ANOTHER VOICES Raungkan Sisi Gelap Deathcore

Selama setahun sejak merilis album mini (EP) “Eschatology”, para personel unit deathcore asal Bandung, Another Voices berembuk dan saling melempar ide untuk merancang cetak biru musik mereka selanjutnya. Hingga tercetuslah “Bipolar Disorder”, sebuah single yang menggiring Another Voices ke sisi gelap mereka, dengan distorsi yang lebih berat plus raungan lirik yang lebih sadis.

“Bipolar Disorder” mengupas sifat manusia yang mengutamakan hawa nafsu ketimbang akal sehat, yang ditegaskan lewat penggalan lirik ‘Come on come here and spend the time with me. Are you scared? Oh, Are you scared?’ yang terdengar sangat mengintimidasi para pendengarnya.

“Lagu tersebut adalah sebuah pencapaian baru bagi Another Voices,” cetus vokalis Another Voices, Ical Sukarya kepada MUSIKERAS.

Menurut Ical, selain mengganti gitar enam senar ke delapan senar, segi vokalpun berubah drastis. Juga, mereka cenderung bermain teknikal yang cepat namun tanpa melupakan elemen sequencer. “Berbeda dibanding materi di album mini ‘Eschatology’ yang cenderung lembut dan ringan. Jika ‘Eschatology’ adalah cahaya, maka ‘Bipolar Disorder’ adalah sisi gelapnya!”

Formasi Ical, Regi Lazuardi (dram), Danny Saputra (gitar), Wildan (gitar) dan Gerry (bass) menggarap proses rekaman “Bipolar Disorder” dalam kurun waktu yang cukup panjang. Diawali dengan proses brainstorming selama kurang lebih tiga bulan, sebelum siap untuk rekaman. Mereka lantas mengeksekusi rekamannya Autumnwave Records, sebuah studio yang dikelola oleh Another Voices sendiri. Selanjutnya, mereka butuh waktu sekitar tiga sampai empat bulan lagi untuk meyakinkan bahwa “Bipolar Disorder” telah siap dirilis. Maklum, single tersebut sempat mengalami perombakan total ketika proses rekaman tinggal menyisakan vokal.

“Mendapat inspirasi saat mengendarai motor, Regi langsung menghubungi Danny untuk merombak total ‘Bipolar Disorder’. Tidak hanya instumen, hal unik pun terjadi saat penulisan lirik. Lirik ‘Bipolar Disorder’ yang sangat mengintimidasi, layaknya psychopat ini ternyata ditulis Ical saat mendengarkan lagu ‘Bonfire’, dari band alternative rock/britpop asal Bandung, Stranges. Lagu yang terkesan riang gembira itulah yang menginspirasi lirik sadis ‘Bipolar Disorder’.”

Keliaran distorsi deathcore menjadi penyempurna kesadisan “Bipolar Disorder’. Genre ini, disebut Another Voices sebagai jiwa bagi para personelnya. “Musik cepat dengan breakdown dan dibalut nada harmoni adalah sebuah orgasme bagi kami. Terlalu banyak kata untuk mendeskripsikan deathcore yang sudah menjadi candu bagi kami,” seru Ical menegaskan.

Meskipun mengakui sedikit banyak terinspirasi dari beberapa band luar negeri seperti Born Of Osiris, Veil Of Maya, Whitechapel, Fleshgod Apocalipse dan Infant Annihilator, namun Another Voices bertekad tetap menjadi diri sendiri, dan menempatkan pengaruh-pengaruh tadi sebagai jalan untuk menemukan jati diri. “Kami sangat mengedepankan originalitas, karena cita-cita Another Voices adalah menjadi trend setter, bukan menjadi follower.”

Karir Another Voices mulai menggeliat pada 2015, dengan nama awal, Screaming Never Ending. Band ini terbentuk dari pertemanan formasi awal Regi, Gerry, Ridwan dan Robby di bangku SMA. Nama Another Voices lantas dipatenkan sebagai nama baru setelah vokalis Robby mengundurkan diri. Penggantinya, Ical dari band Early December lantas direkrut dan langsung berkontribusi di penggarapan EP “Eschatology”.

Perilisan “Bipolar Disorder” sendiri menjadi single pembuka menuju penggarapan album baru yang rencananya akan dibuat terkonsep dari segi lirik. “Sedikit contekan, bahwa materi di album baru nantinya akan menjadi sebuah cerita. Tidak aneh memang, namun kami akan berusaha sekeras mungkin agar materi yang berkesinambungan satu sama lain ini tidak ‘garing’ di mata pendengar.” (mdy/MK01)

.

 

1 comment
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.