sebagai ‘suara bagi mereka yang tidak diberi tempat’. Mengangkat emosi yang sering dipendam dan realita yang sering dihindari.
Penyampaian lirik gelap itu lantas diperkuat peracikan komposisi serta aransemen yang membawa pendengar masuk ke atmosfer yang intens dan gelap, dengan dinamika yang naik perlahan hingga meledak di bagian chorus.
“Ini bukan lagu yang nyaman dan memang tidak dimaksudkan untuk itu,” cetus Hardi.
Dalam penggarapannya, ROMO menempatkan visi musikalnya searah dengan band-band mancanegara macam President, Motionless In White, Dayseeker hingga Sleep Token. Khususnya untuk referensi sound dan harmonisasi.
“Karena memang sedang mendengarkan mereka. Secara alam bawah sadar juga ada pengaruh. Yang pastinya ROMO juga akan tetap membuat lagu yang orisinal.”

Tanpa Batasan
Sedikit menengok ke belakang. Entitas ROMO, disebutkan Hardi, hadir melalui mimpi adanya sosok gelap berblangkon dengan aura merah terang yang terjadi berulang-ulang.
‘Sosok’ tersebut membuatnya resah karena seakan-akan ingin keluar ke dunia nyata. Dari situlah ide untuk memanifestasikan ROMO dan disalurkan melalui keagresifan alternative metal.
“Karena di genre ini entitas ROMO bisa mengeluarkan semuanya tanpa batasan,” ujar Hardi meyakinkan.
Lagu “Ambisi” sendiri diproduksi Hardi selama sebulan. Proses kreatifnya selalu dikerjakan pada tengah malam hingga fajar menyingsing.
“Karena saat itulah energi ROMO paling kerasa kental dan ide penulisan lirik mengalir deras. “
Semua proses produksi rekaman dilakukan di Sweetspot Music Studio yang juga merupakan istana pribadi RØMO.
Usai perilisan “Adiksi” dan “Ambisi”, Hardi berencana melepas satu lagu baru lagi, sebelum mengalihkan konsentrasi ke penggarapan album penuh berisi delapan lagu yang ditargetkan bisa rilis tahun ini juga.
“Ambisi” kini sudah tersedia di seluruh platform musik digital. Sementara video visualizer lagu tersebut bisa disaksikan via tautan kanal YouTube ini. (mudya/MK01)