“Kami tidak pernah ingin terbatas dalam hal apa pun, kami tidak ingin menjadi diri kami sebelumnya. Kami harus diantisipasi…!”
Sebuah pernyataan yang sangat tebal dari trio cadas segar asal Jakarta, Belantara. Mereka – Renaldi A. Rimbatara (gitar), Septian Maulana (vokal) dan Supriono “Lyle” (dram) – baru saja menuntaskan dan melepas sebuah album debut bertajuk “Communion” via label Lawless Jakarta Records, tepatnya pada 12 Juli 2018 lalu. Album berisi sembilan trek berasap tersebut memercikkan distorsi heavy metal dengan nuansa rock progresif, plus riff-riff sludge metal yang berat dan juga sedikit black metal di dalamnya. Belantara tidak takut dengan eksperimentasi.

“Beberapa orang bilang pada awalnya kalau kami berubah-ubah, tapi sampai pada akhirnya kami merasa ada benang merah dan kami tetap bersenang-senang dengan perubahan-perubahan dari segi musikalitas,” cetus personel Belantara kepada MUSIKERAS, menegaskan.
Mereka melanjutkan, bahwa sebelum lahirnya Belantara, masing-masing personel pernah memainkan musik death metal dan musik cepat, dan kini mereka mencoba keluar dari jalur nyaman itu. “Sekeras mungkin kami memainkan rock, tapi akhirnya kami gagal dan kami tetap memainkan metal cepat dan rumit… hahaha. Pada intinya kami tetap berusaha, mungkin saja di album selanjutnya kami berharap memainkan musik ska atau jazz, atau avant garde, tapi kami yakin kami akan tetap gagal.”
Ya, sekadar catatan, sebelum tergabung di Belantara, gitaris Renaldi pernah menghuni unit metalcore, Straightout. Sementara vokalis Septian Maulana dulunya memperkuat formasi unit metal senior, Siksa Kubur. Sementara dari sisi musikalitas yang diterapkan di Belantara, mereka mengaku banyak terpengaruh band-band keras dunia seperti Tool, Satyricon, Carach Angren, Neurosis, Totimoshi, Furia, High On Fire, Hirax hingga Enslaved. Atau bahkan juga dari barisan non-metal macam Talking Heads, Feist, Covet serta Captain Beefheart and his Magic Band.
Belantara pertama kali merekam dan merilis demo pertamanya pada 2014, sekitar dua tahun setelah terbentuk. Berangkat dari situ, mereka terus bereksperimen yang lantas membentuk wujud album “Communion”, di mana mereka berbicara tentang ketidakseimbangan fungsi hubungan manusia dengan manusia atau pun dengan alam dan dengan perspektif spiritual, serta juga bagaimana menjadi manusia. Ketiga personelnya mengakui pengerjaan album debut tersebut cukup lama.
“Prosesnya cukup panjang dan memakan waktu selama dua tahun. Singkat cerita kami mengalami kendala di proses rekaman yang mengharuskan kami kembali mengulang tracking dari 0% di studio yang berbeda. Karena itulah ‘Communion’ adalah kata yang paling tepat mewakili perjalanan album debut kami. Dari masalah teknis audio hingga artwork untuk sampul yang berganti dari satu artis ke beberapa artis lain,” urai pihak band lebih lanjut.
Kendati demikian, mereka sangat menikmati proses penggarapan semua lagu yang ada di album tanpa terkecuali. Walau ada beberapa komposisi seperti lagu “Holy River: The Bathyalpelagic” yang membutuhkan energi dan waktu ekstra. “Karena di sini kami melibatkan beberapa teman-teman dari Teater Lentera yang mereka akui tidak pernah sama sekali bersentuhan dengan metronome. Tidak ada latihan sama sekali, jadi langsung hajar di studio.”
Kolaborasi lainnya juga tereksekusi di lagu “Latar Kendali” dan “Nalam Rimba”, dimana Belantara melibatkan Adhytia Perkasa (dramer Siksa Kubur) yang menyumbangkan permainan berkarakter perkusif. Sementara di lagu “Latar Kendali” juga ada kocokan gitar dari Biman (Raja Singa).
Jika harus menyayangkan, ada satu lagu berjudul “Lonely Mountain” yang gagal disertakan dalam kemasan “Communion”. Padahal menurut mereka, lagu itu yang tadinya direncanakan bakal menjadi single. “(Lagu itu) Sudah terekam dengan baik, tapi ada kendala teknis di audio yang menyebabkan lagu ini sangat berbeda dibanding audio lagu-lagu lainnya. Too bad but we’re too excited!”
Sebelum merilis “Communion” yang dirilis dalam format cakram padat, Belantara telah lebih dulu meluncurkan single pertama, “Hollow Eyes” pada 3 Juli 2018 lalu via akun SoundCloud label Lawless Jakarta Records dan langsung mendapat respon positif dari skena musik cadas Tanah Air. (mdy/MK03)
.