ESH: Semburan Kritis Tanpa Kompromi

Akhirnya ESH rangkum keresahannya akan realitas pahit di sekelilingnya dalam bentuk protes legal di album mini (EP) debut “Ritus Mesin Terakhir”.
esh
ESH

ESH (אֵשׁ) gerak cepat memuntahkan EP perdananya. Tak butuh waktu berlama-lama, terhitung sejak memperdengarkan amunisi pembukanya, sebuah lagu rilisan tunggal bertajuk “Vox Populi” pada 3 April 2026 lalu.

“Ritus Mesin Terakhir” sendiri lahir di tengah tensi sosial politik Indonesia yang kian memanas. Bagi band asal Jakarta hasil gabungan para personel band Trendkill Cowboys Rebellion, Last Blood dan SVAR ini, EP tersebut bukan sekadar koleksi lagu.

Melainkan sebuah artefak audio yang merekam carut-marutnya kondisi demokrasi, represi aktivisme hingga krisis kemanusiaan global.

​Dalam durasi yang ringkas—rata-rata dua menit per lagu—ESH menggeber intensitas maksimal. Secara teknis, “Ritus Mesin Terakhir” adalah perkawinan antara agresi metal, hardcore punk dengan tekstur fuzz/big muff yang tebal.

“Dengan format singkat dan intens,” ujar vokalis M. Wildan (Will) kepada MUSIKERAS, “rilisan ini mengadopsi pendekatan ‘no excess’. Menggabungkan agresi musikal dengan pesan sosial yang eksplisit.”

“Setiap lagu berdiri sebagai potongan kritik yang padat, cepat dan konfrontatif. Lima lagu. 11 menit. Tidak ada kompromi!”

esh

Realitas, Konflik

Digarap secara mandiri di SVAR Studio, Jakarta dalam rentang waktu dua bulan di akhir 2025, album ini mengandalkan drumset minimalis dengan terapan tempo rata-rata 190 BPM.

Pengaruh dari nama-nama besar mancanegara seperti Every Time I Die, The Melvins, Cancer Bat, Rage Agaisnt The Machine hingga Disfear terasa kental.

Namun unit cadas yang juga dihuni gitaris Tarsugi (Ughie) dan Atalan Wiratama (Alan), dramer Yoga Adhystira Yusuf serta bassis Avip Saiful Falah ini tetap menjaga groove yang menjadi identitas utama ESH.

Terdapat lima trek yang mengisi daftar putar EP ini, yakni “Ritus Mesin Terakhir”, “Like, Share, Obey”, “Musuh Bersama”, “Vox Populi” dan “Netanyahu”.

​Di departemen lirik, ESH membedah realitas pahit. Di antaranya algoritma media sosial yang menjadi bahan bakar konflik, seperti yang diumbar di komposisi lagu “Like, Share, Obey”.

Hingga solidaritas tanpa syarat bagi perjuangan Palestina melawan kolonialisme yang dikoarkan di lagu berjudul “Netanyahu”.

​“Album ini adalah kendaraan pengganti demonstrasi di masa ketika kebebasan bersuara banyak dibungkam oleh rezim. Ini adalah protes legal dan valid dalam bentuk karya,” seru pihak band tentang esensi albumnya.

EP “Ritus Mesin Terakhir” sendiri dirilis via perusahaan rekaman AMPS Records, dan sudah dilempar ke pasaran digital sejak 1 Mei 2026 lalu.

Label rekaman ini, sejauh ini juga menaungi beberapa band metal berbahaya Tanah Air lainnya seperti: Beside dan Panic Disorder.

Kesamaan visi untuk membuat komunitas metal tumbuh berkembang dari pergerakan nyata berupa karya dan pergerakan kecil membuat ESH dan AMPS Records sepakat menjalin kerja sama.

Lewat ​“Ritus Mesin Terakhir”, ESH mengundang para metalhead atau pendengar untuk tidak hanya menyimak distorsinya, tetapi juga meresapi pesan yang diusung sebagai potret zaman yang sedang kita huni.

Lebih jauh tentang ESH juga bisa dibaca di tautan ini. (mudya/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
regu pemburu
Read More

REGU PEMBURU: Membunuh dari Dalam

Di amunisi terbarunya, “Labirin Pikiran”, Regu Pemburu mengungkap problema insomnia yang terus berulang setiap malam, yang terasa nyata dan liar.