Catalise mencoba keluar dari zona nyamannya di ranah metal generik atau post-metal. Mereka ingin membuat lagu yang lebih mudah di pendengaran siapa pun. Seperti yang mereka terapkan di lagu rilisan tunggal terbarunya, “Sihir”.
“(Tapi) Ternyata lebih sulit dari yang dibayangkan,” cetus unit metalcore modern asal Tangerang, Banten ini kepada MUSIKERAS.
Berbeda dibanding konsep yang membalut dua karya lepas mereka sebelumnya, yakni di lagu “Pain” (11 Oktober 2024) dan “Akankah” (5 Januari 2026), kali ini Catalise memberikan aksen yang lebih hangat dan mudah dicerna, namun tanpa meninggalkan ciri khas mereka yang gelap dan keras.
Lalu untuk meningkatkan daya terjang “Sihir”, band yang dihuni vokalis sekaligus produser Reza Amrullah, gitaris Taufik Ali Syahrir dan Danang Wahyu Lisdiantoro serta dramer Ilyas Fatchurahman ini lantas menggandeng vokalis tamu.
Seorang solois metal wanita bernama Mutiara (atau biasa ditulis Mvtiara). Sosok yang sebenarnya bukan orang baru di skena metalcore Tangerang. Kontribusi vokalnya memberi nuansa baru di komposisi “Sihir”.
“Kata eksperimen adalah latar belakang Catalise untuk menggaet female metal vocalist untuk memberikan warna tersendiri. Khususnya untuk clean vocal dari lagu ‘Sihir’,” tutur pihak band menegaskan.
“Liriknya yang lebih terasa bisa tersampaikan dengan baik ketika dibawakan oleh suara dari Mvtiara. Kami sangat senang dan puas dengan adanya formula yang berbeda untuk mengemas lagu ‘Sihir’ menggunakan suara vokalis wanita.”
Lagu “Sihir” sendiri ditulis oleh Reza Amrullah, yang tercipta dari keresahannya terhadap isu sosial terkait ketidakpastian dalam hidup yang dihadapi oleh sebagian masyarakat.
“Lirik dan musik dibuat lebih ringan dan meninjau progresi kord yang easy listening.”
Proses produksi dilakukan selama tiga bulan secara independen di rumah rekaman Sunrez Record, milik Reza Amrullah yang berlokasi di daerah Sepatan, Tangerang.

Smooth, Friendly
Kembali ke peracikan formula musikalnya, Catalise ingin agar ramuan “Sihir” yang mereka hadirkan juga bisa menjadi alternatif bagi pendengar musik di skena yang lain.
“Skena musik metal di Indonesia saat ini sudah sangat banyak varian dan sub genre-nya. Kami ingin menyajikan suatu musik atau lagu metal yang bisa lebih diterima dari pendengar secara umum. Dengan konsep yang lebih modern.”
Untuk mewujudkannya, antara lain mereka menyerap pengaruh serta inspirasi dari band-band mancanegara. Di antaranya mengambil nuansa dari Dayseeker, inspirasi lirik dari Normandie, lalu segi konsep dari Novelists, Jutes untuk tone hingga Bring Me the Horizon untuk pemetaan gagasan (mind map).
“Secara umum Catalise bisa dibilang mengusung genre alternative modern metal secara sound, bila meninjau dari sisi style musik, vokal, drum pattern serta tone gitar dan bass.”
Lebih jauh, berkenaan dengan skena metalcore di Indonesia, secara umum Catalise juga menunjuk konsep dari band lokal macam 510, W.A.I.T hingga Divide dan Sebuah Tawa Dan Cerita (STDC) sudah membawakan format yang menginspirasi Catalise.
Tapi menurut perspektif personal atau versi mereka, Catalise menandaskan bahwa mereka mengemas musik metalnya di “Sihir” cenderung lebih smooth dan friendly.
“Tanpa mengurangi rasa hormat kami pada senior-senior kami… ‘Sihir’ bisa didengar oleh penikmat musik yang bukan pendengar musik metal sekalipun.”
Tapi untuk mencapai target itu, bukan perkara mudah. Proses penyusunan struktur serta komposisi lagu, dirasakan sangat sulit oleh Catalise lantaran harus keluar dari zona nyaman mereka selama ini.
Ditambah lagi, saat memasuki tahapan mixing dan mastering, banyaknya referensi membuat tim produksi yang dipimpin oleh Reza cukup kewalahan untuk menentukan tone dan warna di sentuhan akhir lagu “Sihir” ini.
“Alhasil setelah ratusan kali revisi, kami menemukan hasil terbaik proses finalisasi lagu ‘Sihir’,” cetus Catalise mengungkap kelegaannya.
Usai peluncuran karya rekaman tunggal ketiganya itu, kini Catalise sudah menyiapkan peluru terbaru lagi, yang diproyeksikan rilis bulan ini.
Sementara untuk rencana jangka panjang, Catalise bakal melepas album mini (EP) tahun ini juga, dengan empat atau lima amunisi lagu di dalamnya. Tentunya dengan konsep dan benang merah yang memiliki keterkaitan dengan lagu “Sihir”.
Sejak 24 April 2026 lalu, “Sihir” sudah terhidang di berbagai gerai musik digital. Termasuk di kanal YouTube. (mudya/MK01)